Cerita tentang Si Kecil yang Masuk PAUD

September 06, 2019


Sebagai ibu muda minim pengalaman dan memiliki anak yang belum genap berumur 2 tahun, tentu merupakan salah satu fase tantangan baru dibanding si kecil sewaktu bayi. Saat si kecil bayi, dengan menyusui saja, si kecil akan nyaman dalam pelukan. Meski ada momen-momen rewel, tapi yang kita tahu, kontrol si kecil masih sepenuhnya berada di tangan kita. Berbeda dengan saat si kecil sudah bisa menolak, sering merasa bosan, atau ingin sesuatu yang baru, menjadikan kita sebagai ibu  berpikir keras agar si kecil tetap ceria. 


Saya melihat karakter anak saya sejak usia merangkak itu sangat suka berinteraksi dengan anak kecil lainnya. Saat kami singgah di masjid untuk salat, dia akan mengejar anak-anak kecil yang dilihatnya. Dia akan tersenyum senang jika bisa menggapai tujuannya tersebut. Sedangkan saat saya hanya berdua di rumah, terlihat sekali si kecil kadang bosan meski saya sudah mengajaknya bermain apapun. Hingga saya membawanya bermain bersama tetangga seusianya. Hanya bermain lari-larian pun, dia tampak senang dengan teman sebayanya.

Selain senang bermain bersama kawan, si kecil juga senang diajak jalan. Kayaknya semua anak semang yah? Hehe. Kadang kami membawa si kecil ke tempat makan yang memiliki arena bermain, atau sekadar ke taman atau lapangan yang luas.

Nah, pada akhir Juli kemarin, kami (saya, Aurora, dan Abinya) bermukim sementara selama 2 bulan di Surabaya untuk menemani Abinya kuliah Pendidikan Guru. Kami mendapat rumah kos yang dekat dengan kampus. Saat Abinya kuliah, saya biasanya mengajak si kecil jalan pagi dan sore di sekitar gang. Kebetulan di sini ada banyak gang yang memang banyak ditempati mahasiswa kos. Terkadang menemui anak seusia anak saya, tapi tentu belum bisa diajak bermain karena belum saling mengenal.

Dari awal berangkat ke Surabaya memang saya berniat mencarikan anak semacam playgroup agar si kecil tidak bosan.  Awalnya saya menemukan sebuah Kelompok Bermain yang pertama. Sayangnya hanya menerima usia minimal 3 tahun. Padahal anak saya senang sekali melihat banyak permainan di tempat itu. 

Hingga Suatu hari, saya melihat ada sebuah balai RW, namun ada tempat bermain juga. Selidik punya selidik dapat informasi dari seorang warga yang masih berada di tempat itu sedang menemani anaknya bermain, katanya Balai RW dimanfaatkan untuk Posyandu dan Kelompok Bermain minimal 2 tahun. Namun kelompok Bermainnya tersebut baru saja selesai. Beruntung ada sejumlah guru yang masih mengobrol.

Setelah panjang lebar, akhirnya anak saya yang masih berusia menjelang 21 bulan saat itu diizinkan untuk mengikuti kelompok bermain tersebut. Dengan syarat harus didampingi. Memang saya meniatkan akan tetap mendampingi si kecil bermain pada awalnya. Senang sekali rasanya. Oh ya Kelompok Bermainnya dibagi 2 kelas. Kelas A untuk usia 2 hingga 3,5 tahun (08.00-09.00). Sedangkan kelas B untuk usia 3,5 sampai 4 tahun. (09.00-10.00). Kelasnya dilaksanakan 3 x seminggu yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. 


Bermain sebelum masuk kelas (dokpri)

Di hari pertama si kecil masuk Kelompok Bermain (KB), terlihat sekali bagaimana dia sangat antusias. Padahal semua temannya adalah teman baru. Si kecil sudah berani maju, bermain kereta api, membuat lingkaran dan bernyanyi bersama. Belum lagi cerita suatu hari di mana saat si kecil yang biasanya menangis saat mandi, saat saya bilang kita akan ke sekolah pakai tas, dia kemudian bersemangat menuju ke kamar mandi sendiri. Saya pun banyak belajar dari cara-cara guru KB memberikan pelajaran melalui permainan dan nyanyian. Setidaknya di rumah, saya  bisa mengulangi kembali apa yang dimainkan di sekolah.


Si kecil sedang mewarnai (dokpri)

Saya pribadi memandang kelompok bermain atau PAUD ini sama saja dengan si kecil bermain dengan anak tetangga. Karena memang isinya permainan dan saya tetap bersama si kecil laiknya hari-hari biasa. Hanya saja waktu yang lebih disiplin dan lebih inovatif karena ada guru-guru yang sudah berpengalaman di bidangnya. Setidaknya saya juga tahu hal apa saja yang diajarkan kepada si anak.

APA ITU PAUD?

Di era digital saat ini, tidak dimungkiri bahwa ada kemudahan namun ada juga tantangan yang cukup berat. Kemudahan dengan segala bantuan teknologi, kita bisa mendapatkan banyak informasi, bisa berbelanja, dan bisa berkomunikasi lebih cepat. Namun untuk segi dampak bagi keluarga, kita melihat banyak yang akhirnya menjadikan teknologi khususnya gawai, menjadi pusat perhatian hingga luput dari interaksi di dalam keluarga. Bukan hanya dari sisi keluarga, interaksi sosial dengan orang lain pun menjadi berkurang. 

Meski tidak semua, gawai juga banyak dimanfaatkan untuk menenangkan anak yang menangis. Bahkan ada anak yang berteriak dan tantrum jika gawai tersebut tidak diberikan. 

Saya pribadi karena tinggal sendiri di rumah, terkadang untuk melakukan aktivitas domestik seperti mencuci baju, saya mengikutsertakan si kecil. Namun jika si kecil sedang flu atau sudah terlalu lama bermain air, saya memberikan gawai untuk menemaninya menonton. 

Salah satu solusi agar anak berkurang dalam konsumsi gawai adalah dengan mengalihkan perhatian. Bisa dengan mengajak bermain yang lain, atau diajak berinteraksi dengan anak kecil lainnya. PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini pun bisa menjadi solusi agar anak bisa memiliki aktivitas positif. Selain positif, anak-anak juga punya interaksi sosial lebih baik. 

Lalu apa arti PAUD secara umum?
Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) secara umum adalah suatu upaya pembinaan yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan kepada anak sejak lahir sampai dengan berusia enam tahun. PAUD  bertujuan  untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 28 menyebutkan bahwa: (1) Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. (2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal. (3) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk taman kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. (4) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat (https://www.padamu.net/pendidikan-anak-usia-dini).
BAGAIMANA TANDA BALITA SIAP MASUK PAUD?
Psikolog anak dari Klinik Kancil--sentra tumbuh kembang anak, Alzena Masykouri pun angkat bicara terkait perlu tidaknya PAUD bagi anak-anak. Alzena menyebut, PAUD diperlukan sesuai dengan kondisi yang ada, utamanya kondisi dari masing-masing orang tua dan anak.  (kumparan.com)
Jadi perlu dilihat lagi, apakah anak memang senang bermain dengan teman sebayanya?
Apakah anak sudah bisa mandiri saat ditinggal bermain?
Apakah anak tidak rewel saat di PAUD?
Dan masih banyak pertimbangan lainnya. 

Berbicara mengenai rewel, di tempat Kelompok Bermain tersebut sebenarnya saya menemukan seorang anak yang selalu menangis selama di kelas. Dia tidak senang bermain bersama yang lainnya. Justru saya perhatikan dia ceria saat bermain sendiri. Sepertinya si anak memang sedikit memiliki sikap tertutup atau entah apa namanya. Yang jelas saat saya menyapanya sedang bermain ekreta api sendiri, dia mau menjawabnya dengan senyum.

APA YANG PERLU DIPERHATIKAN SEBELUM MEMASUKKAN ANAK KE PAUD?
Penulis buku “Pendidikan dalam Sepotong Kerupuk” membagi tipsnya dalam memilih PAUD yang tepat bagi anak. “Apa sih, yang dibutuhkan anak? Karena kebutuhan setiap anak jelas berbeda. Kemudian dari memahami kebutuhan tersebut, kita bisa pertimbangkan lagi hendak memilih PAUD yang seperti apa? Karena PAUD juga ada macam-macam jenis maupun metodenya. Yang paling baik untuk dipilih tentu yang metodenya paling sesuai dengan family values Anda,” ucapnya.

Ia mencontohkan, keluarga bisa memilih PAUD yang lebih mengedepankan pengembangan keterampilan sosial bagi anaknya, atau yang lebih mengajarkan keteraturan, atau justru kuat dalam penanaman nilai-nilai agama misalnya. (kumparan.com)

Perlu diketahui, jika anak kita cocok PAUD A, belum tentu anak Ibu lain cocok dengan PAUD A. atau anak pertama kita cocok dengan PAUD B, belum tentu anak kedua kita cocok dengan PAUD B. jadi semua tergantung si anak. Dan ingat bahwa usia 2-5 tahun adalah waktu yang harusnya hanya bermain anak. Dan perlu dipahamkan sesuai pernyataan Adi W Gunawan di dalam buku, ”Manage Your Mind For Success” menjelaskan tentang tahap pemrograman anak-anak kita. Fase pertama adalah usia 0-7, fase ini disebut fase tanam. Apapun yang dilihat, yang didengar, yang dikatakan orang pada anak kita sangat mudah untuk diterima anak.

BAGAIMANA KUALITAS PAUD YANG BAIK?

Dikutip dari laman resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud), tujuan umum pembangunan PAUD itu sendiri adalah untuk menguatkan peran PAUD sebagai fundamen pembangunan pendidikan nasional. 

Tidak hanya tujuan umum, pembangunan PAUD juga memiliki tujuan khusus yaitu pertama, untuk memperluas layanan PAUD yang menjangkau semua lokasi dan komunitas anak usia dini. 

Kedua, meningkatkan pemerataan layanan hingga menjangkau wilayah terisolir, tertinggal,dan atau perbatasan. Ketiga, menyediakan layanan PAUD yang bermutu, akuntabel, dan selaras dengan tahap perkembangan anak. 

Keempat, mewujudkan layanan PAUD yang non-diskriminatif, inklusif dan berkeadilan. Dan yang terakhir adalah untuk mewujudkan sistem layanan PAUD yang menjamin semua anak usia dini dan berkesempatan memperoleh layanan PAUD itu sendiri.

Ukuran baik tidaknya sebuah PAUD kembali lagi dari tujuan kita sebagai orang tua. Saat ini sudah banyak PAUD yang berkualitas dan memiliki banyak kegiatan yang menarik untuk si kecil. Salah satu PAUD dengan tingkat usia yang cukup variatif bernama APPLE TREE PRE-SCHOOL BSD. Di tempat tersebut, kelas dimulai dari 1,5 tahun atau kelas Toddler, hingga kelas Kindergarten (maksimal 6 tahun). Menariknya, kelas dibatasi jumlah siswanya, sehingga bisa memaksimalkan perhatian guru pada anak. 


Pilihan kelas yang beragam di Apple Tree Pre-School BSD 


https://www.appletreebsd.com/gallery/waterplay-outdoor-activities/

Beberapa program di Apple Tree Pre-School BSD yaitu :
  • Daily Activities
  • School Event
  • Music & Art
  • Enrichment Program
  • Field Trip
  • Outdoor Activities 
Yang menarik lagi dari Apple Tree Pre-School BSD ini adalah kurikulum yang diterapkan yaitu mengadopsi dari kurikulum Singapura. Siapa yang tidak mengenal Singapura? Negara Maju meski tidak begitu luas. Waktu saya di Singapura mengunjungi salah satu sekolah di sana memang sistemnya bagus sekali. Mereka tidak hanya mengandalkan kelimuan, tapi juga karakter dan kebiasaan yang baik. Apple Tree Pre-School BSD ini juga sudah menggunakan bahasa Inggris dan Mandarin sebagai bahasa pengantar. Tentu kita sangat ingin si kecil bisa terbiasa mempelajari bahasa internasional bukan? 


Gallery Apple Tree BSD

Pada 7 September nanti, akan ada Open House Apple's Neighbourhood dengan berbagai kegiatan. Ada seminar, olahraga, kegiatan anak, dan lain sebagainya. Yuk ramaikan acaranya!

Nah, itu dia sedikit cerita tentang si kecil yang masuk PAUD. Mengikutsertakan anak ke PAUD juga bisa menjadi salah satu solusi orang tua untuk menghindarkan anak dari konsumsi gawai  yang berlebihan. Aktivitas yang variatif di PAUD juga mampu mengusir rasa bosan si kecil dengan permainan yang itu-itu saja.

Jadi si kecil sendiri sudah ikut PAUD selama sebulan. Dia masih bersemangat jika di pagi hari dikatakan akan berangkat ke sana.  Nanti sekembalinya ke Banjarmasin di akhir September, kami harus pamit sama guru-guru dan temen-temennya di PAUD itu. Semoga waktu yang sebentar ini bisa menambah pengalaman dan pelajaran untuk si kecil. Ibu-ibu atau Ayah ada yang mau berbagi tentang cerita anaknya yang masuk PAUD? 

#appletreebsd

You Might Also Like

24 comments

  1. Seneng yah anaknya udah masuk Paud, pasti ga akan kerasa bentaran lagi udah masuk SD deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi iya bener Mba. Dulu masih dikuyel-kuyel eh sekarang udah main ama ama temennya πŸ˜…

      Delete
  2. Aku juga kemarin mempertimbangkan untuk memasukkan anakku ke playgroup dekat rumah, tapi kemudian mundur teratur karena biayanya cukup tinggi tapi anak hanya masuk 3 kali seminggu masing-masing selama 2 jam.

    Kompensasi dari situ adalah kami jadi lebih suka bawa anak ke playground biar dia mulai interaksi. Anakku kebetulan tipe yang slow to warm up, tapi masih bisa berinteraksi atau main dengan anak lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya bener Mba. Yang penting anak ceria dan diajak main ya Mba πŸ˜„

      Delete
  3. Nah, jadi TK itu kan sebenarnya bagian dari PAUD ya, Mom, tapi kadang kalau orang bilang PAUD, identiknya sama playgroup hehehe. Senang ya sekarang sudah difasilitasi jadi semua masyarakat bisa memanfaatkan PAUD terdekat. Tinggal misalnya ortu ingin lebih fokus di aspek atau memilih fasilitas tertentu, bisa lihat-lihat alternatif PAUD yang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mba. PAUD itu rangenya sekitar 1,5-6 tahun. Bener harus sesuai kebutuhan milih PAUDnya.

      Delete
  4. mashaa Allah pasti seneng banget deh dan ga nyangka anaknya udah mulai beranjak gede hehe
    makasih loh mbak udah sharing pengalamannya, pelajaran buat someday jadi ibu biar ga panik panik banget pas giliran anak mulai masuk sekolah ya mbak hehe

    ReplyDelete
  5. Auto save dan kayaknya bakalan aku note buat bekal pas jadi momom nanti🀭. Thank you for sharing mbakπŸ€—

    ReplyDelete
  6. Ikut seneng mbk lihat si kecil aktif dan mudah bergaul.. Emang bener anak-anak itu kayak membawa aura ceria. Tiap kali deket mereka seperti ingin Selalu ketawa... Haha. Semoga mbak sekelarga sehat selalu ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah bener Mbak. Semoga Mba sekeluarga juga sehat selalu πŸ€—

      Delete
  7. Kalau dimasukkan ke PAUD anak-anak pun tidak hanya belajar keilmuan tapi juga dapat belajar sosialisasi dan bertahap berkompetisi mendapatkan nilai terbaik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mba. Banyak hal yang bisa anak-anak pelajari dengan ikut PAUD :)

      Delete
  8. Anakku yang sulung dulu juga masuk PAUD di usia kurang dari 2 tahun, disarankan DSA-nya karena belum bisa bicara. karena ada beberapa anak yang malas kalau ngomong sama dewasa tapi lebih terbuka ketika bermain dengan teman sebayanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba. Anak saya pun setelah ikut PAUD jadi semakin 'cerewet' hihi. Semoga anak kita sehat dan tumbuh cerdas ya Mom aamiin

      Delete
  9. Sebaiknya anak2 emang masuk PAUD sebelum sekolah, biar anak lebih siap lagi secara mental dan psikologis karena nantinya dia udah terbiasa di lingkungan yang baru.

    ReplyDelete
  10. wah asik banget ada kelas kecil buat usia dibawah 3 tahun mba, coba di lingkungan rumah ada yang begitu hahaha.. jadi anakku bisa terstimulasi juga biar sosialisainya baik

    ReplyDelete
  11. Aku belum punya anak tapi kayaknya emang penting banget ya pendidikan anak usia dini tuh.. Dan ikut seneng dengernya kalo manfaatnya bener2 bisa dirasakan sama anaknya mbak..

    ReplyDelete
  12. Jadi teringat wakti pertama kali anakku masuk PAUD, waktu itu trial dulu biar tau dia suka atau enggak. Hari pertama enjoy dan gak drama, pokoknya sampai 3x akhirnya oke tuh masuk di sekolah yang sekarang ini. Eh taunya pas mulai hari pertama gak mau ditinggal sama bundanya.

    ReplyDelete
  13. ak jd inget deh mba sewaktu masih kerja di Bandung, daerah Bandung Barat, ada semacam taman bermain untuk anak seusia PAUD gini. Lucu-lucu banget dan anak-anak disana terlihat hepi semua.

    ReplyDelete
  14. anakku sejak sekolah PAUD usia 18 bulan, masyaaallah langsung cerewet pisan deh, ngomong apa aja, lanacar komunikasinya. Trus juga jadi lebih nyaman bersosialisasi sama orang lain yang baru dikenal

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca dan berkomentar :)
Komentar akan muncul setelah dimoderasi
Untuk komentar berisi link mohon maaf tidak akan dipublikasikan
Salam kenal :D