[Cerpen] Conflict Maker Corporate

October 12, 2019

Conflict
pixabay.com

"Aku sudah siapkan semua"
"Tidak, tidak perlu itu, persiapan kita sudah cukup"
"Oke."

Kusudahi telepon dengan salah satu klienku. Egoku serasa naik jika klien terus menawarkan saran yang menurutnya penting. Hello? Saya yang berpengalaman di sini. Serahkan semuanya padaku. Tidak ada dalam sejarah, perusahaan kami gagal membuat konflik.

Membuat konflik? Ya tugas kami membuat. Bukan menyelesaikan seperti halnya tv-tv haus rating itu. Eh tapi kami bukan reality show, ralat! bukan reality show ya! Kami lebih menyukai bekerja pelan, diam, dan tentunya sesuai tujuan.

Pekerjaan kami harus berjalan sempurna. Tidak ada yang tahu dari mana akarnya. Intinya konflik kami buat sesuai dengan perencanaan. Siapa pelakunya, siapa korbannya, institusi apa yang ingin dijelekkan namanya, dan lain sebagainya.

Pelanggan kami? Banyak!
Mulai dari suami yang ingin lepas dari istrinya tanpa terlihat bajingan, atau istri yang ingin lepas dari suaminya tanpa terlihat bersalah.
Ada juga artis yang ingin betul-betul memanfaatkan viral di media sosial demi ketenaran, tentu dengan menyewa jasa kami.

Orang pemerintah? Jangan salah. Mereka pelanggan terbaikku. Institusi keamanan? Mereka selalu di belakangku. Tentunya uang yang dihabiskan untuk ini itu sangat banyak. Tapi sebanding dengan kepuasan pelanggan kami.

Kami berprinsip semua tawaran harus diterima. Tidak ada tawaran yang salah maupun benar. Toh yang kami lakukan juga bukan hal yang benar bukan? Mungkin itulah yang menyebabkan perusahaan kami begitu diinginkan orang-orang berduit yang putus asa.

Intinya, dalam perencanaan kami, tidak boleh ada satu pun nyawa melayang. Kami merencanakan sebatas insiden yang bisa menjadikan kotban atau target menjadi tidak berdaya. Kalau pun dibutuhkan kekerasan, kami sudah tahu sampai batas mana kekerasan tersebut tidak membuat korban mati percuma.

Eh tunggu sebentar, handphoneku berdering.

"Pak, ada makanan baru, mohon segera cek lemari," perintah suara di seberang sana.
"Oke."

Kami membiasakan menggunakan kata ganti untuk hal-hal yang bersifat pekerjaan. Demi menjaga adanya penyadapan via telepon. "Makanan" berarti tawaran. Sedangkan "lemari" berarti email. Hal itu penting dalam sebuah pekerjaan rahasia.

Aku bergegas menuju tempat bertemu dengan klien. Sesuai dengan permintaannya di email. Kadang, pertemuan langsung memang penting. Setidaknya agar semua berjalanan sesuai tanpa ada miss komunikasi. O ya, aku menggunakan penyamaran kualitas tinggi. Bagaimana pun kami tidak boleh saling mengenal identitas. Untuk klien kami juga menyarankan demikian. Bukankah tidak lucu jika suatu hari kita berpapasan dan saling mengenal bukan? Biarlah pekerjaan ini selesai begitu saja tanpa saling mengenal.

Klienku yang baru ini seorang pria. Dia meminta agar mencelakai selingkuhannya agar bisa segera lepas dan mencari yang baru. Dasar pria! Mereka tidak pernah puas!

Aku? Aku juga pria. Tapi menurutku dibanding wanita, banyak hal yang lebih penting. Pekerjaan ini misalnya. Istri? Aku punya. Tentu saja dia tidak tahu aku bekerja seperti ini.

Kususun rencana terbaik bersama tim. Bagaimana agar wanita ini benar-benar kapok untuk mendekati si pria. Konflik ini harus selesai dalam waktu seminggu. Tentu saja. Kami bisa melakukannya.

Mau tahu rencananya?
Kami membuat sebuah proyek gagal dalam pekerjaan si wanita. Sehingga si wanita harus dimutasi di kantor cabang yang lebih jauh dan terpencil. Bukankah jarak adalah salah satu jalan terbaik untuk berpisah?

Hasilnya? Proyek itu berhasil dalam 3 hari. Kami bertemu kembali di sebuah kafe. Klien kami senang dengan perkembangan ini. Saya pun turut senang. Kini dia bebas dari ikatan wanita itu. Kami akhirnya berpisah mengakhiri pekerjaan ini. Dia pamit dan bangun dari tempat duduknya. Aku melihatnya dari kejauhan menuju mobilnya. Tunggu, siapa wanita di mobil itu? Oh tidak itu istriku? Apa dia selingkuhan baru lelaki itu? Segera kukejar mereka. Namun mereka sudah lebih dulu pergi.

Kupijat kepala yang mulai terasa pusing. Mobil pria itu telah kami masukkan bom kecil di bagian jok kemudi. Mungkin akan melukai kaki atau kejantanan sang pria. Sesuai permintaan klien seorang wanita yang mengaku istrinya. Tapi apa yang terjadi? Istriku yang mengendarai mobil itu!

TAMAT

Cerita ini adalah fiksi. Dianggit dalam rangka menulis tema "konflik"  #1minggu1cerita .

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih telah membaca dan berkomentar :)
Komentar akan muncul setelah dimoderasi
Untuk komentar berisi link mohon maaf tidak akan dipublikasikan
Salam kenal :D