BlogKakTri
Lifestyle Blogger, Talk About Blogging, Parenting,Traveling, Tips, Review, and Lifestory by Triyatni Ashari

Buk Liwa Dukung Dekarbonisasi Industri Baja Tahun 2022

Buk Liwa melihat, dengan adanya pemanfaatan teknologi dalam memaksimalkan upaya dekarbonisasi, Liwa optimis dapat menggunakan inovasi dari daur ulang

Permasalahan perubahan iklim yang dihadapi dunia tak kunjung berakhir. Solusi demi solusi telah dilakukan oleh seluruh negara secara serentak, namun belum membuahkan hasil yang maksimal. Meskipun demikian, pemerintah tetap berusaha menemukan solusi yang tepat dan efisien untuk permasalahan perubahan iklim yang masih terjadi. 

Baru-baru ini, COP26 yang dilaksanakan di Glasgow, Skotlandia telah memberikan solusi dan upaya apa yang harus dilakukan untuk mengurangi perubahan iklim. Salah satu solusi yang perlu diupayakan secara maksimal dengan menggunakan energi yang berkelanjutan. 

Gagasan mengenai energi yang berkelanjutan telah direncanakan sejak lama dan telah banyak pengusaha yang mendukung gagasan tersebut. Pengusaha yang mendukung serta melihat adanya peluang pada penggunaan energi yang berkelanjutan adalah Liwa Supriyanti, Direktur dari Gunung Prisma yang dikenal menjadi pengusaha yang sukses membawa perusahaannya ke ekonomi hijau. 

Setiap permasalahan, tentu ada jalan keluarnya. Hal itu diyakini oleh Liwa Supriyanti. Menurutnya, perubahan iklim yang terjadi saat ini pun memiliki penyelesaiannya. Liwa melihat adanya peluang yang dapat diwujudkan dalam permasalahan dunia tersebut, dengan menjadi bagian dari dekarbonisasi atau dengan menggunakan energi yang berkelanjutan pada Gunung Prisma, Liwa optimis bahwa industri baja dapat menjadi industri yang berperan besar dalam pengurangan perubahan iklim di dunia. 

Apa Itu Dekarbonisasi?

Dekarbonisasi dilansir sebagai upaya yang tepat untuk mengurangi perubahan iklim. Saat ini, pemerintah di seluruh dunia telah mengeluarkan kebijakan bagi semua stakeholder dan pengusaha untuk memaksimalkan penerapan dekarbonisasi, termasuk Indonesia. 

Upaya ini tidak semata-mata tanpa alasan, dekarbonisasi sendiri memiliki definisi sebagai salah satu cara untuk mengurangi ataupun menghilangkan emisi karbon pada proses bisnis di semua industri yang ada. Dengan mengupayakan dekarbonisasi, keseimbangan antara ekonomi, pemerataan dan lingkungan akan mencapai ekosistem yang berkelanjutan. 

Buk Liwa Supriyanti Optimis Pada Peluang

Menjadi seorang pengusaha bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi pengusaha yang bergerak di industri baja seperti Buk Liwa. Sebagai seseorang yang dipercayai sebagai Direktur di Gunung Prisma, Liwa Supriyanti sadar bahwa perusahaannya bertanggungjawab atas permasalahan perubahan iklim yang sedang terjadi. Maka dari itu, Buk Liwa mencoba untuk jeli terhadap peluang pada permasalahan ini. 

Buk Liwa mulai menerapkan peluang yang dilihatnya menjadi sebuah inovasi energi yang berkelanjutan. Bahkan, Liwa pun mengajak perusahaan lain dan kliennya untuk melakukan hal yang sama. Dukungan dari Liwa ini membuatnya menjadi pengusaha yang peduli pada lingkungan dan selalu ingin mencoba inovasi demi inovasi untuk mengupayakan dekarbonisasi yang berkelanjutan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Liwa merasa untuk mulai merumuskan program dekarbonisasi secara komprehensif, agar semua stakeholder dan pengusaha di industri baja dapat bekerja sama untuk mulai melakukan penggunaan energi yang berkelanjutan. 

Inovasi Dalam Dekarbonisasi 

Walaupun membutuhkan waktu yang tidak sebentar, demi memaksimalkan implementasi dekarbonisasi, telah banyak ilmuwan yang melakukan penelitian serta pengembangan green hydrogen dengan harapan dapat memberikan solusi yang maksimal untuk industri baja dan jenis transportasi berat. 

Buk Liwa melihat, dengan adanya  pemanfaatan teknologi dalam memaksimalkan upaya dekarbonisasi, Liwa optimis dapat menggunakan inovasi dari daur ulang bahan baku besi bekas. Dengan inovasi tersebut, Liwa dapat meningkatkan produktivitas bersamaan dengan pengendalian emisi, mengurangi limbah dan mengoptimalkan penggunaan energi. 

Saat ini, Gunung Prisma telah berhasil menghasilkan produksi baja dengan sumber energi sedikit, mulai dari modal dan tenaga kerja. 

Ilustrasi: unsplash.com

Posting Komentar

Jika Anda pengguna blogger, harap membuat publik profil blogger sebelum berkomentar agar tidak broken link ya.

Sebaiknya jangan anonim agar bisa saling mengunjungi ...

Komentar muncul setelah dimoderasi.
Terima kasih telah membaca dan berkomentar 😊

Salam kenal ...