BlogKakTri
Lifestyle Blogger, Talk About Blogging, Parenting,Traveling, Tips, Review, and Lifestory by Triyatni Ashari

Pengalaman Mengungsi Saat Banjir di Kalsel

pengalaman mengungsi saat banjir di kalsel, infor banjir kalsel

Bulan Desember-Januari kemarin adalah bulan yang cukup menegangkan menurut saya. Bagaimana tidak, sepulang dari liburan akhir tahun 2020 dari rumah Mertua, jalan komplek depan rumah tetangga kami sudah kerendam air sekitar sejengkal. Hanya berbeda 2 rumah dari kami. Mungkin karena tanah depan rumah kami lebih tinggi jalannya jadi tidak kena imbasnya (kami tepat di sudut). 

Puncaknya pada bulan januari 2021, hujan deras terus mengguyur perumahan kami. Halaman kami akhirnya mulai tergenang …

Banjir Pertama Kali

Air semakin naik hingga tanaman-tamanan kami pun ikut tenggelam. Jarak antara tanah di halaman dengan teras sekitar 45 cm. Dari teras menuju rumah sekitar 7 cm. 

Selama saya di sini (kurang lebih 7 tahun, baru banjir seperti ini. Katanya yang udah 30 tahun di sini pun baru melihat banjir sedahsyat ini.)

Sebenarnya tempat kami tidak terlalu parah, memang beberapa di perumahan lain bagian dalam juga sampai masuk air di rumahnya. 

Selain itu di daerah lain sekitar 4-5 jam dari sini, justru ada ynag mencapai atap rumah banjirnya. Ya Allah, mikirin itu pasti berat. Bagaimana kalau tidak bisa berenang? Semua perabotan rusak, mulai dari sofa, kasur, hingga peralatan listrik seperti kulkas dan mesin cuci.

Kalau di rumah kami saat itu air di halamam/jalan baru sampai betis. Kami berjalan keluar untuk membeli cadangan sembako agar tidak perlu bolak-balik lagi. Ternyata berat juga berjalan di banjir. 

Syukurnya pasar hanya berada depan komplek kami, jadi dengan sedikit berjalan sekitar 1 km, kami sudah ada di komplek pasar yang cukup ramai.

Saat itu karena banyak belanjaan sampai beli beras dan telur juga, akhirnya kami memutuskan membeli baskom baru untuk dijadikan perahu dadakan untuk belanjaan. Kebetulan di rumah juga sebenarnya butuh baskom yang baru karena yang lama sudah rusak. 

Gagal Mengisi Webinar

Saya pun punya rencana saat itu untuk mengisi webinar di salah satu komunitas para bloger. Nyatanya pada hari H, listrik mati sejak sore dan belum ada tanda-tanda akan hidup di malam hari. Kebetulan webinar saat itu malam hari, dan saya punya partner akan sharing bareng dengan tema yang berbeda. 

Karena keadaan mati lampu tersebut, malam hari pula, saya akhirnya dengan berat hati membatalkan webinar dan hanya partner saya seorang yang mengisi. 

Kondisi banjir saat itu sudah hampir mencapai teras. Jadi kalau turun ke halaman airnya sudah sampai lutut mungkin. 

Mengungsi dengan Rakit

Listrik tidak kunjung nyala selama 2 hari. Cadangan makanan jadi rusak di kulkas. Telepon genggam hanya mengandalkan lisitrik dari power bank yang sedikit lagi juga akan habis. 

Akhirnya kami memutuskan mengungsi. Beberpa tetangga kami Sudah lebih dulu mengungsi namun ada yang tetap bertahan. Tapi kami juga menakutkan air yang mungkin tiba-tiba naik dan kami sudah tidak bisa mengungsi lagi. Apalagi ada anak kecil kan. Enggak jago renang lagi hehe.

Hari di saat kami akan mengungsi, semua barang-barang dicoba untuk disimpan di tempat tinggi. Ya persiapan, siapa tahu airnya naik. Mencegah lebih baik daripada mengobati toh?

Nah, saat itu kami menggunakan rakit buatan yang diuat oleh para tetangga. Rakit tersebut terbuat dari papan kayu, yang kemudian di bawahnya dipasang beberapa jerigen atau galon. Cukup efektif membopong saya dan si kecil termasuk koper kami. Terakhir bahkan bisa membawa motor juga. 

Kaki kesemutan lho ini haha (foto: pribadi)

Mau terima kasih kepada orang-orang yang sudah dengan sukarela membantu saat banjir begini. 

Sedihnya emang banyak akhirnya pedagang yang tidak bisa jualan. Termasuk langganan beli burjo kami, sekitar 1,5 bulan tidak bisa berjualan katanya. Tapi yang punya jukung (perahu kecil khas Banjarmasin yang digunakan di sungai-sungai) malah dimanfaatkan untuk transportasi. O ya penampakan di sini memang banyak sungai. Namanya juga daerah seribu sungai. Masih ada beberapa pedagang yang melewati sungai untuk menuju ke pasar lho. 

Di sini juga tanahnya rawa. Rumah kami dan perumahan lainnya juga letaknya pas di atas rawa. Rumah batu yang berada di atas air intinya wkwk. Hanya halaman kami yang kami timbun. 

Mati Lampu di Tempat Pengungsian

Jalan menuju pengungsian macet luar biasa. Jalan raya sudah terendam sekitar sejengkal hingga sebetis. Tergantung kedalaman jalan. Untuk menuju tempat pengungsian harus melewati banyak banjir. 

Ternyata, meski kondisi pengungsian lebih tinggi, air cukup menggenangi halaman. Tempat pengungsian kami adalah sebuah asrama sekolah dengan luas sekitar 8 hektar. Saya pernah bekerja sebagai guru asrama di sini dari tahun 2014-2017. 

Kondisi kamar asrama ber-AC dengan kebetulan saya mendapat kamar dengan kamar mandi di dalam kamar. Ada cleaning service khusus yang dipekerjakan untuk membersihkan asrama setiap harinya jadi kondisinya sangat bersih seperti biasa waktu saya kerja dulu. Teman-teman mulai khawatir kondisi pengungsian pada awalnya, tapi setelah saya jelaskan alhamdulillah mereka tidak khawatir lagi. 

Jalan tempat pengungsian ikut banjir (foto: pribadi)

O ya kami pernah tinggal di komplek guru masih wilayah sekolah sejak menikah sampai tahun 2020 awal. Baru kemudian kami pindah di perumahan sekitar Februari 2020. Selama itu belum pernah jalanan sekolah sebanjir itu. Hari kedua di asrama, air di halaman sekolah semakin tinggi hingga mengakibatkan listrik harus dimatikan secara terpaksa (untuk ketinggian asrama sekitar 2 meter dari halaman).

Kami pun di asrama tidak mendapatkan pasokan listrk. Untuk urusan makan akhirnya dapat nasi bungkus dari luar.

Biasanya kalau mati lampu bissa, maka akan ada genset utama untuk dinyalakan. Namun karena kondisi banjir genset utama itu mau tidak mau tidak bisa digunakan.

Untuk keperluan cas hp dan laptop, sekolah menyediakan genset kecil tiap pagi dan sore. 

Sekitar 5 hari berlangsung seperti itu (wifi dan jaringan jelek juga), dibelilah genset lebih besar untuk asrama khusus. Dalam sehari akhirnya setidaknya lampu bisa nyala. Tidak lagi menggunakan senter. 

Eh ternyata besoknya air sudah surut. Listrik bisa dinyalakan lagi. Genset yang udah terlanjur dibeli jadi tidak terpakai lagi. 

Kantin juga akhirnya sudah bisa memasak sehingga kami makan di kantin sekolah. Dan semua ini gratis! Kami juga mendapat bantuan sembako berupa selimut dan beberapa makanan instan.

Menjenguk Rumah

Kami menjenguk rumah beberapa kali. Jenguk pertama kali suami sendiri ngambil barang yang diperlukan sekalian ngambil motor. Jenguk kedua, seminggu setelah mengungsi, air lebih naik daripada sebelum kami tinggalkan. 

Jenguk ketiga, 2 minggu setelah ngungsi, kami jenguk sama-sama lagi. Alhamdulillah beberapa hari setelah jenguk terakhir, cuaca mulai cerah. 

Saat jenguk rumah, motor harus diparkir sangat jauh (karena jalan raya dekat perumahan belum bisa dilalui motor). Kami sempat numpang pickup, truk hingga mobil pribadi orang untuk menuju perumahan maupun saat balik kembali ke parkiran. Alhamdulillah masih banyak orang-orang baik. 

Berangsur-angsur air mulai turun. Dapat kabar listrik sudah nyala. Akhirnya kami memutuskan pulang tanggal 4 Februari (kami mengungsi sejak 15 Januari). Saat itu air di jalan sekitar sejengkal. Motor dan mobil sudah bisa masuk. O ya kami diantar mobil sekolah saat pulang.

Saat numpang di truk pengangkut mobil (foto: pribadi)

Tips Saat Banjir dan Harus Mengungsi

Sebenarnya saya pribadi pernah mengalami banjir sering itu saat SD. Rumah kami yang belum direnovasi sering kebanjiran. Saya ingat saya sering berenang di banjir saking senangnya kalau banjir datang. Padahal pasti orang tua repot bersih-bersih, saya malah asyik main huhu. 

Nah, dari banjir ini memang cukup banyak membawa pelajaran. Yang punya sofa pasti paling repot nih karena sofa basah. Belum lagi springbed.

Jadi beberapa hal jangka panjang yang perlu dipersiapkan agar rumah siap menghadapi banjir yaitu:

1. Gunakan furniture yang terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak jika terkena air. Misalnya lemari kaca, lemari besi, kursi kayu dll. 

2. Usahakan rumah dibangun jauh lebih tinggi dibanding halaman dan teras depan. 

3. Pastikan tidak ada peralatan listrik yang terletak di bawah

4. Simpan barang-barang utamakan di bagian atas

Jika harus mengungsi, persiapkan hal ini:

1. Bawa pakaian dalam dan pakaian ganti yang cukup (jangan sampai kurang karena musim hujan pakaian susah kering).

2. Bawa lotion anti nyamuk

3. Bawa power bank jika punya

4. Bawa Tissue kering dan basah

5. Bawa uang cash yang cukup

6. Bawa camilan yang awet

7. Bawa senter untuk mensiasati tempat pengungsian gelap

Hikmah Banjir

Berkaca dari pengalaman kemarin, sebenarnya banyak sekali hikmah yang bisa dipetik. Seperti meski sebelumnya banjir merupakan hal yang jarang dalam puluhan tahun, namun akhirnya bisa terbukti bagaimana air bisa menutupi seluruh jalan. 

Pemerintah pun segera mengeruk beberapa sungai yang memiliki lumpur dan sampah yang tidak seharusnya. Pasar-pasar yang berada di atas sungai pun diminta dibongkar. 

Ya, karena Banjarmasin adalah kota seribu sungai dan bertanah rawa, beberapa hasil kerokan sungai bisa dimanfaatkan untuk menimbun rawa.

Hikmah lainnya adalah adanya gotong royong yang dilakukan oleh warga. Meski tidak sedikit yang memanfaatkan dengan memahalkan transportasi perahu (hingga 100 ribu/orang), tapi saya cukup menggunakan rakit yang gratis.

Kucing-kucing yang terkena dampak banjir pun banyak diurus oleh para relawan dengan menyebarkan  makanan-makanan kucing di jembatan tinggi yang tidak terkena banjir. 

Dari banjir juga saya sempat tidur cukup sering karena si kecil bisa dititip ke Abinya (kami tidur beda asrama putra dan putri).

 Ya, menikmati me time di kala mati lampu dan tidak ada sinyal sama sekali, saya sempat pakai masker wajah yang di mana susah banget kalau mau pake di rumah. 

Soalnya kalau si kecil tidur, pasti ada aja aja yang harus saya lakukan entah beberes, masak, atau ngerjain deadline. 

Saya juga rutin olahraga tiap pagi dan sore karena tidak perlu memasak. Terkadang zumba, workout, atau main badminton bersama suami di gedung olahraga sekolah. 

Kebetulan banget juga Januari kemarin job sepi, dan beberapa diundur. Syukurlah karena kondisi sinyal yang tidak memungkinan. Nah alhamdulillah Maret ini mulai ramai kembali. 

Dari banjir juga mengingatkan kita betapa kecilnya kita. Air sebagai hal penting di kehidupan. Air adalah sesuatu yang ketika cukup sangat bermanfaat, namun ketika berlebih bisa berbahaya. 

Ah alhamdulillah, MasyaaAllah. Semoga kedepannya tidak ada lagi banjir bukan hanya di Banjarmasin tapi di seluruh tempat rawan banjir di Indonesia. Aamiin.

Tulisan ini dibuat dalam rangka FBB Kolaborasi bertema Air. Selamat Hari Air Sedunia! Jaga lingkungan, jangan buang sampah sembarangan! 

-Gambar nyusul ya, jaringan lagi jelek banget ....

6 komentar

Jika Anda pengguna blogger, harap membuat publik profil blogger sebelum berkomentar agar tidak broken link ya.

Sebaiknya jangan anonim agar bisa saling mengunjungi ...

Komentar muncul setelah dimoderasi.
Terima kasih telah membaca dan berkomentar 😊

Salam kenal ...

  1. Wah lama juga mengungsinya ya Mbak. Kalau kami di Amuntai sudah langganan banjir tiap tahun karena kota ini "dikepung" oleh sungai dan rawa yang besar-besar. Namun, alhamdullillah tidak pernah sampai mengungsi dan mati listrik.

    Aamiin, semoga lingkungan tempat tinggal kita selalu aman dan nyaman untuk ditinggali tanpa ada bencana lagi.

    BalasHapus
  2. Kalo aku pertama kali kena banjir pas tinggal di rumah mertua berstatus penganten baru. Kondisi daerahnya memang karena dekat sungai yang saat itu airnya pasang plus hujan yang turun terus-menerus. Di satu sisi, nggak ada lahan yang bisa menyerap air. Begitu 2 hari kemudian airnya pun surut. Itu terjadi akhir tahun 2003.

    BalasHapus
  3. Mbaa.. Ini cerita tentang banjir tp aku liatnya knp jadi seru ya.. Hihi. Krn ada foto senyum n main sm anak aku jd bayangin momentnya itu meski banjir. Dan mengungsi pakai rakit itu pasti jd pengalaman tak terlupakan ya. Yg gak enaknya itu ngebersihin rumah pasca banjir. Kebanyang riweuhnya. Blm lg peralatan rumah yg rusak. Hiks

    BalasHapus
  4. lama juga ya, Tri mengungsinya. banjir tahun ini memang jadi peringatan ya buat kita semua agar lebih memperhatikan dan menjaga kelestarian lingkungan

    BalasHapus
  5. aku kemarin juga terdampak mba
    awalnya seru sih. bisa libur kerja. eh pas lihat berita banjirnya bener2 jadi bencana provinsi bahkan sampai memakan korban jiwa.

    btw kemarin aku ke pasar juga bawa ember. inspirasi dari pohon tomat hahaha

    BalasHapus
  6. sedih waktu ada berita banjir Banjarmasin beberapa waktu lalu, kota yang punya banyak kenangan buat aku pribadi
    dan aku sendiri nggak nyangka kalau banjirnya sampe segitu parahnya
    semoga kedepannya nggak ada musibah seperti ini lagi ya mba

    BalasHapus