3 Hadits Tentang Hak Perempuan yang Jarang Dibicarakan (Mini Book Review)

Membahas soal perempuan memang tidak pernah ada habisnya. Ada saja yang menarik untuk disimak. Beberapa komunitas maupun LSM dibangun untuk menjunjung tinggi hak-hak perempuan. Karena berdasarkan fakta di lapangan, perempuan sering menjadi korban dari kekerasan.

Secara fisik, memang laki-laki diciptakan lebih kuat dibanding wanita. Meski tidak semua.

Namun kini dalam beberapa kategori, pekerjaan apapun kini bisa dilakukan oleh wanita. Mulai dari yang harus menggunakan otak, hingga menggunakan otot. 

Tapi kita tidak membicarakan perempuan hanya dari sekadar fakta dan akal yang tersedia. Lebih dari itu, ada hak-hak yang sudah ada sejak dulu namun terabaikan dan terlupakan.

Hak-hak yang sudah dicontohkan Rasulullah sebagai Suri Teladan. Baik dalam bentuk ungkapan maupun perbuatan yang kemudian tertuang ke dalam hadits. 

Hadits tersebutlah yang harusnya menjadi salah satu rujukan umat Islam bagaimana memperlakukan perempuan. 

Nah, 3 hadits yang akan saya paparkan hanya sebagian kecil dari buku yang kebetulan sedang saya baca. Buku tersebut berjudul "60 Hadits Shahih: Khusus Tentang Hak-hak Perempuan dalam Islam DIlengkapi Penafsirannya". Buku ini ditulis oleh Ustadz Faqihuddin Abdul Kodir atau biasa dipanggil Kang Faqih

Lantas apa saja ketiga hadits tentang Hak Perempuan tersebut? Berikut akan saya pilih dari beberapa kategori yang ada:

1. Hak Perempuan Disambut dengan Ceria (Hal. 60)

'Aisha Ra. berkata, "Nabi Muhammad Saw. sering menyambut putrinya Fatimah Ra. (yang berkunjung), 'Selamat datang, Putriku." Ummu Hani juga berkata, "Ketika aku mendatangi Nabi Muhammad Saw., ia pasti menyongsong, "Selamat datang Ummu Hani." (Shahih al-Bukhari).'

Berdasarkan hadits tersebut, terlihat betapa Rasulullah sangat senang menyambut anak maupun istrinya dengan sukacita. Bahkan di hadits lain disebutkan, Rasulullah menyambut perempuan-perempuan lainnya pun demikian. 

Berbeda dengan sejarah orang-orang Arab yang pada saat itu tidak menganggap keberadaan perempuan, tidak diajak bicara, dan tidak dilibatkan dalam diskusi dan tidak disambut dengan sukacita. Padahal dengan menunjukkan keceriaan, hal tersebut akan memberikan dampak positif dalam relasi dan psikologi.

Sebagai seorang ibu dan seorang istri, saya tahu betul bahwa rasa bahagia karena dibutuhkan dan disambut ceria adalah salah satu kekuatan dan pengobat lelah. 

Jadi bukan hanya suami yang disambut ceria, seorang istri pun butuh yang demikian. Karena keduanya adalah kebutuhan universal, dan juga baik laki-laki dan perempuan, bukan hal yang sulit melakukan hal tersebut untuk pasangannya. Tidak mahal, tidak butuh tenaga, hanya butuh ketulusan dan senyuman.

2. Islam Mengakui Kerja-kerja Perempuan di Ruang Publik (Hal. 78)

'Abu Hurairah Ra. berkata, "Ada seorang perempuan kulit hitam yang biasa membersihkan masjid. Suatu hari, Nabi Muhammad Saw mencarinya dan menanyakan kabarnya selang beberapa hari. Ketika disampaian bahwa ia telah meninggal dunia, Nabi Muhammad Saw. kaget, "Mengapa kalian tidak memberitahuku?" Kemudian Nabi Muhammad Saw. mendatangi kuburannya dan shalat di atasnya.' (Sunan Ibn ajah).

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa para sahabat tidak menceritakan kematian perempuan itu kepada Nabi Muhammad Saw. karena mereka meremehkannya. Sebaliknya, Nabi Muhammad Saw. ingin menggugah kesadaran mereka dan menunjukkan betapa besar posisi perempuan tersebut. 

Dari contoh di atas, betapa perempuan tidak apa ikut bekerja di ruang publik. Selama itu hal baik dan tidak melanggar syariat. Bahkan dulu di masa Nabi Muhammad Saw. juga terkenal ada perempuan penggembala, perempuan pekebun, dan masih banyak lagi yang kesemuanya bekerja di ranah publik (lebih lengkap di bahas juga di buku  "60 Hadits Shahih: Khusus Tentang Hak-hak Perempuan dalam Islam DIlengkapi Penafsirannya").

3. Perempuan Boleh Berpendapat (Hal. 82)

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Umar bin Khattab meminta izin kepada Rasulullah, sementara itu dalam majelis beliau banyak sekali wanita-wanita Quraisy yang bicara kepada beliau dengan suara keras yang melebihi suara beliau. Ketika Umar bin Khattab meminta izin masuk, maka mereka bangkit dan buru-buru mengenakan hijab (penutup seluruh tubuh) kemudian Rasulullah mengizinkannya masuk, maka Umar masuk sementara Rasulullah tertawa, maka ia berkata, ‘Semoga Allah membukakan gigimu (untuk tertawa) wahai Rasulullah.”

Nabi Saw bersabda, “Aku kagum dengan wanita-wanita yang berada dalam majelisku ini, tatkala mereka mendengar suaramu maka dengan cepat mengenakan hijabnya.”

Umar berkata, “Padahal engkau paling berhak ditakuti oleh mereka, wahai Rasulullah.” Kemudian Umar melanjutkan, “Wahai musuh-musuh diri kalian sendiri, apakah kalian takut kepadaku dan tidak takut kepada Rasulullah Saw?”

Mereka menjawab, “Ya, sebab engkau lebih tajam (kata-katanya) dan lebih keras dari Rasulullah Saw.”

Dalam hal ini, terlihat bahwa perempuan merasa nyaman berpendapat di depan Rasullah, karena perangai Rasulullah yang lembut. Sudah seharusnya dalam kehidupan masa kini, ketika ada perempuan berpendapat, juga didengarkan dan tidak diremehkan. Bukan sebaliknya. 

Syukurnya sekarang semakin banyak yang menghargai pendapat perempuan meski masih terjadi hal yang tidak demikian di tempat-tempat lain.

Bahkan dalam hadits lain dikatakan, ketika seorang perempuan mengadu tidak sanggup lagi bersama suaminya, Rasulullah mengizinkan untuk dia meminta cerai, asal dia mau mengembalikan mahar. Itu juga bisa menjadi rujukan, bahwa untuk memutus kontrak pernikahan, keduanya memiliki hak yang sama.(hal. 163).

hadits tentang hak perempuan

Kesimpulan

Ada lagi beberapa hadits tentang jika perempuan bekerja menafkahi keluarganya, itu bukanlah sebuah hal yang terlarang, melainkan mendapatkan pahala. Karena itu adalah tanggyung jawab bersama. Termasuk dalam ranah domestik juga tanggung jawab bersama.

Jadi teringat teman online yang dinikahi pria Afrika muslim. Di sana mereka memiliki "kebiasaan" suami yang melayani istrinya. Suami yang wajib berbelnaja ke pasar, suami yang bangun masak dan mencuci. Istri-istri mereka dilayani selaiknya ratu. Namun teman saya itu karena masih membawa kebiasaan dari Indonesia, dia juga tetap memasak untuk suaminya. Justru malah tercipta kesalingan yang romantis bukan?

Sebenarnya masih banyak sekali hak-hak atas perempuan yang dibahas dalam buku ini. Buku "60 Hadits Shahih: Khusus Tentang Hak-hak Perempuan dalam Islam Dilengkapi Penafsirannya" ini saya rasa wajib dibaca oleh siapapun, agar memahami hakikat menghormati dan menghargai hak perempuan bukan hanya sebuat etika yang baik secara hati dan moral, melainkan kewajiban yang harus dijalankan berdasarkan contoh yang diberikan Rasulullah dulu. Semoga sedikit mini review ini bisa bermanfaat. Aamiin. 

Untuk yang ingin mengikuti Kajian Intensif Ramadhan, bisa klik gambar di bawah ini:



Next Post Previous Post
5 Comments
  • Karimah Iffia Rahman
    Karimah Iffia Rahman 8 Apr 2021 18.29.00

    menarik sekali ulasannya kak tri, baca hadits yang menyambut perempuan dengan ceria, aku jadi teringat almarhum ayahku, beliau selalu bertanya "mau dibelikan apa?" setiap aku baru sampai di jakarta... masya allah... lahul fatihah

  • Reyne Raea / Rey
    Reyne Raea / Rey 14 Apr 2021 14.41.00

    Menarik banget ya, mengingat zaman dahulu perempuan itu bahkan dianggap sebagai pelengkap, bukan ding tapi sebagai bagai budak.

    Jadi tugasnya hanya melayani, melayani dan melayani.

    Tapi syukurlah di zaman sekarang meskipun masih ada beberapa paham-paham yang menyesatkan tentang keterbatasan perempuan, tapi lebih baik daripada dahulu, terlebih Islam mengakui hal itu.

  • Moch. Ferry Dwi Cahyono
    Moch. Ferry Dwi Cahyono 14 Apr 2021 22.16.00

    Nisa atau perempuan mendapatkan tempat khusus di Al Quran. Peranannya sebagai ibu dan wanita sangat penting. Sumbangsih artikelnya membuka ruang tsaqofah Islam.

  • Fenni Bungsu
    Fenni Bungsu 14 Apr 2021 22.19.00

    Penyambutan dengan ceria tidak hanya kepada tamu ya, perempuan pun berhak mendapatkannya, karena bisa membuat bahagia jiwa pastinya

  • Retno Kusumawardani
    Retno Kusumawardani 15 Apr 2021 19.09.00

    tentang perempuan yang bekerja di ruang publik ini yang tidak pernah terdengar gaungnya ya mbak, lebih banyak yang bicara kalau perempuan harus di rumah saja. Padahal asalkan semua pada porsinya, perempuan di ruang publik pun tak menjadi masalah..

Add Comment
comment url