BlogKakTri
Lifestyle Blogger, Talk About Blogging, Parenting,Traveling, Tips, Review, and Lifestory by Triyatni Ashari

Inner Child Healing (Ruang Pulih Journey Part 1)

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan inner child? Menurut dari berbagai sumber, saya menyimpulkan kalau inner child adalah representasi masa kecil ata


Waktu itu saya sedang berada di pasar, sedang berbelanja di hari Minggu. Sambil menunggu pesanan ikan saya yang disiang alias dibersihkan (kalau di Banjarmasin, beli ikan sudah dapat gratis pembersihan), sebuah pesan whatsapp di grup SEO Moms menarik perhatian saya. 

Katanya ada pencarian bloger yang ingin bergabung dalam kampanye Ruang Pulih. Semacam kampanye mengenai bagaimana menemukan jati diri dan mengenali inner child. Waktu itu saya menangkap intinya berkaitan dengan psikologi atau mental therapy

Saya pun mendaftarkan diri karena saya sangat tertarik. Gratis lagi! (dasar emak-emak ya haha).  Mungkin, di sini salah satu jalan saya untuk menjadi pribadi lebih baik. Bisa menjadi orang tua sekaligus manusia yang lebih baik. Bukankah semua orang memang seharusnya berubah lebih baik?

Tentang Inner Child dan Inner Child Healing

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan inner child? Menurut dari berbagai sumber, saya menyimpulkan kalau inner child adalah representasi masa kecil atau masa lalu kita, yang bisa berakibat menggangu kepribadian kita saat dewasa. 

Lebih khusus saya kutip dari ruangpulih.com, dikatakan bahwa pengalaman masa lalu yang berkaitan dengan inner child adalah sifat bergantung pada orang lain (dependency) atau mandiri, asertif dan masih banyak lagi seperti gangguan emosi dan trauma. 

Seringkali gangguan yang ditimbulkan oleh inner child membawa masalah pada tingkah laku, emosi dan hubungan sosial orang dewasa (Diamond, 2008). 

Begitu juga inner child yang stabil akan memberi dampak positif seperti menunjukkan perilaku yang sesuai dengan situasi, emosi yang stabil, serta hubungan sosial yang suportif.

Apakah inner child bisa disembuhkan? Yes. Adapun inner child healing menurut saya adalah langkah-langkah apa yang bisa kita lakukan agar pengalaman masa lalu, tidak membuat kita jatuh. Justru kita bisa berdamai dan menjalani hidup dengan baik saat dewasa. 

Pengalaman Mengikuti Seminar Psikologi

Sebenarnya, ini adalah kali kedua saya mengikuti “pelatihan” yang berkaitan dengan psikologi. Dulu, sekitar 2 tahun lalu, saya pernah sekali mengikuti sebuah seminar salah satu psikolog sekaligus selebgram yang terkenal. Saya yakin semua tahu, hehe. Namun sekarang beliau sudah redup karena sebuah kasus yang cukup polemik. 

Kita tidak akan bicara masalah kasusnya ya. Saya cuma mau membicarakan sedikit pengalaman saya. Bisa dibilang, itu adalah seminar offline berbayar pertama kali yang saya lakukan setelah menikah. 

Yes, setelah menikah saya kadang memilih hal lain untuk pos pengeluaran, atau tetap belajar melalui cara yang tidak perlu meninggalkan anak. Misalnya dengan beli buku, nonton video dll. 

Namun entah mengapa kali itu saya bersikeras untuk ikut. Dengan harga tiket yang lumayan, saya seminar (lebih ke praktik terapi sih) selama kurang lebih 6 jam. Pertama kalinya saya berada jauh dari anak dalam waktu yang cukup panjang. Syukurnya suami saya pengertian dan mau nongkrong di mall 6 jam lamanya bersama si kecil hehe (belum pandemi waktu itu).

Mungkin suami saya mengizinkan (meski mahal), karena melihat saya memang butuh hal tersebut. Saya pribadi seperti butuh asupan yang bisa membuat saya kembali berpikir jernih, ya mungkin karena kelelahan sebagai ibu baru dan jenuh di rumah, saya menjadi sedikit "berbeda". 

Seminar tersebut cukup efektif merefresh kembali mental saya, tidak terlepas dengan hasil nangis yang sampai membuat sakit kepala wkwk.

Mendorong mobil mogok, paling sulit langkah satu dan dua. Ketika mulai berjalan, terasa lebih ringan.

Tentang Webinar Pertama dari Ruang Pulih

Kembali lagi ke whatsapp grup yang disampaikan sebelumnya. Saya akhirnya ikut bergabung bersama teman-teman lainnya dalam sebuah grup whatsapp. Di dalamnya ternyata sudah ada Mbak Intan Maria Lie, seorang certified coach dan psychotherapist, sekaligus salah satu penulis buku tentang inner child  “Luka Performa Bahagia” di dalam grup. Bersama langsung dengan sang coach ternyata semakin membuat saya bersemangat belajar. 

Sehari sebelum webinar pertama (nanti akan ada beberapa parade webinar), kami sempat diskusi kecil-kecilan dengan beliau tentang pandangan kasus anak kecil dan orang tua. Dari sana, sudah ada rasa “unik” yang muncul. 

Keesokan harinya adalah webinarnya. Namun saya mengikuti live youtubenya saja keesokan harinya dikarenakan saat webinar saya sedang berada di luar rumah. 

Webinar tersebut berjudul "Mengenali Inner Child, Menemukan Jati Diri". Webinar ini diisi oleh Narasumber dr. I Gusti Rai Wiguna Sp.KJ (Psikiater), Intan Maria Lie (Ceritified Coach & Psychotherapist), Adjie Santosoputro (Praktisi Mindfulness) dan Adi Prayuda ( Pemandu di Santosha - Emotional Healing Center). 

Selama kurang lebih 3 jam webinar tersebut, banyak sekali insight yang saya terima berkaitan tentang inner child. Mulai dari luka, dan bagaimana kita menghadapinya. Yang pasti, asupan-asupan seperti ini memang penting agar kesehatan mental kita tetap terjaga. Untuk itu saya ingin share beberapa topik insight dari webinar yang telah saya rangkum.

Sebelum memulai hubungan, cari tahu luka yang pernah dialami. Bukan mencari rahasia, dan bukan jadi alasan, tapi mencari peta tentang apa yang perlu ditumbuhkan di hubungan tersebut ke depannya. 

Emosi Saat Ini yang Berkaitan dengan Masa Lalu

Adakan teman-teman pembaca di sini memiliki karakter suka memendam emosi? Jika ya, mungkin kita sama. 

Dulu semasa sekolah, saya dikenal sebagai orang yang tidak mudah marah. Saking jarangnya marah, orang menganggap saya terlalu baik. Saya bahkan sering menjadi penengah pihak yang bermusuhan. Lucu sih ya. Padahal aslinya, saya hanya tipe yang memendam. Ketika marahnya sudah memuncak, bisa bahaya nih (ngikutin nada Pak Adi Master Chef ya wkwk).

Ternyata menurut dr. Rai, emosi kita saat ini misalnya, bukan berarti muncul karena masalah yang terjadi saat itu juga. Tapi bisa juga dari beberapa kumpulan emosi masa lalu yang mengikuti. 

Emosi-emosi masa lalu yang tertahan, tidak kita akui, akhirnya meledak. Kita mengira penyebabnya hanya pada saat itu, padahal bisa jadi inner child. Seperti halnya petinju. Pukulan 1-29 kali dia masih bertahan, baru pukulan ke 30 dia runtuh. Bukan berarti hanya pukulan ke-30 yang berperan bukan? Tapi pukulan sebelumnya juga berperan.

Jangan juga terjebak kenangan indah. Mau pahit, manis, tetaplah masa lalu. Perlu kita lepaskan, itu sudah berlalu. Karena pleasant dan unpleasant moment, keduanya bisa membuat kita terluka. 

Emosi Jangan Ditolak

Misalnya ada Pak Pos ngirim paket ke rumah kita. Udah mencet berkali-kali kita enggak buka. Dia akan datang lagi dan lagi. Sama halnya rasa cemas akan terus datang. Ada baiknya jangan ditolak emosi kita. Biarkan dia masuk. 

Kita terima pesannya dulu. Nah dari pesan itu, apa yang harus kita lakukan? Kita coba gali satu demi satu. Jangan mudah bereaksi. Karena kualitas hidup kita akan menurun jika terlalu mudah beraksi. Kita hanya harus berlatih merespon dengan tepat. 

Pikiran Itu Hanya Memori, Bukan Kenyataan

Mas Adjie membuat saya terpaku dengan pemaparan soal memori. Beliau berkata, berbicara inner child, bicara masa lalu. Apa yang terjadi pada masa lalu, itu nyata. Sekarang ini, itu semua hanya ada di ingatan. Di mana ingatan dan memori bukanlah kenyataan. 

Sehingga berbicara menyelami inner child, itu berarti belajar berhadapan dengan ingatan dan memori. Tidak lagi berhadapan dengan saya dan bapak, saya dan ibu, atau saya dan kondisi. Tapi berhadapan dengan saya dan memori saya sendiri. Akankah kita yang menguasai memori, atau justru memori yang menguasai kita?

Jangan Membandingkan Proses Pemulihan

Dulu saya sering berpikir, kenapa ya anak-anak murid saya yang broken home, menjadikan alasan itu untuk mereka berbuat yang tidak seharusnya. Saya sebagai anak yang broken home juga, tidak sampai pada tahap ingin berbuat sesuatu yang salah. Justru saya membuktikan diri dengan belajar dan tetap jadi anak yang berprestasi. 

Ternyata, setiap orang proses pemulihannya berbeda-beda. Ada yang butuh setahun, belasan tahun, puluhan tahun, bahkan ada yang butuh seumur hidup.

Bedanya, apakah kita akan memulai untuk melangkah?

Karena kata mas Adi, satu langkah menuju pemulihan itu lebih baik dibanding 1000 langkah khayalan saja. Terkadang juga, orang yang mengalami gangguan mental, justru tidak menyadari adanya masalah. Tapi ciri orang yang mengalami gangguan mental adalah cemas berlebihan. Karena mungkin dia sedang merespon masa lalu, bukan masa kini. 

Mbak Intan juga sempat mengatakan, emosi yang tidak terekspresikan tidak akan mati, tapi akan hidup. Jadi pastikan kita mengenali emosi kita, amati, dan cari tahu apa langkah kita selanjutnya.

Bahagia adalah kita tidak memusuhi sedih, juga tidak menjerat gembira. 

Kesimpulan

Jujur, beberapa kali melihat postingan tentang psikologi, therapy, kesehatan mental, dan lain sebagainya di media sosial atau buku, beberapa ada yang cocok, beberapa ada yang tidak. Ya, itu kembali setiap orang mungkin membutuhkan hal yang berbeda pula dalam proses pemulihan. Untuk kegiatan bersama Ruang Pulih ini, Alhamdulillah saya cocok. 

Satu hal yang penting (reminder buat saya), jangan sampai kita menyalahkan orang lain atas kesehatan diri kita sendiri. Karena kita yang bertanggung jawab atas diri kita, pikiran kita, dll. 

Saya sedang belajar memulihkan diri dari rasa yang mungkin saat ini cukup menggangu produktivitas hidup saya. Saya yakin, pemulihan tidak akan terjadi jika kita hanya belajar teorinya saja. Yang kita perlukan adalah belajar dan praktik. "Ilmu penting, tapi perlu ada laku. Teori dan praktik," kata Mas Adjie.

Rasa bersalah dan  rasa luka di masa lalu yang terus menghantui, wajar jika kita merasakan hal tersebut. Tinggal bagaimana kita menghadapinya di masa kini akankah kita membiarkannya berkembang sehingga mengurangi produktivitas kita, atau berdamai dan menemukan jati diri kita yang terbaik. 

Inti yang ingin saya sampaikan dari cerita pengalaman ini adalah, setiap orang pasti memiliki masalah. Tidak terkecuali saya. Harapannya, semoga kita bisa menemukan cara kita masing-masing agar bisa pulih dan bertumbuh. Mungkin memang butuh waktu, tapi setidaknya kita mulai dulu. 

Semoga juga, tulisan singkat ini bisa membantu teman-teman di luar yang juga sedang berusaha belajar menemukan jati diri. InsyaaAllah saya akan lanjut lagi tulisan ini. Semangat belajar!

Melewati banjir, tidak meronta, tidak juga melawan arus. Mengenai masa lalu, bukan ditekan, bukan dilupakan, bukan dipendam, bukan juga didramatisasi. Mari kita sadar. Sebagian terjebak dramatisasi kesehatan mental. 


Sumber tulisan: https://www.youtube.com/watch?v=sWFDBWEYeAQ
gambar: unsplash.com

1 komentar

Jika Anda pengguna blogger, harap membuat publik profil blogger sebelum berkomentar agar tidak broken link ya.

Sebaiknya jangan anonim agar bisa saling mengunjungi ...

Komentar muncul setelah dimoderasi.
Terima kasih telah membaca dan berkomentar 😊

Salam kenal ...

  1. Setuju dengan pendapat kak Tri.
    Jangan sampai kita menyalahkan orang lain atas kesehatan diri kita sendiri, yang bertanggung jawab atas diri kita, pikiran kita, itu yaa kita sendiri..
    Otw baca sampe bagian terkahir...

    BalasHapus