BlogKakTri
Lifestyle Blogger, Talk About Blogging, Parenting,Traveling, Tips, Review, and Lifestory by Triyatni Ashari

Bicara Energi Terbarukan, Minyak Jelantah Ternyata Memiliki Peran!

Energi terbarukan adalah sumber daya alam yang dapat diperbaharui secara alami dan tidak habis jika dimanfaatkan dengan benar.

Halo semuanya. Balik lagi mau bicara soal isu lingkungan nih.Udah pernah dengan energi terbarukan? Nah kemairn aku ikutan Online Gathering bersama Eco Blogger Squad kolaborasi dengan @tractionenergy dengan tema “Mengulik Energi Terbarukan yang Sedang Ramai" pada Jumat, 17 November 2023. Sebenarnya apa sih energi terbarukan? Apa saja yang termasuk energi terbarukan? 

Apa Saja Contoh dari Energi Terbarukan?

Energi terbarukan adalah sumber daya alam yang dapat diperbaharui secara alami dan tidak habis jika dimanfaatkan dengan benar. Jadi bahasa sederhananya, sumber energinya bisa diperbarui secara terus menerus, yang tentunya dapat membantu mengurangi emisi dan lebih ramah lingkungan. Pemanfaatan sumber energi terbarukan membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Energi terbarukan ada berapa? Berikut adalah beberapa contoh energi terbarukan:

▶ Energi Matahari (Solar):

Energi matahari diperoleh dari sinar matahari dan dapat diubah menjadi listrik menggunakan panel surya. Panel surya terdiri dari sel fotovoltaik yang mengubah energi matahari menjadi listrik secara langsung.

▶ Energi Angin (Wind):

Turbin angin dapat mengonversi energi kinetik angin menjadi energi mekanis atau listrik. Angin menggerakkan bilah-bilah turbin, yang kemudian memutar generator untuk menghasilkan listrik.

▶ Energi Hidro (Hydropower):

Energi air dapat dimanfaatkan dengan memanfaatkan energi kinetik atau potensial air. Bendungan atau pembangkit listrik tenaga air dapat mengonversi energi air menjadi listrik.

▶ Energi Biomassa:

Biomassa mencakup bahan organik seperti kayu, limbah pertanian, dan limbah organik lainnya. Biomassa dapat digunakan untuk menghasilkan panas atau listrik melalui pembakaran atau proses kimia seperti gasifikasi.

▶ Energi Geotermal:

Energi geotermal berasal dari panas bumi yang terperangkap di dalam bumi. Pembangkit listrik geotermal menggunakan panas bumi untuk menghasilkan uap yang digunakan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik.

▶ Energi Ombak dan Pasang Surut:

Energi kinetik ombak dan pergerakan air akibat pasang surut dapat diubah menjadi energi listrik melalui teknologi khusus, seperti turbin ombak atau turbin pasang surut.

▶ Energi Laut (Tidal):

Energi laut dapat dimanfaatkan dengan memanfaatkan pergerakan arus pasang surut. Turbin pasang surut dapat mengonversi energi ini menjadi listrik.

▶ Energi Hidrogen:

Hidrogen dapat dihasilkan melalui elektrolisis air menggunakan listrik dari sumber terbarukan. Hidrogen kemudian dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan atau pembangkit listrik.

▶ Energi Surya Termal:

Selain panel surya fotovoltaik, energi matahari juga dapat dimanfaatkan dengan teknologi surya termal. Ini melibatkan pengumpulan panas matahari untuk menghasilkan uap atau panas yang dapat digunakan untuk pembangkit listrik.

▶ Energi Mikrohidro:

Sistem mikrohidro memanfaatkan aliran air yang lebih kecil dari sungai atau sungai kecil untuk menghasilkan listrik untuk pemukiman atau komunitas yang lebih kecil.

Apa itu Sumber Energi Tak Terbarukan?

Tadi di atas sudah kita paparkan mengenai sumber energi terbarukan. Lalu apa itu sumber energi tak terbarukan? Nah ini kebalikan dari sebelumnya, Sumber energi tak terbarukan atau non-renewable energy adalah sumber daya alam yang terbatas dan tidak dapat diperbaharui dalam waktu singkat atau jangka waktu manusia yang relevan. Penggunaan berlebihan atau eksploitasi yang tidak berkelanjutan dari sumber energi ini dapat mengakibatkan habisnya pasokan. Berikut adalah beberapa contoh utama dari sumber energi tak terbarukan:

▶ Minyak Bumi (Petroleum)

Minyak bumi adalah sumber daya alam yang berasal dari sisa-sisa organisme laut purba yang terkubur di bawah lapisan tanah. Minyak ini digunakan untuk bahan bakar kendaraan, produksi energi listrik, dan berbagai produk kimia dan material lainnya.

▶ Gas Alam

Gas alam adalah campuran hidrokarbon yang dapat digunakan sebagai bahan bakar. Seperti minyak bumi, gas alam juga merupakan sumber energi fosil yang tidak dapat diperbaharui dalam jangka waktu yang singkat.

▶ Batubara

Batubara adalah batuan sedimen yang mengandung karbon dan digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik dan industri. Penggunaan batubara menyebabkan emisi karbon dioksida dan memiliki dampak lingkungan yang signifikan.

▶ Uranium (Untuk Energi Nuklir)

Meskipun uranium sendiri adalah unsur yang melimpah, cadangan uranium yang dapat digunakan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir adalah terbatas. Penggunaan energi nuklir juga memiliki risiko terkait limbah radioaktif dan keamanan nuklir.

Sumber energi tak terbarukan ini memiliki beberapa masalah serius, termasuk dampak lingkungan yang besar, pelepasan gas rumah kaca yang berkontribusi pada perubahan iklim, dan ketergantungan pada pasokan yang terbatas dan dapat habis. Karena itu, ada tekanan global untuk beralih ke sumber energi terbarukan yang lebih berkelanjutan sebagai solusi untuk menanggapi tantangan energi dan lingkungan. Energinya terbarukan, seperti matahari, angin, air, dan biomassa, menawarkan alternatif yang lebih bersih dan dapat diperbaharui.


Perbedaan Energi Terbarukan dan Energi Fosil

Apa perbedaan antara energi terbarukan dan energi fosil? Energi terbarukan dan energi fosil adalah dua jenis sumber energi yang berbeda baik dari segi asal-usul maupun dampak lingkungan. Berikut adalah perbedaan utama antara keduanya:

💧 Energi Terbarukan

Asal Usul:

Energi terbarukan berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui secara alami, seperti sinar matahari, angin, air, biomassa, dan panas bumi.

Ketersediaan:

Sumber daya energi terbarukan dapat diperbaharui dalam jangka waktu yang relevan bagi manusia, dan penggunaan mereka tidak menyebabkan habisnya pasokan.

Dampak Lingkungan:

Umumnya memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan energi fosil. Produksi dan penggunaannya cenderung menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih sedikit.

Keberlanjutan

Energi terbarukan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan atau menghabiskan sumber daya alam.

Contoh:

Matahari (energi surya), angin (energi angin), air (energi hidro), biomassa, dan panas bumi.

👀 Energi Fosil:

Asal Usul:

Energi fosil berasal dari sisa-sisa organisme yang mati, terutama tumbuhan dan hewan, yang mengalami transformasi alami selama jutaan tahun menjadi batu bara, minyak bumi, dan gas alam.

Ketersediaan:

Sumber daya energi fosil bersifat terbatas dan memerlukan waktu geologis yang sangat panjang untuk terbentuk. Mereka dianggap sebagai sumber daya yang tidak dapat diperbaharui dalam waktu singkat.

Dampak Lingkungan:

Penggunaan energi fosil menyebabkan emisi gas rumah kaca, pencemaran udara, dan dampak lingkungan lainnya. Penggunaan berlebihan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan.

Keberlanjutan:

Energi fosil tidak dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan karena sumber dayanya tidak dapat diperbaharui dalam jangka waktu manusia yang relevan.

Contoh:

Batubara, minyak bumi, dan gas alam.

Penting untuk mencatat bahwa transisi dari energi fosil ke energi terbarukan merupakan fokus utama untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim dan ketergantungan pada sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Energinya terbarukan memiliki potensi untuk menyediakan sumber daya energi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Jangan Buang Minyak Jelantah

Tahu enggak sih, ternyata minyak jelantah merupakan salah satu limbah yang bisa dijadikan bahan bakar biodiesel. Yes, nminyak jelantah, yang merupakan minyak bekas hasil penggorengan, dapat dijadikan sumber energi terbarukan melalui proses biodiesel. Biodiesel adalah bahan bakar yang diproduksi dari sumber-sumber alam, seperti minyak nabati, lemak hewani, dan minyak jelantah. Di bawah ini adalah langkah-langkah umum untuk mengubah minyak jelantah menjadi biodiesel:

Pengumpulan Minyak Jelantah:

Minyak jelantah dikumpulkan dari restoran, pabrik-pabrik pengolahan makanan, atau tempat-tempat lain di mana minyak tersebut dihasilkan sebagai limbah.

Pembersihan Minyak:

Minyak jelantah sering kali mengandung kotoran, sisa-sisa makanan, dan air. Sebelum diolah menjadi biodiesel, minyak ini perlu dibersihkan. Proses penyaringan dan pembersihan kotoran-kotoran tersebut dapat dilakukan untuk memastikan minyak jelantah bersih.

Proses Transesterifikasi:

Ini adalah langkah kunci dalam produksi biodiesel. Minyak jelantah direaksikan dengan alkohol (seperti metanol atau etanol) dalam suatu proses yang disebut transesterifikasi. Hasil reaksi ini adalah biodiesel dan gliserol (produk sampingan).

Pemisahan Biodiesel dan Gliserol:

Setelah transesterifikasi, biodiesel dan gliserol harus dipisahkan. Gliserol biasanya lebih padat dan lebih berat sehingga dapat terpisah secara alami.

Pembersihan Biodiesel:

Biodiesel kemudian dapat melewati proses pembersihan tambahan untuk menghilangkan kotoran atau sisa-sisa kimia yang mungkin ada.

Penyimpanan dan Distribusi:

Biodiesel yang telah dihasilkan dapat disimpan dan didistribusikan untuk digunakan sebagai bahan bakar.

Biodiesel dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan karena dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan kurang bergantung pada sumber daya fosil. Penggunaan biodiesel juga dapat membantu mendaur ulang minyak jelantah yang sebelumnya hanya dianggap sebagai limbah, mengurangi dampak lingkungan negatifnya.

Namun, perlu diingat bahwa produksi biodiesel harus memperhatikan aspek keberlanjutan dan dampaknya terhadap sumber daya alam dan lingkungan. Dalam beberapa kasus, penggunaan minyak jelantah untuk biodiesel juga dapat memerlukan regulasi dan pengawasan ketat untuk memastikan bahwa proses ini dilakukan dengan benar dan aman. 

Jangan lupa kita juga bisa berperan dalam save energy ya. Dengan mengurangi pemakaian peralatan boros energi (pakai lampu LED misalnya), pakai kendaraan listrik atau jalan kaki lebih baik, dan mengurangi tersesat. Soalnya kan kalau misalnya nanti nih kita yang harusnya bisa menempuh perjalanan 30 menit, eh ternyata karena tersesat malah menempuh 45 menit, 15 menit itu emisi kendaraan terbuang sia-sia. Jika dikalikan banyak orang jadinya? Jujur baru kepikiran juga waktu ikut webinar kemarin, 

Harapannya sih semoga di Indonesia, implementasi energi terbarukan bisa semakin meluas ke depannya. Apalagi udah dapat bantuan nih saat G20 untuk Indonesia agar segera "pensiundinikan" PLTU. Bahkan targetnya zero emisi lho! Aaamiin. 

Posting Komentar

Jika Anda pengguna blogger, harap membuat publik profil blogger sebelum berkomentar agar tidak broken link ya.

Sebaiknya jangan anonim agar bisa saling mengunjungi ...

Komentar muncul setelah dimoderasi.
Terima kasih telah membaca dan berkomentar 😊

Salam kenal ...

Temen²

Total Pageviews