BlogKakTri
Lifestyle Blogger, Talk About Blogging, Parenting,Traveling, Tips, Review, and Lifestory by Triyatni Ashari

[Cermin] Dongeng Negeri Godhong

Tanaman di kepala kotak tersebut tidak bisa dipotong, karena terhubung langsung dengan jaringan otak. Tapi bisa berkurang jika mereka belajar dan ber
dongeng


Alkisah, ada sebuah negeri kecil bernama Negeri Godhong. Godhong memiliki arti "daun". Nama tersebut disemat mungkin karena alasan negeri tersebut sangat subur dan makmur. Uniknya, bukan hanya negerinya yang subur, namun warganya juga.

Di negeri tersebut, masyarakat memiliki kontur kepala yang kotak. Selain itu, dari kepala mereka akan tumbuh bermacam-macam bunga dan tanaman, sesuai dengan tingkat penggunaan otak mereka. 

Semakin rajin mereka menggunakan 'otak' mereka untuk belajar, maka semakin sedikit tanaman yang tumbuh. Ketika mereka jarang berpikir dan malas belajar, maka akan semakin banyak tanaman yang tumbuh di kepala mereka. Hingga bisa memenuhi seluruh kepala kotak mereka. 

Kesimpulannya, tanaman akan tumbuh subur pada otak yang jarang digunakan. Seperti halnya tanah yang tidak dimanfaatkan, akan menumbuhkan banyak tanaman dan rumput liar.

cerpen fantasi


Tanaman di kepala kotak tersebut tidak bisa dipotong, karena terhubung langsung dengan jaringan otak. Tapi bisa berkurang jika mereka belajar dan berpikir. Jika yang dilakukan tidak ada atau hanya bersantai tanpa belajar, maka tanaman akan semakin lebat.

Karena hal tersebut, terlihatlah kapasitas keilmuan 'otak' mereka masing-masing. Mereka tahu dari cerita-cerita yang tersebar, kalau dulu mereka sebenarnya tidak seperti ini. Keadaan mereka adalah kutukan yang akhirnya mau tidak mau mereka terima.

Raja Yektos, yang mulai bingung melihat kepala wargannya akhirnya membuat kebijakan dengan mengumpulkan mereka di alun-alun.

"Wargaku, melihat kondisi banyak sekali bahkan mayoritas masyarakat yang mulai tidak bisa dikenali wajahnya, saya akan membuat kebijakan baru," kata Raja Yektos di alun-alun.

"Semua warga wajib mengikuti sekolah, wajib melakukan aktivitas yang berkaitan dengan berpikir, pada jam-jam yang telah ditetapkan," lanjut Raja Yektos menjelaskan.

Warga saling berbisik-bisik. Ada yang pro, ada yang kontra. Warga yang pro adalah orang-orang yang memang rajin belajar, dan merasa terganggu dengan orang-orang yang tanaman di kepalanya semakin lebat, hingga organ mata, mulut, maupun telinganya sulit terlihat.

Adapun warga yang kontra adalah warga yang merasa tidak melakukan hal yang merugikan orang lain. Itu pilihan hidup masing-masing, dalih mereka.

"Keputusan ini adalah mutlak, bagi orang yang ketahuan tidak belajar di jam sekolah, maka akan diasingkan ke negeri lain!"

Kalimat terakhir Raja Yektos berhasil membuat diam warga yang sedari tadi asyik sendiri. Kini mereka tampak tegang, mereka tahu, diasingkan adalah kata lain dari mati pelan-pelan. 

Karena negeri mereka juga tersembunyi, jauh dari peradaban luar. Jadi bisa dipastikan mereka akan ditolak jika ke negeri luar.

Warga pun kembali ke rumah mereka masing-masing dengan perasaan yang bermacam-macam.

Esok hari, Dhestar, seseorang yang termasuk berada di pihak kontra dengan Raja mengumpulkan massa. Mereka berpikir bahwa keputusan raja sangat menyiksa mereka yang lebih senang bersantai dibanding belajar. Mereka juga kesal dengan pemerintahan Raja yang turun temurun.

"Tidak adil!" Begitu menurut mereka. Mereka akhirnya berencana membuat kudeta. Benar saja, kekuatan mereka yang banyak berhasil menurunkan Raja Yektos. Mereka pun mengusulkan pemilihan umum dalam pemilihan pemimpin berikutnya.

Hasil pemilu bisa ditebak, Dhestar yang dari awal sudah menjadi penggerak akhirnya menang pemilu dengan mayoritas pendukungnya. Dhestar sebagai Raja Negeri Godhong mengeluarkan kebijakan baru.
"Negeri kita semakin modern! Biarlah kebebasan setiap orang menentukan jalannya."

Jika ada yang suka belajar silakan. Jika ada yang malas belajar silakan. Selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. Semua orang berhak dengan keputusannya. Pilihan terbaik adalah pilihan kalian sendiri," kata Raja Dhestar memberi pidato pertama.

Masyarakat bertepuk tangan, mereka menyukai keadilan yang diberikan Raja Dhestar.
Seiring waktu, banyaknya orang yang malas belajar membuat banyak orang yang wajahnya tertutupi tanaman hingga semak belukar. 

Bahkan mereka sudah bisa jalan tanpa melihat karena organ wajah mereka yang sudah tertutupi dengan tumbuhan beraneka ragam. 

Selain itu, orang yang selama ini senang belajar juga satu-persatu mulai malas belajar. Pengaruh mayoritas lingkungan membuat mereka mulai ikut tergoda.

Suatu ketika, ada sekelompok orang dari negeri luar yang tanpa sengaja menjejakkan kaki di Negeri Godhong. Mereka berniat menjajah negeri tersebut karena negeri itu kaya dan subur. Mereka berpura-pura prihatin kepada warga Godhong dan menawarkan obat yang bisa menghilangkan tanaman di kepala mereka tanpa belajar. Tentu mereka sangat senang. 

Mereka pun dengan senang hati menerima. Namun ternyata obat tersebut justru semakin membuat mereka semakin malas, bahkan tidak mau bergerak.

Karena banyak yang sudah tidak mampu melihat dengan baik, mereka tidak curiga sama sekali dengan pendatang karena tidak tahu keadaan sekitar mereka. Akhirnya negeri itu pun dikuasai oleh pendatang tersebut. Entah sampai kapan.

Cermin (Cerita Mini) ini ditulis oleh @pohontomat (Triyatni Ashari)

Cermin ini dipublikasi ulang. Sebelumnya saya tulis di blog lama saya yang kini sudah saya tutup (belum pernah dipublikasikan di media lain). Dulu cermin ini dibuat dalam rangka #katahatichallenge saat tema dalam sebuah tantangan membuat sebuah tulisan berkaitan dengan gambar yang disediakan.

Posting Komentar

Jika Anda pengguna blogger, harap membuat publik profil blogger sebelum berkomentar agar tidak broken link ya.

Sebaiknya jangan anonim agar bisa saling mengunjungi ...

Komentar muncul setelah dimoderasi.
Terima kasih telah membaca dan berkomentar 😊

Salam kenal ...