BlogKakTri
Lifestyle Blogger, Talk About Blogging, Parenting,Traveling, Tips, Review, and Lifestory by Triyatni Ashari

Cerpen: Perjuangan Sembuh dari Covid (Based on True Story)

Keterangan POV: 
Warna biru: POV suami
Warna hitam: POV istri

“Mas, jemput di perempatan ya,” kataku mengakhiri telepon dengan Mas ojek online yang sudah kupesan.

“Langsung berangkat Mas?”

“Iya dong, masa mau tidur dulu?” 

Kami berdua tertawa ...

Aku pun segera naik dengan bawaan yang cukup berat. Ah, ini bakal jadi hari yang panjang. Harus keluar kota. Tidak bisa ketemu istri dan anak. Mereka sendirian pula. Gimana anakku kalau kangen?

“Mas, sebenarnya COVID itu ada enggak sih?” di tengah perjalanan tiba-tiba Mas-mas ojek ini mengaburkan lamunanku. 

“Hmmmm,” aku bingung mau jawab apa.

“Katanya sih cuma dibuat-buat kasusnya, buktinya aman-aman aja tuh.”

Dalam hati antara ingin ketawa tapi sekaligus kasihan. Soalnya aku memesan Mas-mas ini ini agar bisa ke tempat perkumpulan menuju karantina milik pemerintah. 

Ya, aku positif COVID-19 (tolong jangan bully aku karena ini, aku tahu perbuatan ini salah karena memesan ojek saat positif). 

Semoga saja Mas-masnya enggak tertular. Aku terpaksa menggunakan ojek karena istriku sedang tidak fit untuk mengantarku ke tempat kami berkumpul. Juga motor aku simpan untuk istriku. Apalagi  di Surabaya ini kalau enggak pakai motor bakal susah. Tinggal di gang-gang yang sempit memang begini resikonya. 

Selama di perjalanan, aku berusaha duduk agak jauh dan tetap menggunakan masker dan memakai handsanitizer sesering mungkin. 

…..

7 hari sebelumnya … 

“Dek, katanya Pak RT tetangga kita meninggal,” kata suamiku sambil menunduk masih menatap gawainya seperti tidak percaya.  

Deg.

Kaget. Jantung ini berdegup kencang. Tidak terasa air mata mengalir. Seketika aku memikirkan Bu RT. Anaknya 3 orang. 

Masih kecil-kecil dan masih usia sekolah. Yang sulung kelas 5 SD, anak tengah kelas 1 SD, dan yang bungsu masih usia 4 tahun. Bagaimana keadaan mereka sepeninggal Pak RT?

Semalam padahal baru saja kami mendengar bahwa Pak RT yang seminggu ini sakit sesak napas, dan ketika dibawa ke rumah sakit ternyata Pak RT positif COVID-19. 

“Mas, Pak RT bisa aja sembuh kan? Pak RT masih 40-an kan? Banyak yang sembuh kan?” Tanyaku memastikan malam itu pada suami.

Suami mengangguk meyakinkan sambil menarik napas. Dia juga berharap sama. Namun apa daya di pagi hari kami menerima kabar buruk.

Malam sebelum mendengar kabar Pak RT meninggal, aku memimpikan seseorang lain meninggal. Entah kok bisa bersamaan. Aku sedih sekaligus merinding mengingat mimpiku malam tadi.  

Kami sangat dekat dengan keluarga beliau. Karena kami tetanggaan persis sebelah rumah. Terkadang Bu RT menitipkan anaknya di rumah kami. O ya kami tinggal di Lidah Wetan Surabaya. Di sini, acara berkumpul dengan tetangga masih sangat aktif. Berbeda dengan tempat asal kami.

Karena protokol kesehatan. Kami dilarang menjenguk atau ziarah ke rumah Bu RT. Beliau akhirnya sendiri menghadapi hal berat ini. Ah, andai aku bisa memeluknya. 

Aku pun mencoba untuk video call. Karena video call jalan satu-satunya menghibur beliau. Ya Allah kuatkan beliau. 

“Bu RT?” sapaku kembali setelah sekian menit video call hanya diisi tangisan beliau.

“Iya Mama Husain,” jawab Bu RT sambal menghapus air matanya. 

“Maafin suamiku ya kalau banyak salah ya.”

“Enggak ada Bu, beliau orang baik. Rajin beribadah, senang berbagi. Beliau juga bapak yang baik, insyaaAllah Surga kelak untuk beliau.”

“Aamiin. Makasih ya Mama Husain. Aku enggak tahu lagi. Aku sendiri di sini. Anak-anak nanyain ayahnya. Yang gede udah paham. Yang kecil 4 tahun ini masih beberapa kali nanyain. Pas tidur malam biasanya sama ayahnya, sekarang malam-malam pasti nyariin bilang mau tidur sama ayah. Gimana aku gak tega Mama Husain.” Lagi-lagi tangisan Bu RT meluap.

Aku pun tak kuasa menahan tangis. Aku juga tidak tahu jika berada di posisi beliau. Hanya do'a dan dzikir yang bisa aku bantu untuk menenangkan hatinya. Katanya nanti Bu RT akan kembali ke rumah orang tua beliau di Purwokerto. 

“Tapi jauh dari lubuk hatiku yang terdalam, aku sebenarnya iri Mama Husain sama ayahnya anak-anak. Saking Allah sayang sama beliau, beliau dipanggil cepet. Kata ceramah Ustadz yang pernah kudengar, orang yang meninggal karena wabah InsyaaAllah syahid. Meski tidak ramai yang menyalatkan, tapi Malaikat yang turun langsung. Aku yakin itu.” Bu RT juga menjelaskan panjang lebar kalau beliau ikhlas dengan kejadian ini. 

MasyaaAllah aku merinding. Aku melupakan hal ini. ternyata memang keluarga mereka spesial. Itulah mengapa Allah memberikan mereka ujian seberat ini. Allah akan angkat derajat keluarga mereka. Semoga Allah kumpulkan mereka di Surga. Aamiin. 

6 hari sebelum karantina…

Keesokan harinya suami meriang dan badannya hangat. Aku khawatir suami juga kena. Kami akhirnya mulai rajin minum vitamin, makan jeruk yang katanya bagus, juga merebus air dengan berbagai olahan rempah-rempah. Dari Satgas COVID-19 mengabarkan bahwa semua yang pernah berinteraksi dengan Pak RT selama kurun 14 hari wajib isolasi mandiri dulu. 

Tapi semuanya tetap wajib swab test dengan tanggal yang sudah ditentukan. Apalagi suami punya gejala. Suami pun menuju ke kecamatan terdekat untuk melaksanakan swab test massal bersama beberapa tetangga lainnya. 

swab test

2 hari sebelum karantina …

Suami ternyata positif COVID. Aku sebelumnya sudah ada firasat jadi tidak kaget lagi. O ya awalnya non reaktif saat menggunakan rapid test. Terbukti bahwa tes COVID-19 memang butuh berkali-kali. 

Suami diminta untuk pisah kamar dengan aku dan tetap menggunakan masker di rumah. Tapi karena suami terkadang badannya masih hangat naik turun, mau tidak mau aku merawat suami. 

Katanya 2 hari lagi akan menuju ke karantina. Tempat karantina sekitar sejam dari sini. Di sana ada bangunan Asrama Haji yang cukup luas.

Sebenarnya karantina di rumah pun bisa. Namun kata orang-orang, Satgas Covid-19 akan sering melakukan pengecekan. 

Rasanya akan kurang nyaman jika seperti itu. Selain itu karantina juga bagus karena kita tidak perlu kontak dengan orang lain, sehingga mereka tidak akan tertular dari kita. 

Sehari sebelum karantina …

Aku tiba-tiba meriang, kaki tangan ngilu, tenggorokan sakit dan susah berdiri. Kenapa aku juga sakit? Mana besok suami mau berangkat lagi.

Saat itu aku merasa bahwa juga aku positif. Karena aku tipe orang yang jarang banget sakit. Juga mengingat interaksi dengan suami sebelum ada isolasi mandiri. 

Sayangnya kemarin kami tidak diikutkan swab test bersama suami karena tidak ada interaksi dengan Pak RT. 

Tes COVID memang hanya dilaksanakan seminggu sekali. Aku masih harus menunggu jadwal dari kecamatan. Kalau ikut bareng kemarin kan hasilnya bisa tahu sama-sama. Jadi bisa sama-sama karantina. 

Alhamdulillah malam harinya aku sudah mendingan. Namun aku tetap harus mengikuti jadwal swab test yang sudah dilaporkan. 

Di zaman ini semua interaksi seperti ini kami lakukan via grup Whatsaap. Jadi para masyrakat RT kami dikumpulkan satu grup oleh pihak Satgas. Semua yang mengalami gejala wajib lapor dan langsung disiapkan jadwal swab.

Sehari setelah suami karantina …

Meski sudah tidak meriang, tenggorokan rasanya masih terganggu. Belum lagi gejala hilangnya indra penciuman. Kalau biasanya si kecil BAB baunya kecium hingga beberapa meter, kini enggak tercium sama sekali. 

Apalagi bau masakan sama sekali tidak terasa. Aneh, padahal hidung enggak pilek atau mampet. Dalam hati mikir luar biasa juga ya virus ini. Bisa ngilangin indra penciuman sedemikian rupa. 

2 hari setelah suami karantina …

Tibalah hari di mana kami harus swab. Mengingat ini swab yang gratis, wajar jika tidak ada fasilitas yang sama seperti di RS lainnya. Kami menunggu dengan kursi yang terbatas. Jadi terkadang harus berdiri saja.

Kurang lebih 3 jam baru mendapat giliran untuk dipanggil. Rasanya mau pingsan apalagi bawa si kecil. Alhamdulillah si kecil tidak ada gejala apapun. 

Saat pertama kali merasakan swab itu rasanya mau nangis. Ada benda panjang yang dimasukkan ke hidung dan tenggorokan. Dan itu letaknya dalaaaam sekali. Rasa mau muntah jadinya.

Si kecil apalagi nangis tidak karuan. Belum lagi swab ini harus dilakukan dua hari berturut-turut. Mungkin takut ada kesalahan. Hasil yang positiflah yang diambil.  

3 hari setelah suami karantina …

Aku dan anak aku ternyata memang positif. Aneh, tidak ada rasa sedih. Justru aku senang bisa berkumpul sama suami. Memang sesulit apapun keadaan, berkumpul adalah yang paling utama. Anak aku, Husain, untungnya ceria-ceria saja. Hanya kami dan suami yang mendapat gejala. 

PR selanjutnya mengabari keluarga. Sebelumnya suami sudah mengabari orang tua kami semua. Kini kami harus mengabari bahwa aku dan Husain juga harus karantina di Asrama Haji.

Tidak terbayang perasaan keluarga kami. Apalagi saat itu masih bulan Agustus 2020, saat COVID masih menjadi momok yang cukup menakutkan. Pesta pernikahan belum berani dilaksanakan. Berbeda dengan tahun 2021 ini yang terdengar sudah biasa saja dan pesta sudah ada di mana-mana.  

Untung dekat rumah sini, aku punya keluarga meski keluarga jauh. Iparnya sepupuku. Aku akhirnya menitipkan motor di rumahnya lalu kemudian naik taxi online menuju tempat perkumpulan karantina.

Aku masih menyembunyikan soal ini pada keluarga yang lain. Termasuk keluarga yang aku titipi motor. Aku bilang padaya bahwa kami akan pulang kampung karena suami dinas ke luar kota. 

Di tempat karantina …

Sesampainya di tempat karantina, kami tidak langsung turun dari mobil. Kami sekitar 6 orang saat itu. Pak Supir menggunakan APD lengkap. Tentunya hal tersebut sangat tidak nyaman. Petugas karantina memberikan kami kertas untuk ditandatangani. Kurang lebih isinya tentang kesediaan menjalani karantina dalam rentang waktu tertentu.

Mobil kami juga disemprotkan desinfektan terlebih dahulu sebelum turun. O ya sebelum berangkat dari kecamatan sebelumnya, barang-barang kami dan tubuh kami juga sudah disemprot semacam cairan anti virus. 

Kami pun segera masuk sesuai dengan pembagian kamar masing-masing.

Bayanganku tentang tempat karantina sangat berbanding terbalik. Aku mengira mungkin kami akan mendapat tempat yang kurang nyaman dan sebagainya. Ternyata fasilitasnya lebih dari cukup.

Kami mendapat tempat tidur AC, juga kamar mandi di dalam kamar sendiri. Kami juga mendapat menu gratis 3 kali sehari yang bervariasi. 

Tiap jam makan, kami mendapat satu boks kotak makanan berat dengan 4 jenis protein dan nasi yang super banyak. Ditambah satu boks camilan berisi kue dan buah. Di pagi hari kami pasti mendapat satu buah telur rebus dan susu dengan gambar naga untuk diminum. 

Senangnya si kecil diberikan menu khusus sesuai yang disuka atau apakah ada alergi atau tidaknya. Dan memang ternyata menunya pasti berbeda dengan kami. Dengan makanan sebanyak itu, kadang menghabiskannya butuh waktu lama. 

Pernah aku meminta agar porsinya dikurangi, namun ditegaskan pihak medis di sana bahwa itu adalah makanan Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP). Yang memang disengaja agar menaikkan imun dan segera sembuh.

“Ini mah pasti gendut kalau pulang haha,” kelakar suami saat menceritakan menu makannnya pas hari pertama karantina melalui video call.  

Kami juga diberi vitamin satu pak untuk diminum setiap hari. Jadi tidak ada obat khusus. Tapi lebih ke asupan nutrisi yang “diperbaiki”.

Di sini juga ada dokternya. Para penjaga menggunakan APD dan tiap pagi memeriksa tensi kami. Selain itu jika ada keluhan seperti sakit kepala misalnya, kami akan diberi obat.

Cara memberi obatnya agar tidak ada interaksi (dan tidak perlu repot pakai APD terus-menerus tentunya), adalah diletakkan di tempat tertentu bersama obat pasien lainnya. Semua komunikasi kami lakukan via Whatsapp. 

Terkadang tiap pagi dan sore kami juga melakukan senam bersama "Bapak Tentara", atau olahraga mandiri. Seperti badminton atau pimpong. Tentu semuanya tetap wajib menggunakan masker.

karantina covid

Bisa dibilang suasananya sama sekali tidak seperti tempat untuk orang yang sakit. Kami sesama "karantinaers" saling mengobrol dan bercanda seperti biasa. Tentunya dengan jaga jarak dan menggunakan masker. 

Bahkan di hari pertama, inisatif senam datang dari teman-teman. Ada yang dengan sukarela jadi instruktur senam dadakan. Karena sebelumnya jadwal yang diberikan bebas. Berbeda dengan tempat karantina lain yang katanya memiliki jadwal khusus untuk itu. 

Ah, kalau mengingat itu lucu sekali. Sebagai orang-orang senasib, kami cuma berusaha untuk tidak banyak pikiran. Menjalani semuanya dengan santai. 

Di karantina aku juga tidak bisa sekamar dengan suami. Karena saat kami datang alhamdulillah suami sudah negatif di swab test terakhir. Jadilah suami berada di asrama khusus bagi yang sudah negatif. 

Meskipun negatif, peraturannya kami harus menghabiskan 14 hari karantina agar mendapat surat keterangan negatif. Itu juga digunakan untuk menjaga agar tidak ada kesalahan tes. Karena katanya setelah 14 hari baru bisa yakin bahwa virus sudah melemah. 

Kerjaan kami di sana hanya istirahat (ya kami rutin tidur siang), makan, berjemur dan olahraga. Begitu terus berulang. Enak sih bebas dari pekerjaan masak 2 minggu (dasar emak-emak). 

Tapi ternyata cukup membosankan juga. Rasanya pengen cepat-cepat sembuh aja gitu. 

O ya makanannya enak-enak lho. Pernah menunya bakso atau mie ayam. Siapa yang enggak senang? Hehe.

Akhirnya kami semua sembuh …

Setelah aku dan Husain melalui karantina 14 hari--berarti suami sekitar 19 hari--kami akhirnya akan balik ke rumah (sebelumnya aku dan Husain sebenarnya sudah negatif sejak hari keempat di karantina).

Saat akan pulang, ada pengarahan di sebuah aula dan kami masing-masing dibekali sembako. Jadi total ada 3 keranjang sembako yang berisi beras, telur, gula, sirup, kental manis dan mie instan. 

Katanya sih kalau udah kena bisa lebih kuat imunnya. Akan susah kena lagi. Tapi itu tidak menutup kemungkinan masih bisa tertular.

Sebelum pulang ...

Kami pun segera menuju mobil penjemputan untuk diantar ke rumah masing-masing. Kebetulan saat itu juga ada mobil baru yang datang di tempat karantina. Bisa dibilang di sini selalu aja ada yang baru masuk karena positif dan tiap hari juga ada yang keluar karena sudah selesai masa karantinanya. 

"Mas yang dulu kuantar ke kecamatan kan?" Tanya seorang Mas-mas yang akhirnya kukenali sebagai Mas-mas ojek online yang aku gunakan dulu. 

"Mas ke sini ngapain?" Aku bertanya memastikan, mungkin saja menjenguk keluarganya bukan?

"Aku positif Mas, ternyata benar COVID-19 itu ada," kata Mas tukang ojek tersebut sambil nyengir. 

"Wah maaf ya Mas mungkin gara-gara aku, soalnya dulu aku memang positif pas dianterin Mas," dalam hati aku benar-benar merasa bersalah. 

"Oh dulu Mas positif? Tapi itu udah lama banget kan? Enggak sih ini kebetulan emang orang tuaku yang duluan positif. Aku yang merawat mereka juga akhirnya ikut positif."

"Orang tua keadaannya gimana Mas?" Dengan pelan-pelan dan hati-hati aku bertanya.

"Udah pergi Mas." Terlihat mata Mas ojek tersebut mulai berkaca-kaca.

 "Kebetulan sebelumnya orang tuaku masih berjualan di pasar. Mungkin kena pas jualan di pasar. Usia mereka juga udah tua dengan beberapa penyakit seperti diabetes dan kolesterol tinggi"

"Innalillahi wa innailaihi rojiiun. Yang sabar ya Mas," aku hanya bisa mengucapkan do'a yang terbaik.

Kami pun berpisah setelah ngobrol cukup lama mengenai gejala yang didapatnya. Katanya dia cuma hilang penciuman. Memang teman-teman di sini berbeda gejala sih. Ada yang bahkan tidak ada gejala sama sekali tapi positif. 

Ada yang lebih 3 minggu tidak juga kunjung negatif. Ah, aku harus banyak bersyukur. Istriku pun Alhamdulillah ceria-ceria saja meski sempat demam saat itu. Yang pasti aku senang semua ini sudah berakhir di keluarga kami. 

"Mas, bagian aku lagi ya yang mau ngomong buat penutupan cerita ini boleh?"

"Iya Sayang silakan." 

Menurut aku tujuan karantina ini sangat bagus, agar kami tidak perlu belanja ke pasar dan menularkan orang lain lagi. Selain itu setelah karantina pun tetap diberi cadangan sembako untuk beberapa hari. 

Pengalaman saat pandemi COVID-19 ini menjadi pelajaran yang berarti. Mengingat tiap hari kurvanya naik terus. Itu menandakan bahwa Indonesia belum ada tanda-tanda kapan pandemi ini berakhir. 

kurva covid

O ya, sejak awal COVID ini muncul aku sebenarnya langsung percaya aja bahwa virus ini memang ada. Tapi keadaan di sekitar berbanding terbalik. Beberapa orang (tidak semua) di pasar emang banyak yang masih abai. Enggak pakai masker, belanjanya juga dempet-dempetan di tempat yang harganya murah pisan

Apalagi saat melihat susahnya para petugas medis di tempat swab, mereka harus menahan panas di balik jubah plastik. Kami aja udah kepanasan entah bagaimana mereka.

Hmmm, intinya apapun yang terjadi yang tidak boleh terlupa adalah semua sudah diizinkan terjadi dan menjadi kehendak sang Pencipta. 

Tinggal bagaimana kita menghadapi ini. Akankah sabar, berusaha sembuh, atau malah mengutuk keadaan dan tidak berbuat apa-apa.

Meski aku tidak terlalu berharap banyak pada vaksin COVID-19 (aku meyakini bahwa yang alami lebih baik), tapi aku tetap senang jika pandemi bisa segera berakhir dengan bantuan vaksin hingga terbentuk herd immunity

Karena banyak juga yang sudah menunggu-nunggu dengan Vaksin ini. Selain itu banyak juga dokter yang sudah memastikan manfaat vaksin tersebut. Urusan apa yang terkandung, kita serahkan sama Allah. 

Karena mengutip perkataan Cak Nun di Youtube Channelnya, apapun ikhitiarnya (alami atau vaksin), yang terpenting adalah percaya bahwa hanya Allah Sang Maha Penyembuh. 

Salah satu kesyukuran bahwa aku pernah kena COVID-19 adalah aku tidak perlu divaksin COVID-19 lagi. Tapi kalau memang tetap diwajibkan mau tidak mau aku harus tetap ikut vaksin. 

Yang harus diyakini, pernah menjadi orang yang terinfeksi adalah semua terjadi atas kehendak Allah. Kita tidak akan dihukum atas sesuatu yang terjadi di luar kehendak kita. 

Tapi kita akan dinilai dengan apa yang kita pikirkan dan ikhtiarkan untuk sembuh. Tentu dengan terus berprasangka baik dan mengambil hikmahnya. 

Untuk teman-teman yang masih positif, jangan takut. Angka kesembuhan sangat tinggi. Yakinlah dan terus berusaha untuk sembuh. Jangan sampai stress hingga menghadirkan penyakit lain. Ada yang bilang, “sesungguhnya penyakit fisik hampir 90% berasal dari pikiran.”

Aku cuma berharap, meski pandemi sudah seperti kawan lama, jangan sampai melalaikan dari protokol kesehatan dan berhenti usaha. 

Virusnya tetap kesana-kemari, jangan diberi ruang untuk lebih terpatri.

Tetap menggunakan masker rutin setiap hari, karena sakit seperti ini sangat tidak enak sekali. 

Sudah banyak dengar teman-teman yang terkonfirmasi, kita tidak tahu apa dampak virus ini bagi masa depan dan tubuh kita nanti. 

Ada yang imunnya kuat bisa langsung sembuh dalam beberapa hari, tapi ada juga mereka yang lebih dulu dipanggil Ilahi. 

Ngomong-ngomong soal mati, semua hanya masalah waktu dan tanpa tapi …

Kami bertiga saling diam cukup lama sambil menyantap hidangan yang ada. Sesekali bercerita soal kehamilanku yang kedua. Ya, aku hamil saat pandemi ini. Ada rasa senang sekaligus takut. Berharap semoga si jabang bayi tetap sehat nantinya.

Kemudian akhirnya kami melanjutkan makan kami masing-masing. Selesai makan, Mas Wartawan beranjak dari tempat duduknya.

"Sip terima kasih ya Bapak dan Ibu sudah berbagi cerita perjuangan sembuh kalian, rencananya ini akan terbit di majalah digital kami sekitar seminggu lagi setelah melalui proses editing dan lainnya. Saya akan kabari lagi nanti. Sekali lagi terima kasih kerjasamanya, semoga sehat selalu." 

Mas wartawan yang sedari tadi di sini akhirnya pamit setelah lebih 2 jam duduk mendengar kami bercerita di sebuah kafe di Surabaya.   

“Tulisan ini diikutkan dalam #TantanganBlogAM2021” 

Catatan: Tokoh, hubungan kekerabatan, tempat dan beberapa hal lainnya di sini adalah fiktif. Namun beberapa hal yang berkaitan dengan cerita pengalaman terkonfirmasi positif, kenalan dekat yang meninggal, kondisi lingkungan, proses swab, perjuangan sembuh, dan penceritaan soal karantina adalah bersumber dari kisah nyata narasumber dengan beberapa perubahan yang diperlukan. Jika ada kesamaan, itu hanya kebetulan belaka. 

Referensi tulisan dan gambar: 
https://covid19.go.id/peta-sebaran
https://www.caknun.com/video/akik-maiyah/keseimbangan-sikap-terhadap-vaksin-covid-19/
Photo Cover by JC Gellidon on Unsplash

43 komentar

Jika Anda pengguna blogger, harap membuat publik profil blogger sebelum berkomentar agar tidak broken link ya.

Sebaiknya jangan anonim agar bisa saling mengunjungi ...

Komentar muncul setelah dimoderasi.
Terima kasih telah membaca dan berkomentar 😊

Salam kenal ...

  1. Aku deg-degan bacanya sampai akhir. Kupikir kak Tri yang positif sekeluarga. Tapi kok di Surabaya?
    Duh semoga kita sehat-sehat selalu ya. Rasanya makin dekat aja nih covid, engga pergi-pergi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheh makasih udah baca Mbak. Aamiin sehat-sehat ya

      Hapus
  2. tegang bacanya, semoga qt semua selalu disehatkan. Semakin byk yg divaksin, akan terbentuk her imunity,,,semoga mbah opid cepat pergi deh

    BalasHapus
  3. wow keren, pengalaman terkena covid 19 ditulis dalam bentuk cerpen

    jadi lebih menyentuh dan semoga, pesannya tersampaikan

    karena emang banyaak banget yang nggakpercaya pandemi covid 19

    kalo ke warung sayur, hanya saya yang pakai masker, hiks

    BalasHapus
  4. Selamat mba, gak perlu divaksin karena imunnya sudah terbentuk sendiri setelah Covid-19. Adik saya dan suaminya beberapa waktu lalu juga terpapar Covid-19. Full diam dan istirahat di rumah, biar sama-sama nyaman, khususnya dengan tetangga. Alhamdulillah semua teratasi dengan baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ... semoga sehat-sehat selalu

      Hapus
  5. Mbaa, aku makdheg baca kalimat ini:

    Ada yang imunnya kuat bisa langsung sembuh dalam beberapa hari, tapi ada juga mereka yang lebih dulu dipanggil Ilahi.

    Iyaaa, bener banget, covid ini membuat kita selalu waspada dan dzikrul maut ya

    BalasHapus
  6. Kedua mertuaku juga kena mba awal april tahun lalu, dirujuk ke rsud kota dan rsud provinsi. Mereka kena awal2 pandemi, rs rujukan belum begitu banyak. Alhamdulillah skr keduanya sudah sehat kembali.

    BalasHapus
  7. Kalau sudah nggak enak badan apalagi menunjukkan adanya gejala, sebaiknya tidak ke luar rumah ya, selain ada efek menularkan lebih baik memang beristirahat saja untuk memulihkan tubuh

    BalasHapus
  8. Ide ceritanya bagus dan kekinian. Cuma POV (point of view, sudut pandang penceritaan) orang pertama yang dipakai ganti-ganti, ya. Jadi sedikit membingungkan :)

    BalasHapus
  9. ah mbak, aku kira mbak yg positif
    benar mbak, virus ini nyata adanya
    makanya beneran kita harus selalu waspada ya mbak
    semoga kita semua selalu Sehat

    BalasHapus
  10. Kupikir mba sekeluarga yg positif. ternyata bukan ya...hehe

    Pengalaman ini juga terjadi pada tetanggaku. sedih juga melihat kondisi kita seperti ini ya.

    Semoga kita semua diberikan kesehatan dan mampu melewati pandemi seperti ini.

    BalasHapus
  11. Setiap membaca pengalaman pribadi dari para penyintas Covid-19, saya selalu bergetar. Membayangkan sudah banyak teman dan beberapa saudara saya yang tidak sempat terselamatkan dari virus ini. Maklum, di usia kami yang melewati 1/2 abad dan sebagian besar adalah komorbid (ada penyakit bawaan), bertarung melawan virus butuh perhatian extra, dibandingkan mereka dengan usia lebih muda dan dengan ketahanan tubuh yang lebih kuat.

    Semoga kisah ini jadi pembelajaran untuk kita ya. Bahwa dalam keadaan pandemi kita harus lebih memperhatikan dan melaksanakan protokol kesehatan. Tidak keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Stay at home is still the best option.

    BalasHapus
  12. perjuangan banget yaa mba yang kena covid-19, dari yang bergejala sampai yang gejalanya berat. aku aja akhirnya kemarin memberanikan diri tes swab antigen karena ak sering hrs bepergian keluar rumah untuk urusan pekerjaan, alhamdulillah sih negatif. jangan lelah lakuin prokes yang ketat.

    BalasHapus
  13. Terpapar covid 19 yang berat itu stigma di masyarakat. Segala sesuatu itu telah tertulis dalam taqdir tapi perhatian terhadap prokes wajib. Cerita menyenangkan membuat imunitas meningkat karena edukasi.

    BalasHapus
  14. Akupun begitu kak saat merasakan gejala covid seperti ngilu seluruh badan, hilang penciuman dan tenggorokan gak enak, langsung karantina mandiri di rumah. Jaga jarak dengan orang rumah, makan makanan tinggi protein, berjemur, tidur begitu terus selama 15 harian. Alhamdulillah semua kembali normal dan hasilnya negatif. Covid itu ada aku percaya. Makanya semua potokol kesehatan diaiplin dilakukan untuk lebaikan bersama.

    BalasHapus
  15. Cerpennya mengalir mbak, enak dibacanya. Aku juga sempat positif covid tapi karantina di rumah saja. Soalnya cuma gejala ringan dan saat itu tempat karantina pada full karena lonjakan kasus yang tinggi sehingga yang diutamakan yang bergejala sedang hingga berat saja

    BalasHapus
  16. menarik sekali pengalaman dalam berjuang sembuh dari covid, semoga sekarang sudah jauh lebih membaik, diberikan perlindungan dan kesehatan sekeluarga

    BalasHapus
  17. Bener-bener mengalir ceritanya dan dijelaskan dengan rinci dari gejala, gimana penanganan, sampai rangkaian tes.

    Stay safe buat Kak Tri dan semuanya. Blom usai covid ini dan semoga segera berkurang kasus covid yang ada 🙏

    BalasHapus
  18. 1. Alhamdulillah sudah sembuh sekeluarga ya mbak dan mas. semoga sehat terus
    2. ceritanyamengasikkan.
    3. mau nanya.. karna dari tadi agak ingung, berarti postingan ini dituls oleh 2 orang yambak/mas? versi suami dan versi istri?
    Maaf kalau salah :)

    BalasHapus
  19. Baca ini sambil membayangkan kalau terjadi padaku, pasti sedih banget. Udah ga ada lagi kata ga percaya, virus itu nyata banget apalagi ibuku meninggal krn covid juga. Semoga kita semua diberi perlindungan dan sehat selalu...Aamiin

    BalasHapus
  20. Ceritanya keren, jadi ingat nih kelas menulis tema Berjuang Untuk Sembuh. Kalau di cerita ini Covid-19 tidak begitu menyeramkan ya .... Tokoh dalam cerita seolah sedang berwisata sekeluarga.

    BalasHapus
  21. Covid memang membuatku ekstra waspada. Dulu, banyak yang cerita kalau lingkaran terkena covid dan tak berhasil lolos semakin dekat. Dan sekarang, aku baru tau gimana rasanya. Setiap hari dengar berita sedih. Setiap saat mengucap innalillahi wainnailaihi rojiun melalui pesan teks. Rasanya semakin mengkhawatirkan tapi sekarang lebih positif thinking karena jadi kebiasaan untuk enggak kumpul sana sini. Walaupun masih suka takut

    BalasHapus
  22. Alhamdulillah sekeluarga ini sembuh ya, itu karena patuh dan taat dengan segala prosedur isolasi ya.

    semoga kita semua sehat selalu ya, dijauhkan dari si virus ini... Aamiin.

    BalasHapus
  23. Aku kira ini pengalaman Kak Tri dan keluarga. Syukurlah kalau bukan. Aku sendiri sudah mengalami merawat pasien Covid-19, yaitu mamaku. Alhamdulillah beliau segera mendapat penanganan di RS sehingga bisa sembuh total.

    BalasHapus
  24. Mertua temanku dan teman menulisku meninggal mba karena covid sedih rasanya. Beberapa sahabat bahkan bude dan pakdeku juga kena. Mereka sedang tahap penyembuhan. Makasih cepernnya mba mengingat diri untuk selalu berhati-hati

    BalasHapus
  25. Aku bacanya deg-degan, tapi ke bawahnya ikut lega... terima kasih sudah berbagi pengalaman lewat cerpen yang ciamik ini, jadi enak bacanya.

    Covid-19 ini semakin dekat, menuju circle paling kecil... suamiku juga OTG sepertinya, bismillah.. kuatkan iman dan imun kita sekeluarga ya.

    BalasHapus
  26. Kalau udah bahas covid, rasanya aku sedih sekali
    Ingat saat ibu dan adikku sekeluarga dinyatakan positif
    Aku nekat pulang ke sana untuk mendampingi mereka, duh itu naik pesawat rasanya tegang banget. Kayak mau masuk ke medan perang huhuhu

    Semoga semua yang sedang sakit diberi kesembuhan
    Semoga vaksin yang sedang dijalankan ini memberi harapan untuk pencegahan yang lebih luas. Pandemi lekaslah berlalu

    BalasHapus
  27. Saya gak mungkin lagi mengabaikan Covid karena keluarga sendiri sudah kena. Tetangga ada yang meninggal, bahkan sahabat saya sendiri meninggal dunia karena Covid. Tetap waspada diri sendiri dan keluarga. Sehat itu gak mahal. Justru sakit itu yang mahal.

    BalasHapus
  28. Wah asyik cerpennya bercerita tentang penderita covid, semoga banyak orang yang lebih aware ya sama covid dan tetap menggunakan masker dimanapun berada. Sekarang semakin kesini bahkan ada orang yang jualan gak pakai masker. Duh rasanya tuh bimbang kalau udah gini, apalagi kalau jualannya emang satu-satunya. Tapi kalau bisa ditahan yaudah sih terkadang ditahan gak jadi beli.

    BalasHapus
  29. Alhamdulillah.... kita sudah melalui semua ini ya mbak, aku belum mulai menulis pengalaman kami berjuang berdamai dengan Covid ..satu saat akan saya lakukan . Thanks cerpennya mbak Tri, terima kasih juga saat itu mbak menyemangati saya. Peluk jauh yaa sehat sehat terus!

    BalasHapus
  30. dag dig dug bacanya. Alhamdulillah semuanya sehat kembali ya. Pesan-pesan yang disampaikan lewat cerita gini biasanya lebih mudah di terima

    BalasHapus
  31. Alhamdulillah, bisa jadi penyemangat untuk yang kena jika penyakit ini memiliki angka sembuh yang tinggi. Jadi konsumsi makanan sehat, vitamin, dan enggak banyak pikiran ya kak.

    BalasHapus
  32. Covid ini memang bukan sekedar cerpen, tapi memang realita yaa mba, kita ga bisa lagi abai, krn semakin banyak circle kita yang terkena covid yaaa, selalu disiplin prokes lah

    BalasHapus
  33. Cerpennya emang deket banget sama realitas sekarang. Jadi kayak bukan cerpen bacanya.
    Covid-19 ini belum terasa deket kalau gak ada orang di sekitar yang kena dan meninggal dunia karena sesak nafas. Mudah-mudahan yang belum percaya kalo Covid-19 ada segera mendapat hidayah.

    BalasHapus
  34. Bahkan hingga sekarang, masih ada aja orang yang ga percaya bahwa covid itu nyata adanya kak tri.
    Aku sedih juga mendengar orang yang ngeyelan begitu. Kadang dalam hati ikut dosa karena diam-diam doakan.. semoga kena kamu.. biar percaya..

    Hiksss

    BalasHapus
  35. Beberapa kerabat juga awalnya pada ngga percaya soal covid ini. Bahkan pas suami terkonfirmasi positif masih ada juga yang masih ngga percaya. Katanya itu diada2kan sama RS. buset dah berasa pengen nampar aja rasanya 😂😂

    BalasHapus
  36. Saya juga khawatir, di kampung-kampung orang-orang abai banget dengan Covid, di kota juga sama saja. Semoga pandemi ini bisa segera berakhir dan negeri kita bisa pulih kembali. Oh ya, cerpen nya sarat pesan atau amanat, lanjutkan Mbak

    BalasHapus
  37. Cerpennya bikin aku nostalgia jaman baca majalah gadis dulu hehe. Kalau diingat rasanya udah tahunan aku ga baca novel atau cerpen.

    BalasHapus
  38. covid emang masih mengerikan ya mbak, ya kita dituntut keluar rumah setiap hari

    awal awal dlu berasa kayak diajak perang trus tinggal nunggu kena aja gitu, sekitar udah byk bgt yg +

    alhadulillah smpe skrg masih terlindungi, tapi swab sebulan sekali, idung dari yg kaget sampe udah berasa biasa aja,

    thx sharingnya mba,, jaga kesehatan buat keluarga ya mbak tri

    BalasHapus