Tentang Memaafkan dan Healing Process (Ruang Pulih Journey Part 4)

Alhamdulillah sekarang sudah berlanjut ke part 4, saya akan membahas soal Parade 4 Webinar Inner Child bersama Ruang Pulih. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Ruang Pulih, IIDN dan SEO Moms. Dari IIDN ada Mbak Widya selaku ketua IIDN, dan perwakilan atau kordinator wilayah dari SEO MOMS ada Mbak Wiwin. 

Di kegiatan ini kami tidak hanya mendapatkan akses gratis webinar untuk Parade Inner Child, tapi kami juga mendapatkan buku Luka Performa Bahagia yang ditulis langsung oleh founder Ruang Pulih Mbak Intan, bersama Mas Adi Prayuda. Nanti akan saya buat sesi khususnya sendiri untuk buku tersebut. 

Kali ini tema webinar adalah "Kecerdasan Emosi Inner Child Mencipta Kebahagiaan?" Ada dua pemateri, yaitu Mbak Naftalia K. & Mas Anthony Dio Martin. Sesi pertama dimulai dari Mbak Naftalia. Sesuai tema, kita masih akan berbicara tentang inner child. Namun menariknya, selalu saja ada bahasan baru di setiap pemateri. Apa saja bahasan kali ini? Yuk langsung kita paparkan.

Coach Naftalia: Memaafkan itu Tahap Akhir

Siapa sih di sini yang tidak pernah merasa sakit hati atas perlakukan orang lain? Mungkin kita pernah menjadi korban, namun bahkan bisa jadi pernah jadi pelaku yang secara sadar atau tidak sadar menyakiti orang lain. 

Pada webinar kali ini, Coach Naftalia menjelaskan soal esensi dari memaafkan itu sendiri. Kata beliau, memaafkan itu melepaskan tapi tidak melupakan. Karena dari tinjauan biologis, itu hal yang tidak mungkin. 

Yang bikin sulit, kita tidak tahu apa yang harus dimaafkan. Apakah perbuatannya kah, perasaannya, atau orangnya? Kita tidak tahu mulai dari mana memaafkan karena mungkin terlalu menyedihkan. Tidak gampang karena memaafkan adalah tahap terakhir, bukan di tahap pertama. 

Tahap pertama yang harus kita ketahui adalah bahwa kita harus menerima dulu akan kejadian buruk, atau orang buruk yang ada di sekitar kita. Misalnya kita punya orang tua (maaf) tidak sesuai keinginan kita, maka kita harus menerima dulu kalau kita tidak bisa memilih orang tua kita. Hal tersebut saja butuh proses yang cukup lama, apalagi proses memaafkan itu sendiri. 

Jika ingin memafkan, kita ibaratnya pegang sesuatu kertas dulu. Kalau mau nulis ya harus dipegang dulu kertasnya. Tidak bisa nulis di kertas kalau tidak pegang kertas. Paparkan apa yang mau kita tulis. Terima dulu kertasnya. Bukan berarti menerima penganiayaan, tapi menerima peristiwanya jangan sampai denial

Tahap memaafkan menurut Coach Naftalia:

1. Menerima perasaan

2. Mengakui perasaan yang muncul

3. Memaafkan 

"Seburuk apapun, kita punya kendali. Karena Tuhan menyediakan itu. Hidup ini pilihan, punya konsekuensi. Solusi terletak di masalahnya." - Coach Naftalia

Coach Antohy: Pengalaman Hidup yang Menakjubkan

Pada webinar selanjutnya, hadir Coach Anthony yang begitu energik dan awet muda. Beliau ternyata banyak memiliki buku yang telah ditulis. Beliau menceritakan bagaimana kisah hidup dahulu. 

Beliau sangat kurang, dan sudah menjadi yatim. Pernah beliau ingin minta bantuan ke paman, namun paman beliau justru merendahkan bahkan pernah ditendang. Juga, masih banyak lagi cerita-cerita menakjubkan lainnya sehingga sempat di kelas 6 SD beliau ingin bunuh diri. 

Beliau mengatakan, kejadian buruk tersebut justru membuat beliau termotivasi menjadi sekarang ini. Kalau lihat dari sudut pandang berbeda, kita bisa melihat hal lain. Kita bisa belajar kalau misalnya dengan kejadian berat tersebut membuat beliau justru lebih bersemangat untuk mengubah nasib. 

Penderitaan dan kesulitan beliau tidak hanya berhenti di saat kecil. Hingga kuliah pun banyak rintangan. Meski kuliah di luar negeri, ternyata realitanya tidak seindah yang dibayangkan. Terkadang kita melihat orang keren, padahal kita tidak lihat perjuangan di belakangnya. 

Ingat baik-baik, bahwa masa kecil bisa memengaruhi masa depan kita. Bagaimana masa kecil bisa memengaruhi masa depan? Karena kita selalu fokus dengan rasa sakit saat masa kecil. Celakanya banyak yang tidak bisa melepaskan diri. Terus terbelenggu dengan masa lalu. Karena kejadian masa kecil hingga akhirnya tidak bisa bebas merdeka. 

Sudah sejatinya manusia pasti akan terus mengingat hal-gal yang tidak menyenangkan. Misalnya kita 49 kali berbuat baik, 1 kali berbuat jahat pada seseorang, pasti yang akan diingat adalah perbuatan jahat kita. Ada 49 bilang kita keren, tapi ada 1 orang yang bilang kita jelek, mana yang kita ingat? Itulah manusia.

Sebelum lanjut, perlu kita tahu apakah kita sudah selesai dengan masa lalu atau masih berkutat. Lalu bagaimana caranya tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres di kehidupan kita? Bagaimana cara tahu kejadian masa lalu masih menghantui alias masih belum selesai?

  • Ruminating. Kita masih sering memikirkan masalah tersebut berulang-ulang
  • Dampak emosional  masih tinggi jika dipikirkan (menangis, kemarahan tinggi, keinginan membalas, dll.)
  • Tiba-tiba perasaan itu muncul (tidak terkendali)

Masa lalu yang tidak beres, akan merampok masa depan kita. Manusia hidup di masa lalu, dan harapan ada di masa depan. Orang-orang yang alcoholic, drugs, bunuh diri dan masih banyak lagi bisa jadi karena masa lalu yang tidak selesai.

 Lalu tipsnya bagaimana agar bisa sembuh? Kita bisa terapkan yang namanya HEALING PROCESS. Apakah healing process itu? Healing yang terdiri dari kata H E A L, bisa diurai seperti berikut:

Have Hove (Punya Harapan): Ketika kita punya harapan, kita tahu arah ke mana kita nantinya. Kita bisa fokus untuk mewujudkan harapan kita. 

Examine your Life Line (petakan garis hidup): Saat kita di atas, waspada untuk turun. Saat di bawah munculkan rasa optimis untuk naik. 

Assist Your Wounded Inner child (menemani kanak-kanak kita yang terluka): Cara menemani inner child yang terluka bisa dengan self writing, self talking, atau self educating. Menulis kepada diri sendiri itu boleh banget untuk menguatkan diri.

Live for o Others (hidup buat orang lain): Jika kita hanya hidup untuk diri sendiri, kita punya potensi untuk gila. Ketika kita belajar memikirkan orang, sebenarnya kita menolong diri kita sendiri. Dan itulah yang dilewati beliau karena hal tersebut membantu diri beliau. 

Kesimpulan

Melewati berbagai Parade Inner Child ini membuat saya sedikit mulai paham mengenai kesehatan mental, khususnya inner child itu sendiri. Terkadang kita gampang mengatakan saya yang benar dan kamu yang salah. Padahal, itu belum tentu membantu kita untuk sembuh. 

Kita tidak perlu langsung memaafkan, ambil waktu jeda, dan mulai mengubah pola pikir. Berkaitan dengan memaafkan, meski sulit, memaafkan memiliki manfaat luar biasa untuk diri sendiri maupun orang lain. Happy Healing!

Ilustrasi: unsplash.com


Next Post Previous Post
2 Comments
  • Erly Damayanti
    Erly Damayanti 16 Okt 2021 07.52.00

    Memaafkan kalimat sederhana tapi sarat makna, sebab sebelum memaafkan perlu keikhlasan melepas amarah dan kebencian terlebih dahulu

  • Najwa Zachrani
    Najwa Zachrani 16 Okt 2021 11.11.00

    Inner Child pengaruhnya sangat besar ya ternyata bagi kehidupan seseorang

Add Comment
comment url