Seni Tidak Peduli

"Jangan mencoba menjelaskan tentang dirimu kepada mereka. Karena yang membencimu tidak akan percaya itu, dan yang menyukaimu tidak butuh itu." ~ Ali bin Abi Thalib

Ada sebuah kasus, si Mawar (nama samaran), merasa kesal dengan si Raflesia. Raflesia ini mengatakan sesuatu yang membuat dia sakit hati.

Raflesia sendiri tidak merasa telah melakukan kesalahan. Akhirnya dia tetap minta maaf, tapi si Mawar mengaku tidak bisa terima. 

Dia akhirnya sering memasang status yang banyak di media sosial untuk menyinggung Raflesia. Ah, dasar anak zaman sekarang

Raflesia yang tidak tahan akhirnya memblokir si Mawar. Setidaknya ketika Mawar tahu statusnya tidak akan terlihat, maka dia tidak perlu memasang status lagi. Dia bisa tenang, Raflesia juga bisa tenang.

Pernah mengalami kejadian seperti itu?

Terkadang, ada beberapa masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan begitu saja. Apalagi problem solving via online. Sulit!

Konflik yang tidak disengaja saja bisa berbuntut panjang, bagaimana jika memang konflik yang disengaja?

Jika Anda menjadi Raflesia, apakah akan kesal? 

Kesalahan yang tidak diniatkan, namun ternyata membuat orang lain sakit hati. 

Akhirnya demi kebaikan bersama, Raflesia memilih memutus semua kontak dengan Mawar. 

Lalu, kekesalan apa lagi yang pernah Anda rasakan? 

Orang yang Suka Mengurusi Hidup Anda

Ada lagi, orang yang senang sekali mengomentari setiap langkah yang Anda lakukan. 

Laiknya seorang komentator acara gosip, dia akan mencoba menilai titik demi titik kelemahan yang Anda tampilkan.

Anda ingin berjalan di karir A, katanya itu bukan karir yang baik.

Anda ingin mencoba karir B, katanya itu tidak cocok untuk Anda.

Anda tidak melakukan apa-apa, katanya Anda pemalas.

Anda mungkin pernah menemukan orang seperti ini. Bukan hanya orang luar, keluarga juga bisa ikut andil. 

Pernah lihat video asal Thailand tentang keluarga yang mengomentari keponakan sendiri soal pilihan menikah dan tidak, juga pilihan bekerja yang ini salah dan tidak? 

Itu kenyataannya. Kadang, sesuatu yang harus diurus sendiri terpakasa melibatkan keluarga. 

Namun jika ada masalah, yang disalahkan tetap kita yang menjalani. Padahal memang seharusnya dari awal, sudah jelas bahwa ini hidup kita. Kita yang bertanggungjawab.

Positifnya, mungkin mereka memang betul-betul peduli terhadap kita. Tapi caranya sedikit keliru. Tidak apa, maafkan saja. Sambil jelaskan kalau mereka tidak perlu serepot itu.

Pikirkan saja, mungkin memang kita sangat penting sampai harus diperhatikan sedetail itu.

Orang yang Selalu Iri dengan Pencapaian Anda

Anda mengunggah status sebuah prestasi, mungkin berniat sebagai rasa kebanggaan untuk diri sendiri. Juga sebagai portofolio. 

Tapi hati-hati, mungkin di luar sana banyak yang tidak menyukai hal tersebut. 

Dikatakan apa yang kita lakukan mungkin karena bantuan orang. 

Apa yang kita lakukan mungkin tidak seberapa. 

Apa yang dia lakukan jauh lebih berat. 

Atau mungkin, Anda dikatakan sudah terlahir dari orang yang sudah memiliki semuanya? Anda hanya meneruskan pekerjaan yang sudah?

No no no, semua bisa melihat kalau Anda bekerja keras. 

Tidak ada yang salah dengan lahir dari orang kaya. Itu sebuah takdir. Tinggal bagaimana Anda menjalankannya.
seni bodo amat

Orang yang Hidup dengan Seenaknya

Mereka meminjam ini, meminjam itu. Mungkin kiamat pun tidak ada niat untuk mengembalikan. 

Ada juga yang dengan enteng sering mengganggu kapan pun dia mau. 

Ketika ditolak, dengan drama India-nya dia akan menangis atau bahkan memaki. Begitulah. 

Jika bertemu orang ini, jauhilah. Carilah alasan kenapa Anda tidak perlu berurusan lagi. 

Mereka hanya akan menghabiskan energi Anda.

Beranilah menolak. Menolak bukan hanya baik untuk Anda, tapi baik untuk dia. 

Biarkan dia tahu rasanya ditolak. 

Biarkan dia tahu kalau apa yang diinginkan tidak selamanya berjalan baik. 

Biarkan dia tahu, kalau yang dia lakukan itu salah.

Setelah itu, jangan hubungi dia lagi. Atau berpura-puralah tidak mengenalnya. Tapi jika dia yang memulai, tidak apa, sapalah sekenanya. 

Hubungan sekadarnya bukanlah tindakan kriminal.

Orang yang Merasa Dirinya Baik

Ada, yang senang bermain playing victim. Merasa jadi korban atas orang lain. 

Padahal, dialah tersangka sebenarnya. Jika bertemu orang ini, jangan mencoba terlalu akrab dengannya. 

Hal-hal yang dia lakukan salah, namun dia merasa dia benar. Jika dinasihati, dia akan merasa menjadi korban yang tidak berdaya. 

Jangan acuhkan dia, dia tidak penting untuk kelangsungan hidup Anda.

Dia hanya akan terus mencari orang yang bisa dia salahkan. 

Anda Dibilang Terlalu Baik

Anda senang membantu orang, tapi terkadang, orang memanfaatkan kebaikan Anda. 

Anda tidak bisa memilih, di mana kebaikan akan tersalurkan dengan tepat. 

Teruslah berbuat baik meski orang mengatakan Anda terlalu baik. 

Tidak ada yang salah dengan berlaku baik. 

Ketika Anda baik pada A, mungkin ada Z nanti yang akan membalasnya.

Mungkin butuh waktu yang lama. Tapi biasanya, kesabaran yang lebih lama, akan menghasilkan yang lebih besar.

Ketika Anda melakukan sesuatu yang Tidak Orang Lain Lakukan  

Anda melakukan kesalahan, Anda minta maaf. 

Dia melakukan kesalahan, dia sama sekali tidak meminta maaf. Kesal? Pasti. Tapi itu bukan poinnya. 

Anda harus tahu, tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama. Jangan berekspektasi terlalu tinggi terhadap orang lain akan melakukan hal yang sama dengan kita. 

Fokuslah apa yang bisa kita kendalikan, karena kita tidak bisa mengendalikan orang lain.

Penutup 

Seni tidak peduli, sebuah seni yang ingin mirip dengan seni bodo amat. Katanya, balas dendam terbaik adalah tidak peduli.

Ketika tidak peduli, sama saja dengan kita berusaha untuk sama sekali tidak memikirikan hal-hal yang bisa mengganggu.

Sebuah nasihat lama, hidup ini terlalu indah untuk memikirkan hal yang bikin gundah, dan terlalu singkat untuk terlalu merasa melarat. 

Terakhir, sekesal apapun Anda, tolong jangan berkata kasar. Tidak ada kebaikan sedikitpun dari kata-kata hujatan dan makian selain kepuasan yang fana. 

Sumber gambar: unsplash.com

Next Post Previous Post
5 Comments
  • Mugniar
    Mugniar 16 Jan 2021 15.56.00

    Seni tidak peduli. Terdengar sederhana tapi pada kenyataannya sulit sekali penerapannya.

    • Triyatni A.
      Triyatni A. 11 Feb 2021 17.08.00

      betul hehe. #selfreminder

  • Marita Ningtyas
    Marita Ningtyas 11 Feb 2021 16.32.00

    Suka banget sama quote penutupnya Kak Tri. Dulu waktu masih muda dan meletup-letup, suka keceplosan berkata kasar kalau lagi memuncak amarahnya. Alhamdulillah bertambah umur, sudah bisa kontrol emosi lebih baik. Thanks buat pengingat manisnya ini ya.

    • Triyatni A.
      Triyatni A. 11 Feb 2021 17.14.00

      Betul ya saya pun begitu. Semakin dewasa rasanya makin sadar diri wkwk. Terima kasih sudah baca ini Mbak

  • fanny_dcatqueen
    fanny_dcatqueen 12 Feb 2021 16.09.00

    Ah, aku suka kata2 trakhir. Jangan berkata kasar sekesal apapun kita. Krn memang hal begitu ga ada gunanya. Masalah ga akan selesai hanya dengan memaki-maki :).

    Aku tipe yg sangat cuek sbnrnya mba. Orang2 yg aku anggab toxic, biasanya ga pake lama pasti aku delete dr medsos dan kontakku. Block kalo keterlaluan. Ga usah capek2 ngelakuin konfrontasi dan lainnya, buang tenaga soalnya.

    Awal2 susah kok, utk bersikap ga peduli Ama kata2 orang. Wajarlah kita pasti baper, tersinggung dll. Tapi setelah aku pikir dalem2, apa gunanya aku marah dan mikirin perkataan dia. Mungkin malah itu yg dimaui si toxic person, bikin kita marah. Akhirnya aku belajar pelan2, orang begitu cuekin aja. Ga ada guna diperhatiin. Bikin dia malah kesenengan :p

Add Comment
comment url