5 Hal Unik dari Banjarmasin, Mulai Tradisi Lisan, Hingga Soal Nikahan


Saya orang Bugis, dari Sulawesi Selatan. Nah, kebetulan saya sudah tinggal di Kalsel (tepatnya Barito Kuala) merantau kurang lebih 6 tahun. 

Artikel ini diikutsertakan dalam ODOP ICC X Mubadalah.id)

Tidak kepikiran sebelumnya bakal merantau di sini. Ada cerita unik sebelum saya menjejakkan kaki di Pulau Kalimantan ini.

Awalnya cuma bekerja, eh sekarang udah punya little family. Takdir siapa sangka merantau sendiri, pulang-pulang bawa suami 😂.

Eh tapi saya enggak bakal cerita tentang saya. Saya akan cerita tentang tempat merantau saya ini. Meski bukan asli sini, lumayanlah saya sudah bisa bahasa Banjar dikit biar dimurahin sama penjual sayur di pasar, hihi.

Katanya mau cerita Banjarmasin, tapi kok tinggalnya tidak di Banjarmasin?

Barito Kuala sebenarnya dekat dengan Banjarmasin, apalagi saya di ujungnya. Cukup 10 menit berkendara, saya sudah bisa berada di perbatasan Banjarmasin-Barito Kuala. 

Dan orang biasanya cuma kenal Banjarmasin. Jadi kalau ada orang luar yang nanya saya tinggal di mana, saya bilang aja Banjarmasin, hehe. Saya akan cerita hal unik Banjarmasin secara umum saja ya ...

Bisa dibilang bahasa daerah sini juga kental banget, seperti bahasa Jawa yang dari balita sampai yang udah lanjut usia pasti tahu. 

Beda sama bahasa Bugis, sudah banyak yang tidak tahu seperti halnya saya (jangan ditiru) 😐. Udah pembukaan panjang sekali, langsung saja deh, 5 hal unik dari Banjarmasin selama saya tinggal di sini, apa saja?

1.Tentang Tradisi Lisan : Mahalabiu & Madihin

MAHALABIU; asal katanya adalah "halabiu", adalah sebuah tempat di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang bernama Alabio, terkenal dengan peternakan itiknya, dan tempat pertama kali Ormas Muhammadiyah masuk di wilayah Kalimantan Selatan. Kata "Halabiu" dikarenakan pengucapannya dalam dialek Banjar. 

Arti dari "Mahalabiu" ini adalah; seseorang yang sangat pandai bersilat lidah dalam berbicara terhadap lawan bicaranya untuk mengelabui 

Kalau saya pribadi ngelihat tradisi ini mirip stand up comedy gitu, tapi dalam bahasa Banjar. Kadang saya mengerti kadang enggak bisa mengerti bahasanya 😑. Bahkan ada acara TV lokal memang khusus untuk Mahalabiu ini loh, keren kan?

Kesenian lisan lain dari suku Banjar biasa dikenal dengan seni “Madihin”. Madihin sendiri berasal dari serapan bahasa Arab yang artinya nasihat. Sampai sekarang masih sering ada madihin ini di acara-acara tertentu (kecuali pandemi mungkin sudah berkurang).

Seni Madihin merupakan seni berpantun atau bersyair yang memiliki rima-rima tertentu dan biasa disajikan dengan cara bersaut-sautan antar satu Pamadihin (sebutan bagi seniman madihin) dengan Pamadihin  lainnya. 

Dalam satu pementasan biasanya terdapat 2 – 4 orang Pamadihin  yang saling unjuk kebolehan.

Kalau ini keren banget beneran! Lucu pula! Bahasanya kadang gampang dipahami (Bahasa tidak 100% banjar). Jadi seru aja seperti berpantun tapi memiliki sisi humor. 

2.Tentang Makanan : Sarapan Bersantan, Masakan Habang & Cerita Tentang Teh

Saya pernah nonton di salah satu TV lokal di sini kalau katanya di Banjarmasin ini, sarapan di warung itu seperti sudah menjadi budaya. Tujuan mereka salah satunya adalah bagaimana agar tetap bisa menjalin silaturahmi dengan warga sekitar. Jangan heran jika banyak warung yang buka di pagi hari. 

Cerita mengenani sarapan di warung, dulu saya pernah dibawa pertama kali rekan kerja ke pasar tradisional di sini.

Sebelum belanja saya diajak dulu makan pagi lontong khas Banjarmasin. Secara umum seperti lontong sayur, tapi bentuknya sedikit beda dan lebih minimalis.

lontong banjarmasin
Lontong Khas Banjarmasin, foto: genpi.id

Ternyata orang sini senang dengan sarapan yang bersantan seperti lontong dan katupat kandangan. Nasi kuning juga banyak banget, dan paling khas dari nasi kuning, lontong, dan katupat kandangan adalah iwak (lauk) masakan habang. 

Masak habang adalah masakan ikan gabus, ayam, atau telur dengan warna merah, yang diolah dari cabai kering.

Soal minuman, teh tetap menjadi andalan. Tapi kalau pesan teh hangat, jangan kaget kalau kita disuguhi teh panas mengepul! (Awalnya saya enggak tahu, saya pikir mungkin penjualnya memang enggak tahu bikin teh hangat 😳).

Tapi baru saja saya browsing tentang budaya banjar, ada blog yang menceritakan bahwa kalau teh hangat yang kita pesan maka maksudnya adalah teh panas. Dan itu memang khas banjar. Dan kalau lihat menu minuman, untuk jenis minuman teh dingin, tulisannya bukan es teh, tapi kebalik teh es 😎.

3. Tentang Tradisi Saat Ulang Tahun Kota : Lomba Hias Jukung

Setiap ulang tahun Banjarmasin, maka pemerintah akan mengadakan acara besar-besaran. Salah satu acaranya adalah hias jukung (menghias perahu). 

lomba hias jukung banjarmasin
Hias Jukung, foto: tribunnews.com

Untuk yang enggak mau kena macet, jangan coba-coba keluar di saat acara ulang tahun ini berlangsung! Karena mungkin hampir semua penduduk Banjarmasin keluar rumah! (ini lebay fix 😅). 

Tapi pokoknya cantik deh perahunya, apalagi acara diadakan malam hari, penuh dengan lampu-lampu hiasan di sungai hehe.

4. Tentang Kota Seribu Sungai : Rumah Terapung & Pasar Terapung

Pertama kali lihat rumah di sini, saya cukup heran. Kok rumah batu di atas rawa? Di atas sungai? Kalau rumah kayu sih mungkin wajar, tapi ini rumah batu lho! Pondasinya hanya kayu 😱.

Ternyata Banjarmasin memang dikenal sebagai kota rawa dan kota seribu sungai.

Sehingga untuk membeli rumah, kalau tidak mampu atau belum sempat menimbun tanah, hanya bisa menggunakan kayu sebagai pondasi. Selain itu hampir tiap berapa meter akan kita dapati jembatan karena banyaknya sungai.

rumah batu banjarmasin terapung

Nah ternyata saat ini juga masih banyak orang-orang yang berjualan di atas perahu. Khususnya di pasar terapung. Kayak di iklan RCTI itu loh, haha. Ada yang ingat? Mau tahu langsung? Datang aja! 😳

5. Tentang Sosial : Nikahan Unik

Nah, kalau biasanya di nikahan hanya disediakan kursi untuk makan, berbeda di sini. Yaitu kita disediakan meja untuk makan.

Jadi jangan bingung jika tiap nikah udah kayak warung, meja lengkap dengan kursi. Makanya butuh tempat yang cukup luas untuk meletakkan sekian banyak meja untuk tamu. Bahkan bisa menutupi beberapa rumah tetangga!

adat makan di banjarmasin
meja makan di nikahan, foto: hasanzainuddin.wordpress.com

Selain itu dari segi makanan disediakan dalam bentuk berbagai macam. Umumnya ada gado-gado, soto banjar, bakso, rendang, dan lainnya.

Yang uniknya makanan itu sudah disediakan dengan pos masing-masing, di mana piring ditata bertumpuk dan sudah diisi setengah. Nanti tinggal minta petugas/panitia acara untuk menambahkan kuah, nasi, ataupun bumbu kacang pada piring kita. 

Jadi untuk meja tempat makanan pun disediakan sangat luas. Tak jarang orang sini bisa mencoba berbagai makanan sekali datang 😅. Kalau di Sulawesi makanan yah 1 pos aja. Paling banyak 2 biar enggak antri. Tapi makanannya sama yaitu prasmanan, hehe.

Penutup

Gimana? Pernah ke Banjarmasin? Sudah rasain semua di atas? Atau ada cerita lain? Sebenarnya tradisi atau budaya di atas kurang lebihs ama di seluruh Kalimantan Selatan, bukan hanya di Banjarmasin saja. Tapi kurang tahu kalau di budaya di Kalimantan Timur atau yang lainnya.

O ya kalau ada yang salah dengan cerita saya di atas atau mau ditambahkan boleh komentarnya yah 😇. 

Maklum saya bukan orang asli Banjarmasin 😳. Sebenarnya masih banyak budaya-budaya unik di sini yang mesti disampaikan. Tapi mungkin di tulisan lain yah. Sampai jumpa di postingan berikutnya 😋.

Sumber tulisan:
ilmuseni.com, kompasiana.com
Sumber gambar:
kalimantan.bisnis.com
genpi.id
Next Post Previous Post
1 Comments
  • iffiarahman.com
    iffiarahman.com 25 Jan 2021 10.52.00

    Jadi pengen ke banjar baca ulasan ka tri yang ini

Add Comment
comment url