BlogKakTri
Lifestyle Blogger, Talk About Blogging, Parenting,Traveling, Tips, Review, and Lifestory by Triyatni Ashari

Memberi Makna dan Mengatur Frekuensi yang Tepat (Ruang Pulih Journey Part 2)

Alhamdulillah, kali ini sampai pada artikel kedua. Jadi bagi yang baru baca, ini adalah perjalanan inner child healing saya bersama Ruang Pulih. Saya menyebutnya Ruang Pulih Journey. 

Adapun sumber-sumber artikel saya ada pada parade webinar yang diadakan selama 5 minggu berturut-turut, webinar khusus buat kami para bloger, buku Luka Performa Bahagia, dan diskusi khusus di grup Whatsapp.

Untuk artikel kedua ini, saya akan lebih fokus ke Parade Webinar Kedua yang diadakan pada hari Minggu, 22 Agustus 2021, berjudul Bangkit Dari Luka Menuju Performa (bisa disaksikan tayangan ulang di Youtube Ruang Pulih). Webinar ini seperti biasa diarahkan Mbak Anne sebagai MC juga Mbak Intan dan Mas Adi sebagai moderator. Adapun pemateri kali ini adalah Coach Prasetya M. Brata & Coach Fena Wijaya

inner child

Dari judul webinar ini sendiri sudah jelas ya bakal kemana. Kita akan membahas secara umum mengenai inner child, luka dan perfoma dan bagaimana menghadapi hal-hal tersebut. 

Berbeda dari artikel pertama yang menuliskan poin secara acak, kali ini saya akan menuliskan poin secara beruntun untuk setiap pemateri yang tampil. 

Webinar diawali dengan sambutan dan sedikit perbincangan dengan Mbak Anne, Mbak Intan dan Mas Adi. Sebenarnya apa sih inner child? Dipaparkan oleh Mas Prayuda bahwa Inner child adalah suatu istilah yang digunakan dalam dunia psikologi atau meditasi. 

Inner child terkait dengan emosi dalam diri kita, yang ada kaitannya dengan trauma dalam masa lalu, pengasuhan, memori, dan sebagainya yang terdampak dalam diri kita. Emosi ini bagian dari diri kita. Secara singkat, itu adalah akumulasi dari memori terkait dari peristiwa atau pengasuhan masa lalu. 

Tentang Membandingkan Makanan

Prasetya M. Brata

Awal webinar Coach Prasetya M. Brata menyinggung soal diri kita sebagai manusia. Dalam Islam kita adalah Khalifah. Yang berarti pemimpin, bukan dipimpin. Kita adalah pengendali dan pengatur. 

"Artinya selama kita hidup harusnya to lead (memimpin), bukan led by (dipimpin). Fisik, panca indra, pikiran, perasaan, dan akal kita hanyalah perabot/instrumen kehidupan." Kata Coach Prasetya. 

Pikiran tugasnya melihat apa, berasal dari mana. Karena apa yang ada dalam pikiran, biasanya adalah referensi dari mana, pengalaman dari kecil kah, ilmu pengetahuan, dan masih banyak lagi.

Coba kita perhatikan lagi diri kita. Apakah kita sudah bersungguh-sungguh beroperasi menjadi seorang manusia yang memimpin diri, atau malah dikuasai?

Manusia diberi kemampuan pertama memberi makna, yang kedua mencipta. Kemampuan memberi makna itu adalah alat untuk kita hidup. Itu adalah tugas kita memimpin. Tapi yang terjadi seringnya kita diatur. Dikendalikan oleh pikiran dan perasaan kita. Yang mana mereka hanyalah instrumen yang harusnya bisa kita kendalikan. 

"Kita yang mempunyai pikiran kita, atau kita dipunyai pikiran kita?"

Salah satu contoh kasus, beliau pernah makan di luar negeri. Katanya masakan enak, masakan mirip masakan Padang (masak Kandar kalau tidak salah namanya). Pas makan beliau 5 menit menggerutu. 

Mikir, ini kok katanya enak padahal enggak. Enakan di Indonesia. Lalu nyadar sendiri, kalau makan itu anugerah. Beliau sadar malah dipimpin oleh pikiran. Karena berasal dari pengalaman masa lalu ada makanan yang lebih enak. Namanya frame of experience

Berarti hidup 5 menit itu menderita karena dipimpin oleh pengalaman masa lalu. Akhirnya mencoba ngosongin pikiran. Menghilangkan pengalaman atau referensi masa lalu di tempat lain. Dan mencoba merasakan menyadari panca indra saat ini. Beliau memberi makna baru, bahwa makanan itu enak. Akhirnya 5 menit kemudian hidup beliau nyaman dan bahagia. Padahal sama-sama makan, tapi ada 2 makna yang berbeda. 

Saya pun termasuk sering membanding-bandingkan makanan kalau jenisnya sama hehe. Kalau teman-teman bagaimana?

Kita Bisa Menciptakan yang Kita Kehendaki

Masih oleh Coach Prasetya, beliau melanjutkan pembahasan bahwa kalau kita ingin menjadi manusia, kita perlu menyadari bahwa kita ini sudah diciptakan untuk mewujudkan untuk apa-apa yang kita kehendaki. Kita bebas berkehendak mau mencapai apa. Kita dirancang untuk mampu berperforma. Dengan instrumen tubuh dan pikiran kita. 

Hasil akan muncul kalau ada aksi. Perkataan dan perbuatan berasal dari mana? Dari yang namanya persepsi. Ada keyakinan, identitas, aturan, dll. 

Kalau kita bilang “Aku hanyalah seorang anak yang tidak berharga,” atau “aku tidak akan sukses karena ibu bapakku tidak mau mendukung”, maka itu tidak akan berhasil untuk menjadi performa terbaik. Pikiran ini berkaitan dengan masa lalu. 

Setiap kita pasti punya risiko. Kita punya sebab mengapa suatu keadaan terjadi. Misalnya kita memutuskan naik mobil, kita punya resiko kecelakaan. Kita tinggal di rumah, punya resiko kebakaran, terpeleset, dll. Jadi apapun yang terjadi itu adalah bagian dari pilihan kita sebelumnya. Jika kita kecelakaan, itu hasil dari keputusan naik mobil.

"Artinya masalah bukan dari luar. Persoalan bukan di situasi, tapi di dalam diri."

Sahabat yang Melamar Pacar untuk Menjadi Istri Kedua

Pengalaman lucu lagi bahwa beliau pernah diputuskan pacar, karena ternyata pacarnya itu dilamar oleh sahabatnya sendiri jadi istri kedua. 

Beliau 5 tahun enggak ngomong sama sahabatnya padahal satu kantor satu ruangan juga. Dulu beliau memberi makna, "Aku dikhianati, aku ditusuk oleh sahabatku sendiri, aku lelaki tidak berharga dll.". 

Beliau menyadari, dulu cara beliau memberi makna sama dengan drama film sendiri. Hanya imajinasi. Yang menimbulkan rasa sakit adalah persepsi itu sendiri. 

Semakin dewasa, kita sudah punya pengetahuan, wisdom, akhirnya belajar bahwa ada makna yang baru. Beliau akhirnya mencoba menemui dirinya di masa lalu, mengatakan pada dirinya di masa lalu bahwa dulu dia 'bodoh'.

Setelah sekian lama, beliau memberi makna baru. Berpikir harusnya beliau belajar dari sahabatnya, bagaimana sahabatnya bisa menaklukan wanita yang notabene pacar sahabatnya sendiri, sampai mau jadi istri kedua pula. Bukankan itu suatu kehebatan?

Seru banget sih pengalaman beliau. Siapa dari kita yang sering menertawakan tangisan masa lalu? hehe

Tentang Hadir dan Kesadaran

Coach Fena Wijaya

Setelah bersama Coach Prasetya, selanjutnya adalah bareng Coach Fena Wijaya. Keren banget awal-awal webinar beliau menyambut dengan suasananya enerjik dan ceria. 

Beliau mengatakan, bahwa ketika kita antusias, itu menandakan kita hadir. Berapa banyak dari kita tidak benar-benar hadir dalam sebuah kondisi?

Betul juga sih. Kadang kalau kita menyukai sesuatu, kita akan rela menghabiskan waktu berjam-jam. Namun jika kita tidak menyukai sesuatu dalam melakukan apapun, kita akan fokus pada hal lain dan tidak benar-benar hadir. 

"Seberapa banyak kita enggak hadir dalam kehidupan kita?

Tentang Terbiasa dan Frekuensi

Dalam sebuah kehidupan, ketika hidup di dekat (maaf) tempat sampah, kita mungkin akan terbiasa dengan bau sampah itu. Ketika kita hidup dalam keluarga yang penuh dengan kemarahan, toxic dll. Kita memang mengatakan enggak mau jadi mereka, tapi tanpa kita sadari kita jadi mereka. Itu karena kekuatan frekuensi. Jadi penting sekali memang untuk memilih lingkungan yang tepat.

Nah, waktu itu ada yang konsultasi soal dirinya yang bertanya soal di lingkungan tetangga yang dia lihat, dia sering menyaksikan suami istri yang sering berantem, istri dipukul suami dll. Dia heran kok ada ya yang saling menyayangi menit ini, tapi menit berikutnya saling menyakiti?

Nah ketika dewasa, setiap dekat dengan lawan jenis, ada ketakutan bakal disakiti nantinya. 

Coach Fena nanya, “Apa yang diinginkan?” 

“Rasa takut kapan muncul?”

Adapun saat menjawab pertanyaan tersebut, kita diminta jangan menggunakan logika, tapi gunakan kesadaran. Logika pakai data. Kesadaran adalah apa yang pertama kali muncul. 

Akhirnya dijelaskan deh sama Coach Fena, ketika kita fokus pada ketakutan maka yang akan dikirimkan semesta adalah justru ketakutan itu. Karena energi adalah bahasa pertama universe. Itu adalah getaran, bukan kata-kata. Gak bisa bohong. Intensi atau keinginan kita harus dipusatkan mau apa. 

Ketika ingin punya relasi, tapi getaran takut, akan terkirim ke alam semesta. Maka akan ditarik orang untuk kita yang sesuai dengan frekuensi yang sama kita getarkan. Yang diubah adalah getaran kita terlebih dahulu, bukan kata-katanya.

Ketika takut akan pernikahan, bayangan yang muncul orang lagi berantem. Maka itu yang akan dikirim ke unverse karena kita "order" itu. Jadi pastikan apa yang kita inginkan?

Ketika kita tahu sesuatu salah, kita membuat energinya semakin sulit. Jika ingin dapat pasangan yang bisa membahagiakan, kita harus bahagia dulu. Kuncinya di kita dulu. Karena universe akan melipatgandakan.

Kesimpulan

Dari webinar yang disampaikan, saya sadar bahwa saya selama ini sering tidak fokus dan sering memberi makna serampangan terhadap sesuatu, kejadian atau peristiwa. Demi kesehatan jiwa, ya harus belajar. Pelan-pelan tidak apa, minimal mau dulu. 

Memberi makna adalah kuasa kita. Tubuh, perasaan, panca indra hanyalah instrumen. Keputusan akhir dalam pemberian makna itu bagus dan tidak ada pada diri kita sebagai khalifah. Sebagai pemimpin diri kita. 

Mengenai frekuensi, mungkin banyak teman-teman yang seperti saya, dapat ter-distrac dengan mudah dengan lingkungan atau tampakan berita dan media sosial. 

Membaca postingan sedih, kita akan ikut sedih. Menonton film menakutkan, kita akan ikut takut. Jadi penting sekali untuk memilah milih jenis energi yang kita serap. Karena energi yang kita pancarkan, energi itu pula yang akan kembali pada diri kita. 

Semoga dengan membaca ini, bisa membantu teman-teman setidaknya postingan ini minimal bisa memancarkan energi baik. Terakhir, sudah siap memberi makna dan energi sesuai yang diinginkan? 


9 komentar

Jika Anda pengguna blogger, harap membuat publik profil blogger sebelum berkomentar agar tidak broken link ya.

Sebaiknya jangan anonim agar bisa saling mengunjungi ...

Komentar muncul setelah dimoderasi.
Terima kasih telah membaca dan berkomentar 😊

Salam kenal ...

  1. Saya benar-benar menangkap spiritnya nih mba ketika menonton ulang di youtube semua materi dari pak Prasetya. Ternyata selama ini pikiran yang memimpin kita.

    BalasHapus
  2. Bagus mba, webinarnya membuat kita memahami makna pada diri kita, sehingga apa yang dijalani ini susah atau senang memiliki makna yang berarti

    BalasHapus
  3. dalem banget pembahasannya kali ini hehe
    jujur aku juga orang yang susah fokus, present. tapi semenjak pandemi dan stressful, aku jadi coba-coba meditasi ala Adjie Santoso. dan..... ngefek banget pemirsaaa 😆
    asli seneng banget. sekarang udah lumayan. kalo dulu selalu gopoh buat nyelesaiin banyak hal dalam 1 waktu, sekarang aku jadi lebih bisa fokus sama 1 hal hehe

    BalasHapus
  4. wah saya ketinggalan rangkaian acara ini. kira-kira penyelenggaran akan mengadakan kegiatan serupa lagi nggak mbak?

    BalasHapus
  5. Masyaallah tulisannya kak tri ngena banget. Aku setuju kak. Semoga kita bisa menjadi khalifah yang baik untuk diri kita sendiri.

    BalasHapus
  6. Hmm webinarnya dalem banget ya kak. Pasti bakal dapat banyak ilmu kalau saya juga ikutan nih

    BalasHapus
  7. Duh, emang ya klo ngobrolin inner child tuh kayak gak ada habisnya. Pingin deh nonton rekamannya

    BalasHapus
  8. Rasanya memang perlu ya bahasan penting kekgini, jadi bisa lebih ngerti apa itu inner child dan beragam tentangnya. Narasumbernya kece2 pula.. pasti daging nih, hihi..

    BalasHapus
  9. Iya ya mbak, fitrah kita sebagai khalifah/pemimpin, tapi kenapa seringkali kita bertindak seperti bukan pemimpin ya...saya maksudnya. Gampang banget dikendalikan sama mood, trauma masa lalu, hingga kekhawatiran akan masa depan.

    Kalau dipikir-pikir gini, rasanya memang nggak seharusnya kita membiarkan hal-hal itu taking over our life. Thanks ya mbak, dah share useful konten ini. Saya berasa diingatkan tentang fitrah saya sebagai manusia.

    BalasHapus