BlogKakTri
Lifestyle Blogger, Talk About Blogging, Parenting,Traveling, Tips, Review, and Lifestory by Triyatni Ashari

8 Tips Agar Emak Tetap ‘Waras’ Saat Pandemi

Banyak kasus seperti ini. Kadang karena sudah sibuk ngurus suami dan anak, ditambah ngurus rumah, jadi lupa ngurus diri sendiri. Akhirnya lelah dan emosi bisa jadi satu. Ujung-ujungnya bisa kena yang namanya baby blues hingga tahap post partum depression (PPD) kalau baru saja lahiran.
Assalamu'alaikum. Bagaimana puasanya nih teman-teman? Semoga tetap lancar ya 😀

Karena momen Ramadan kali ini sangat berbeda, mungkin rutinitas yang kita lakukan tidak seramai tahun lalu. Tidak ada tarwih berjamaah di Masjid (mungkin masih ada tapi sedikit), juga tidak ada rame-rame di grup alumni buat nentuin jadwal buka bersama yang ujung-ujungnya bisa enggak jadi (serunya di sini kan? Hehe)

Ngomong-ngomong soal judul tulisan saya kali ini, kenapa saya nulis cara agar tetap menjadi emak waras saat pandemi? Ya karena sebagian besar sebelum pandemi saja kita sebagai emak-emak harus berusaha agar tetap waras, nah apalagi saat cobaan global ini ya semakin besar lagi usahanya.


multitasking mom quote
Multitasking Mom

Waras dalam arti ini lebih abstrak mungkin hehe. Karena biasanya, seorang perempuan yang bebas leyeh-leyeh saat masih gadis, kadang sama diri sendiri saja enggak peduli, namunsetelah jadi emak-emak, sosok perempuan ini harus belajar mengurus orang lain. Mulai dari suami, hingga kesebelas anaknya (ini mah keluarga Gen Halilintar nih hebat banget!).

Banyak kasus seperti ini. Kadang karena sudah sibuk ngurus suami dan anak, ditambah ngurus rumah, jadi lupa ngurus diri sendiri. Akhirnya lelah dan emosi bisa jadi satu. Ujung-ujungnya bisa kena yang namanya baby blues hingga tahap post partum depression (PPD) kalau baru saja lahiran.

perbedaan baby blues dan ppd

Salah seorang selebgram, pernah dengan gamblang menceritakan kisahnya saat mengalami PPD setelah melahirkan dulu. Dia berada pada tahap tidak ingin menyentuh anaknya karena merasa diburu malaikat maut. Saking takutnya, dia bersembunyi di kolong kasur.

Ada lagi kisah dari pasangan suami istri yang mendapat cerita dari seorang supir taksi online kalau dulu sebelum jadi supir taksi, dirinya adalah seorang pegawai. N

Namun karena kondisi istrinya yang memburuk pasca melahirkan, akhirnya dia mengambil kerja yang bisa kapan saja memantau istrinya. Semua bermula dari istrinya yang lahiran caesar namun terus dinyiyir mertua, hmmm ☹

Bagaimana Membantu Ibu yang Terkena Baby Blues dan PPD?

Sebenarnya sederhana, namun kadang tidak disadari. Untuk suami, cobalah menjadi pendengar yang baik, bantu pekerjaan yang bisa dibantu, hibur istri dan terus beri motivasi dan afirmasi positif.

Untuk ibu, jangan terlalu mendengarkan perkataan-perkataan negatif yang merusak mood. Mari menjadi pengontrol akan kebahagiaan kita sendiri. Ngomongnya memang mudah sih ya, tapi biasanya praktiknya yang susah, soalnya setiap orang cobaanya berbeda-beda. 😊

Kasus Ibu yang Bunuh diri saat Krisis Pandemi

Selain masalah Baby Blues dan PPD yang rawan pada emak-emak ini, Krisis Pandemi ternyata membawa masalah baru. Sekitar beberapa minggu lalu, saya melihat berita kalau ada seorang ibu (janda) di Thailand, yang harus kehilangan pekerjaan alias PHK. Ibu tersebut memiliki 2 anak yang masih kecil. Karena tidak mampu lagi beli susu bayi (menurut dari kabar berita), akhirnya ibu tersebut memilih untuk bunuh diri.

Miris. Meski itu terjadi di luar negeri, kita tahu bahwa dampak pandemi ini sudah mencapai global alias hampir di seluruh negara kena dampaknya. Bukan hanya perempuan, beberapa kasus bunuh diri laki-laki juga terjadi di Indonesia karena stress setelah di-PHK. 

Namun memang paling rentan kini adalah seorang wanita. Apalagi saya bisa membayangkan ibu Thailand yang bunuh diri tersebut sebelumnya pasti sudah berat menanggung status janda, ditambah 2 anak yang harus diberi makan dan perhatian, juga urusan rumah tangga. Semoga tidak ada lagi ibu-ibu yang sama nasibnya dengan Ibu di Thailand itu. ☹

Dampak Pandemi, Banyak yang Kehilangan Pekerjaan

Karena pandemi ini, beberapa orang yang profesinya rentan terganggu saat virus mulai mewabah ternyata cukup banyak. Antara lain pegawai harian di mall, pegawai di industri pariwisata, rumah makan, tukang pijat, tukang ojek, pekerja harian di sekolah, pegawai bandara, dan masih banyak lainnya.

Bahkan, suami saya yang berprofesi guru pun saat ini juga sudah dikurangi jam kerjanya dan jam masuknya menjadi 3 kali seminggu saja.

Beberapa instansi juga sudah mengumumkan bahwa tidak akan ada THR (Tunjangan Hari Raya) karena kondisi tersebut. Mau diapalagi, semua tidak bisa dihindari.

Lalu Cara Agar Kita Tetap Waras?

Ada masalah, pasti ada solusi. Memang tidak mudah. Saya pribadi karena memang sudah memutuskan berhenti kerja alias full time di rumah sejak hamil usia 5 bulan di tahun 2017, saya tidak merasakan dampak dari segi kehilangan pekerjaan, atau kebiasaan hangout yang hilang dan lain sebagainya. Tapi tentu ada momen yang hilang ketika biasanya saat weekend pengen jalan-jalan, eh ini harus di rumah aja. Jadilah rumah sebagai satu-satunya tempat aman jika ingin bertahan.

Tapi di sini saya punya 8 tips agar kita bisa tetap waras sebagai emak-emak saat pandemi dan mendekam di rumah saja, simak yuk!

1. Stop Melirik yang Tidak Perlu 

Mudah banget sebenarnya untuk membuat hati ini tidak tenang. Cukup melihat postingan negatif, maka biasanya kita ikut terpengaruh suasana moodnya. Kurangi melihat story atau status wa, kurangi melihat perdebatan yang tidak penting, itu akan sedikit membantu pikiran tetap positif lho!

Berita yang saya paparkan di atas soal bunuh diri memang juga sedikit menggangu, tapi hal itu bisa menambah kewaspadaan. Hindari berita yang bersifat hoax, dll. Ingatlah, bahwa mata dan telinga adalah media pertama yang bisa membuat kita sedih ataupun bahagia.
“dan karena kadang ada yang tidak perlu kita ketahui ...”

2. Upgrade Hobi

Hobi makan? Yuk cus coba resep baru. Mumpung di rumah aja, hehe. Apalagi banyak kontes masak yang berseliweran di media sosial seperti Instagram. Kita bisa menambah skill baru plus kalau beruntung bisa dapat hadiah. Kalau tidak dicoba, bagaimana tahu itu bukan rezeki? 😊

Karena setahun terakhir ini saya mencoba hobi yang menghasilkan, seperti jadi blogger, saya mecoba upgrade diri saya lebih baik lagi. Saya belajar memperbaiki kualitas konten dan lainnya.

Alhamdulillah, meski di awal pandemi job agak sedikit, namun bulan ini, seperti dapat durian runtuh, saya dapat job dengan fee hingga berkali-kali lipat dari biasanya. Kuncinya cuma tekun dan terus belajar 😊

Hobi jalan-jalan gimana? Nah ini nih yang agak sulit. Jika sudah terbiasa jalan di luar namun harus di rumah aja mungkin butuh adapatasi cukup lama. Bisa dengan menulis cerita seputar pengalaman jalan-jalan di blog lho biar gak penat. Hitung-hitung tambah konten tulisan. Atau menjual foto-foto keren di situs yang memang bisa membayar untuk foto yang kita tawarkan. Sudah coba?

3. Mengatur Waktu dan Jadwal Penting

Sejak jadi emak-emak rumah tangga, memang situasi lupa tanggal itu sudah biasa. Soalnya enggak ada meeting dan lain-lain seperti saat kerja dulu. Namun karena sejak dulu sudah WFH alias blogger emang kerjanya dari rumah, kami juga masih punya deadline untuk job-job dan beberapa agenda tertentu. Jadi perlu mencatat semuanya agar tidak pusing.

Soalnya kegiatan selama suami lebih lama di rumah tentu menambah jobdesk kita sebagai ibu rumah tangga. Memasak dan mencuci lebih banyak dari biasanya. Bermesraan juga lebih sering dari biasanya, ups, bulan puasa haha.

4. Jangan Kerjakan Sendiri

Salah satu yang harus disyukuri adalah suami yang mau membantu istri di rumah. Karena tidak semua suami seperti itu. Alhamdulilah suami selama di rumah aja juga semakin sering bantu ngurusin dan ajak main si kecil.

Apalagi entah mengapa semenjak punya anak, kalau puasa saya sering banget lemes tiba-tiba. Urusan cuci-mencuci pun kadang diambil alih suami. Jadi jangan sungkan minta bantuan. Apalagi kalau sudah sangat lelah, istirahatlah sekali-sekali Mak. Beli makan di luar juga enggak apa kok. 😊

5. Manfaatkan Kelas Daring

Salah satu yang positif dari keadaan sekarang adalah berjamurnya kelas-kelas gratis daring yang ilmunya banyak banget. Kapan lagi bisa belajar cukup dari rumah? Enggak perlu ke tempat les, Enggak perlu datang seminar, sudah bisa belajar sesuatu yang baru. Beberapa kelas yang saya ikuti kemarin diantaranya ada kelas SEO untuk blogger, kelas optimasi Instagram, kelas self healing, dan lain-lain. Pengen nulis rangkumannya semua tapi belum sempat, huhu (sok sibuk hehe).

6. Membantu orang Lain

Seperti yang saya paparkan di atas sebelumnya, kalau banyak orang yang mendapatkan dampak PHK atau kehilangan pencaharian saat krisis pandemi ini. Di situ membuka lebar-lebar pikiran saya bahwa saya harus banyak-banyak bersyukur karena masih bisa makan dengan cukup bahkan lebih.

Cara bersyukur yang bisa saya lakukan adalah tidak mengeluh, terus produktif, dan tidak lupa berbagi rezeki. Berbagai itu efeknya luar biasa bukan? Selain bahagia karena bermanfaat dan membantu orang lain, Allah juga menjanjikan banyak hal jika kita rajin berbagi. Hati yang tenang, kesehatan, masalah hilang, dan masih banyak lagi.

Berbagi juga menjadikan kita semakin menyadari bahwa masalah kita tidak ada apa-apanya dibanding orang-orang di bawah kita. Yes kita harus melihat ke bawah. Jangan lihat ke atas, nanti pegel, hehe.

7. Mencari Hikmah dan Solusi Setiap Kejadian

Siapa yang pernah menyangka bahwa Indonesia bahkan dunia akan mengalami masalah yang sama seperti ini? Kejadian ini akan menjadi sejarah bagi anak cucu kita kelak. Semua negara dibuat tidak berkutik karena virus yang sama sekali tidak tampak dengan mata langsung saking kecilnya. Lalu apa yang bisa kita lakukan?
dana darurat

Kita bisa melihat hikmah dan mencari solusi terbaik. Beberapa hikmahnya diantaranya, kita diminta beristirahat dulu dari keramaian, mengurangi perilaku konsumtif yang berlebih, dan lebih medekatkan diri dengan keluarga, juga kepada Pencipta. Manfaat untuk Bumi, juga akhirnya mengurangi polusi.

Untuk kedepannya sebagai jaga-jaga, kita bsia mulai belajar mengatur keuangan agar bisa menjadi pegangan di kala krisis. Bisa dengan membuat darurat sedikit demi sedikit. Yang penting mulai dulu. Siapa yang tahu apa yang akan terjadin nanti?

8. Kesempatan Merawat Diri

Selama semakin sering di rumah, otomatis semakin sering nempel sama suami dong, hehe. Dulu yang ketemu suami kadang hanya setelah Magrib (karena suami dulu sering kerja hingga petang), kini waktu bersama suami lebih banyak. Ya salah satu sisi positifnya di situ. Bisa kembali sering berkomunikasi dan saling membantu.
Akhir-akhir ini sering dipuji suami karena rambut wangi ... XD
Sebagai seorang istri, tentu penting untuk tetap menjaga kesehatan anggota tubuh, terutama bagian-bagian yang paling tampak seperti wajah, badan, dan rambut. Bukan hanya untuk tampil cantik di depan suami, tapi juga untuk diri sendiri.

Meski di rumah saja, merawat kulit wajah tidak saya tinggalkan. Sisi positif dari selama di rumah aja juga membuat kulit tidak lagi sering-sering terpapar sinar matahari. Namun meski begitu, penggunaan skincare tetap saya rutinkan di rumah.

Untuk badan agar tetap wangi saya selalu menggunakan deodorant dan kadang parfum meski di rumah. Selain untuk suami, wangi badan juga sangat memengaruhi secara pribadi dalam konsentrasi saat ingin melakukan kegiatan seperti menulis di blog. Kalau depan laptop tapi belum mandi, rasanya gerah aja gitu, hehe.

Nah untuk urusan rambut juga tak kalah penting. Meski jika di luar berhijab, dan rambut hanya ditampakkan pada suami di rumah, itu tidak menjadi alasan untuk tidak merawat rambut. Sewaktu lajang pun dulu saya sangat senang pergi ke salon hanya untuk hair creambath. Tentu saat pandemi ini, tidak bisa lagi meluangkan waktu untuk perawatan di luar.

KESIMPULAN

Menjadi seorang emak-emak adalah sebuah anugrah yang harus disyukuri. Diberi kepercayaan anak yang aktif dan lucu menambah kesyukuran kita sebagai perempuan. Namun emak juga manusia. Tidak terlepas dari nyiyir orang, tidak terlepas dari masalah yang tidak pernah lekang. Belum lagi pekerjaan rumah tangga yang seperti sambung menyambung menjadi satu. Tentu emak butuh mengisi energi kembali.

Dengan belajar berpikir positif, melakukan hal-hal positif, termasuk merawat diri, dan didukung dengan kesehatan tubuh yang baik, InsyaaAllah semua ujian bisa dilalui.

Terakhir mari kita selalu berdoa kepada Pencipta agar kita dikuatkan dalam keadaan apapaun. Semangat emak-emak! Peluk dari jauh 😘🤗

Referensi tulisan dan gambar: emeronhaircare.com

3 komentar

Jika Anda pengguna blogger, harap membuat publik profil blogger sebelum berkomentar agar tidak broken link ya.

Sebaiknya jangan anonim agar bisa saling mengunjungi ...

Komentar muncul setelah dimoderasi.
Terima kasih telah membaca dan berkomentar 😊

Salam kenal ...

  1. emeron ini oke juga di rambutku, wanginya juga enak dan harga terjangkau banget
    mumpung lebih banyak dirumah aja selama wfh, aku juga manfaatin waktu buat belajar dari kelas online, selama ini mungkin males atau nggak ada waktu. mumpung agak longgar, sesekali ikutan

    BalasHapus
  2. makasih mba buat mengingatkan untuk selalu bersyukur, berhenti mengelu, tetap produktif dan bantu sesama :)

    BalasHapus
  3. Stop melirik yang tidak perlu. Ini aku terapkan banget kak. DAripadaaaaa aku sutrisno kaaan WKwkkw. Soalnya masing-masing ibu pasti punya struggle nya sendiri ya.

    BalasHapus