Tentang Basa-basi, Nasihat yang Tidak Diminta, & Persahabatan

September 20, 2019


Apa yang membuat saya kadang mulai jarang sharing dengan kata-kata sendiri? (Emang ada yang ngeh Tri! πŸ˜…) Atau hanya sekadar 'copy paste' kata orang lain? Salah satunya adalah karena saya mulai takut jika kata-kata saya tidak baik, atau menyakiti hati orang lain, meskipun niatnya tidak seperti itu.

Pernah kalian merasa perlu membuat status/story sebagai bentuk agar diperhatikan atau 'menyinggung' seseorang?

Pernahkah kalian baru membuat status/story beberapa menit namun segera dihapus karena terkesan akan menimbulkan konflik atau kurang pas?
.

Saat ini, orang yang awalnya akrab, bisa jadi bermusuhan hanya karena sebuah perkataan. Orang yang awalnya sahabatan bisa jadi luntur karena ketersinggungan.

Jujur, saya tipe orang yang tidak biasa terlibat konflik. Jika ada konflik 2 kelompok di teman-teman, biasanya saya tidak akan ikut. Saya lebih sering menjadi jembatan komunikasi bagi mereka yang sedang tidak ingin bicara. Bahkan saya pernah meminta maaf berulang-ulang atas kesalahan yang saya tidak saya ketahui sama sekali. Pernah juga saya harus berulang-ulang meminta maaf atas 'perbedaan' pandangan yang menurut seseorang hal tersebut menyakitkan, dan menurut saya tidak ada sama sekali niat menyakiti.



Karena hal tersebut, saya sekarang mau belajar untuk lebih menyaring apa yang saya bagi. Saya akan usahakan hanya menyaring tentang pengalaman pribadi jadi tidak perlu mengomentari orang lain.



Saya minta maaf kepada semua yang pernah merasa saya sakiti hatinya dengan perkataan, status/story yang kurang berkenan, nasihat 'sok tahu', dan pernyataan atau pertanyaan basa-basi yang menyakitkan hati. Tapi sungguh di lubuk hati paling terdalam, saya benar-benar tidak berniat menyakiti hati teman-teman. Saya hanya tipe orang yang kadang susah mengambil tema pembicaraan jadi justru melakukan 'basa-basi' yang tidak diperlukan. Maafkan saya terkadang merasa paling benar, paling menderita, paling sok tahu, dsb.




Di sini saya belajar, tidak semua orang paham dengan yang kita bicarakan. Tidak semua orang mau menerima apa yang kita nasihatkan. Bahkan, seorang ulama pun ada yang benci, begitu juga seorang penjahat, ada yang menyukai. Benar dan salah itu di zaman ini sudah lebih abstrak. Tugas kita sekarang hanya belajar menahan diri berkata yang bisa menyakiti hati orang lain.



Tapi poin penting yang harus kita pegang juga agar tidak terlarut dengan masalah adalah pahami bahwa kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang akan bersikap. Karena kita hanya bisa mengontrol bagaimana kita bersikap. Itu berlaku baik sebagai pelaku 'yang doyan basa-basi nyakitin' maupun untuk para korban sakit hati.



Jangan sampai masalah postingan story, tanya-jawab unfaedah, berakhir pada rusaknya hubungan dan suasana mood kita sepanjang hari. Bukankah hidup ini terlalu singkat untuk dilewatkan dengan cacian, keluhan, dan 'kebetean'?

Let's enjoy semua perbedaan pandangan kita, maupun prinsip kita. Bisa jadi apa yang kita tangisi sekarang akan kita tertawakan nanti begitu pun sebaliknya. Karena bisa jadi kita semua bisa berubah haluan. Seperti Umar bin Khattab yang awalnya musuh Islam nomor satu, justru berbalik menjadi pembela Islam terdepan. Bicara sekenanya, tanggapi secukupnya, nikmati hidup sebaik-baiknya ☺️.

Sumpah demi Allah saya tidak berniat menyakiti siapapun di sini. Please jangan berburuk sangka dulu. Saya di sini benar-benar mau minta maaf, dan berbagi apa yang menurut saya pas untuk semua orang (bagi yang suka basa-basi kayak saya atau bagi yang kadang suka baper dengan kata orang kayak saya juga 🀣, jadi #selfreminder ya). Kita harus pahami kita itu beda. Bhineka Tunggal Ika biar lebih cool, hehe. Jangan sampai karena beda pendapat kita jadi intoleran :)

Semua pendapat itu bisa benar. Semua pendapat juga bisa salah. Tergantung bagaimana kita memandanginya, hehe  ... 😘

Kesimpulannya? Mari kita belajar berkata dengan menyaring terlebih dulu mana yang baik dan mana yang bisa menyakiti hati orang lain. Atau kalau mau cari aman, lebih baik diam.


Resiko dari 'lebih baik diam' mungkin tidak ada lagi kehangatan dan keakraban dalam persahabatan. Namun percayalah, lebih baik begitu daripada tak ada lagi hubungan.

With love,

You Might Also Like

24 comments

  1. Saya juga memilih banyak diam, apalagi jika persepsi saya dan orang lain, berbeda.

    Apalagi jika saya tahu bahwa apa yang akan keluar dari mulut saya akan menyakiti orang lain, meskipun itu merupakan pembelaan diri.

    Yang penting mah saya bisa menerapkan jawaban " iya " & " tidak " pada tempatnya. Jika kedua pernyataan itu bukan jawabannya, salah memilih diam sebagai jawabannya. 🀭🀭🀭🀭🀭🀭

    ReplyDelete
  2. Saya juga tipe yang males ribut ya. Klo debat kusir mending diem aja deh, males hehe. Kecuali klo orang yang kita sayang ya, kudu deh diperjuangin buat nasihatinnya. Tpi mgkn caranya hrs lebih kreatif biar bisa diterima

    ReplyDelete
  3. Dulu saya sering mengalami konflik dengan sahabat karena kurang menjaga omongan. Yah, namanya dengan sahabat dan saudara ya, sudah biasa bersikap dan bicara seadanya. Tapi ternyata nggak semua bisa menerima. Sekarang saya memilih untuk menjadi pendengar aktif saja, hanya memberi nasihat jika diminta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang urusan status aja bisa bikin ribut sama teman. Padahal tujuan pasang status sering kali hanya untuk self reminder eh adaaa aja yang tersindir. Akhirnya jadi malas posting status hehehe.

      Delete
  4. Saya juga malas ribut. Kadang2 update status utk opini sih cuma sekarang update dagangan aja πŸ˜„πŸ˜„

    ReplyDelete
  5. Sedang berlatih kreatif dalam menyampaikan nasihat. Krn emang kita dituntut untuk saling menasihati. Tapi ada yg frontal dan ada ada yg kreatif. Kalau saya di posisi yg tersakiti (sering ini mah wkwkwk) saya kadang suka intropeksi jg sih. Sombong sekali hati saya ini karena merasa diri lebih mulia. Tp dibilang sakit ya iya sih krn saya gak mau diperlakukan buruk kan. Maunya yg baik2 aja gitu

    ReplyDelete
  6. Tapi some time mungkin dengan kita speak up itu akan ada yg berubah meskipun hal yg tidak enak bisa terjadi.menyrut a tergantung kita memahami situasinya

    ReplyDelete
  7. Aduh aku tuh masih suka ngomong sembarangan padahal ga ada maksud jelek. Jadi banyak istigfar setelah baca blog ini. Makasi ya mba sudah diingatkan. Mulai bebenah diri dari sekarang deh :)

    ReplyDelete
  8. betul mba belajar menyaring dan memang tidak semua orang itu paham dengan apa yang kita posting bahkan ada juga yang baperan makanya aku males sharing-sharing apalagi kalau opini sendiri yang merasa benar tanpa memperhatikan sudut pandang lain

    ReplyDelete
  9. Saya tipe yang menghindari konflik banget dulunya, tapi kadang itu malah jadi boomerang. Dulu juga suka pasif agresif, sindir-sindir orang lewat posting medsos, tapi sekarang mah ya saya belajar lebih frontal dan langsung to the point. Because simply we can't please everyone. Tapi saya juga memang ngga pernah lagi bikin post atau status dengan tagar selfnote/self reminder untuk menghindari prasangka orang lain, kalo pun ingin menasehati orang tertentu, ya saya liat dulu konteksnya: siapa orang itu dan hal apa yang ingin dinasehati, lalu ya diutarakan secara langsung saja hehe. Tapi itu saya sih ya..yang lain ngga tau gimana dan berbeda itu ngga apa apa juga kan.

    ReplyDelete
  10. Kalo aku termasuk tim diam dan males basa basi nih mbak, apalagi basa basi hal gak penting. Mungkin gara-gara itu kali ya aku dicap judes dan jadi gak punya banyak teman sampai sekarangπŸ˜‚. Tapi alhamdulillah teman yang aku punya sekarang pun juga ngerti kalo aku orangnya gak suka bawel

    ReplyDelete
  11. Sama mbak. Beberapa hari ini, aku rasa terlalu banyak bicara. Yang secara tidak langsung malah membuka hal-hal pribadi. Pas nyadar, baru mikir, "kok aku ngomong gitu sih, nanti mereka mikir yang aneh-aneh. Duh, keceplosan."

    Kira-kira begitu. Tapi untuk benar-benar bisa diam ketika bersama teman-teman itu rasanya sulit. Ada aja yang bikin bersuara.. haha

    ReplyDelete
  12. Berat ya sebenarnya meski hanya untuk memilih diam. Konsekuensi, tanggung jawab, itu sangat membuat kita beneran berpikir lagi apa yg akan kita sampaikan bermanfaat atau tidaknya.

    Terimakasih reminder nya Mbak

    ReplyDelete
  13. Aku nih mbak seringnya di WA, kalau dirasa ga pantas ya hapus gitu aku.
    Jadi share kata2 yg netral aja, atau pas kebetulan aku butuh untuk charge diriku sendiri gitu mbak. Aku juga sering menjembatani 2 org yg lagi musuhan mbak. apalagi baru2 ini ada kejadian yg dialami temen kerjaku yg awalnya buaik, jadi renggang karena salahsatu di antara mereka bikin status di Wa tapi ga bilang langsung mbak, huhuu.
    Jadi bisa buat pelajaran akunya juga ini,

    ReplyDelete
  14. Dulu saya seneng banget mengomentari sebuah kejadian, sampai sempat beda pendapat dengan teman dan akhirnya jadi kurang sreg untuk ngobrol dengan dia. Doh!
    Tapi belajar dari kejadian itu, saya jadi lebih selektif untuk berkomentar, apalagi menasihati seseorang. Ga perlu beropini deh kalau dirasa unfaedah, apalagi pokok bahasan-nya belum jelas asal usulnya. Kudu saring dulu sebelum sharing.. Hehehe..

    ReplyDelete
  15. Aku sering banget ngalamin konflik mau bikin status tapi ga jadi karena takut apa yang kita maksud itu berbeda dengan maksud yang dirasakan orang lain, akhirnya memutuskan ga jadi update status dan pilih buat repot quotes2 aja. :)

    ReplyDelete
  16. Saya juga tipikal yang orang gak bisa memulai pembicaraan, paling juga hanya kasih senyum aja, menjawab hanya kalau ditanya. Duh. Gak supel yaa.

    ReplyDelete
  17. Bener banget. Mending diam, daripada kita ngomong tapi menyakitkan yaahh.
    Tapi kadang kita diam aja masih sering lho dinyinyirin orang, jadi serba salah juga, padahal kitanya mah pengen menghindari konflik.

    ReplyDelete
  18. Kalau lagi becanda-becanda, kadang keceplosan terucap kalimat yang mgk bisa membuat orang lain merasa tersindir (teman yang saat itu berada tak jauh dari kami. Pernah kejadian ini, pas ngomongin BB dan kebetulan di dekat kami ada teman yang BBnya di atas rata-rata).
    Meski sama sekali tak bermaksud menyindir, tapi kalau sdh becanda kadang khilaf terucap kata yang bermakna membully.

    Kalau bikin status, sudah lumayan lama saya jarang bikin status yang sifatnya curhat, lebih milih bikin status share postingan blog/IG.

    ReplyDelete
  19. Kalo di story, saya jarang curhat. Seringnya di fb dan Twitter hehe... Memang belakangan ini juga sering gagal nyetatus karena khawatir bikin orang tersinggung.

    ReplyDelete
  20. Kalau di tip kepribadian, termasuk phlegmatis kayaknya, ya, Mba. Sama soalnya. Sering malah memilih untuk tidak berpendapat daripada bikin orang lain tersinggung. Di sisi lain, jarang berpendapat juga bisa bikin skill komunikasi kurang terasah sih, jadi sekalinya aku berpendapat eh bahasanya kurang pas juga, hiks...

    ReplyDelete
  21. Saya kalo orangnya nggak minta nasihat lebih baik diem aja. Dari pada ntar malah salah terima dan nggak enak hati.

    ReplyDelete
  22. Aku punya teman yang orangnya kalo menyampaikan hal baik itu langsung gitu.. jadi kadang kalo kitanya ngga siap bisa baper.. tapi menurut aku itulah persahabatan.. maksudnya baik untuk kita.. tapi kita juga harus paham dan jangan baperan hehe itu sih pengalaman aku

    ReplyDelete
  23. Jaman muda dulu aku termasuk orang yang panasan kak, enggak bisa kesenggol dikit tapi sekarang semakin berumur mulai berubah mengontrol emosi dan kalau inget masa lalu yaelhaaaa hahahha

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca dan berkomentar :)
Komentar akan muncul setelah dimoderasi
Untuk komentar berisi link mohon maaf tidak akan dipublikasikan
Salam kenal :D