Saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi, dampaknya bukan cuma hutan yang terbakar atau langit yang berubah kelabu. Asap bisa mengganggu kesehatan, meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan membuat aktivitas sehari-hari jadi serba terbatas. Anak-anak mungkin harus belajar dari rumah atau menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) ketika kondisi tidak memungkinkan untuk beraktivitas di luar. Mau belanja ke pasar, mengantar anak, atau sekadar keluar rumah pun bisa terasa lebih sulit. Emak-enak yang nyambi freelance ini pun akhinya harus menyesuaikan kembali waktu bekerja.
Belum lagi kalau kerusakan lingkungan ikut mengganggu ketersediaan air bersih. Urusan memasak, mencuci, dan memenuhi kebutuhan keluarga jadi semakin menantang. Dalam situasi seperti ini, kita jadi sadar bahwa lingkungan yang sehat bukan cuma urusan pepohonan dan satwa liar. Lingkungan juga berkaitan erat dengan kehidupan keluarga, termasuk makanan yang bisa kita sajikan setiap hari.
Kalau Gambut Rusak, Apa Hubungannya dengan Isi Piring Kita?
Gambut bukan tanah kosong yang tidak berguna. Ekosistem ini menyimpan banyak karbon dan membantu mengatur tata air. Ketika gambut dikeringkan dan rusak, risiko kebakaran meningkat. Kerusakan fungsi tata air juga bisa memperbesar persoalan lingkungan, termasuk kerentanan terhadap banjir.Lalu, apa hubungannya dengan makanan?
Kmearin aku ikut webinar bersama Eco Blogger Squad dan Pantau Gambut. Dalam materi Keragaman Biokultural, Kunci Kedaulatan Pangan dan Iklim, Kak Ahmad Arif (Jurnalis Kompas) mengingatkan bahwa pola konsumsi masyarakat Indonesia semakin bergantung pada beras dan gandum. Padahal, kita punya banyak pilihan pangan lokal, mulai dari singkong, ubi, talas, sampai sagu.
Emak-Emak Juga Bisa Ikut Menjaga Keberagaman Pangan
Coba tengok dapur sendiri. Menu sehari-hari kita mungkin hampir selalu berputar di nasi, lauk, dan sayur. Kalau tidak ada nasi, rasanya seperti belum makan. Padahal, nenek atau orang tua kita mungkin dulu terbiasa mengolah singkong, ubi, atau bahan pangan lokal lainnya menjadi makanan yang mengenyangkan.Mengenal kembali pangan lokal bisa dimulai dari hal sederhana. Kita bisa mencari bahan yang tersedia di pasar tradisional, bertanya kepada pedagang, atau menggali cerita dari orang tua tentang makanan yang biasa mereka konsumsi dahulu.
Setelah menemukan bahannya, kita bisa mencoba mengolahnya menjadi menu keluarga. Singkong rebus, misalnya, bisa dinikmati bersama urap, tempe, dan sambal. Ubi kukus juga bisa menjadi pilihan pendamping lauk dan sayuran. Yang menarik, proses ini bukan cuma soal mencoba menu baru, tetapi juga belajar mengenali kekayaan pangan di sekitar kita.
Tentu, tidak semua bahan pangan tersedia di setiap daerah. Karena itu, penting memilih bahan yang mudah ditemukan, sesuai kebutuhan keluarga, dan aman diolah.
Di Balik Pangan Lokal, Ada Cerita yang Perlu Dijaga
Pangan lokal bukan sekadar bahan makanan. Ada pengetahuan dan tradisi di baliknya: siapa yang menanam, bagaimana memilih benih, kapan waktu menanam, sampai cara mengolahnya agar enak disantap.Masyarakat adat dan komunitas lokal punya peran penting dalam menjaga pengetahuan tersebut. Ketika kita mau mendengarkan cerita petani, pedagang, atau orang tua, kita sebenarnya sedang belajar tentang hubungan manusia dengan alam.
Keberagaman pangan juga tidak bisa dilepaskan dari perlindungan lingkungan. Kita tidak bisa berharap sumber pangan terus tersedia jika ekosistem yang menopangnya rusak. Menjaga gambut, merawat keanekaragaman hayati, dan menghargai pengetahuan lokal perlu berjalan beriringan.
Mulai dari Dapur, Peduli sampai ke Gambut
Sebagai emak-emak, kita mungkin tidak bisa sendirian mencegah karhutla atau memulihkan lahan gambut. Namun, kita bisa mulai mengenali pangan lokal, mencoba variasi menu, dan mengajarkan anak bahwa makanan tidak muncul begitu saja di atas meja.Pada akhirnya, urusan lingkungan bukan hanya tentang hutan yang jauh dari rumah kita. Ini juga tentang udara yang kita hirup, air yang kita gunakan, dan makanan yang kita sajikan untuk keluarga.
Sebab, ketika gambut terbakar, yang terdampak bukan hanya alam. Kehidupan kita sehari-hari pun bisa ikut berubah. Dan menjaga masa depan pangan berarti ikut menjaga lingkungan agar anak-anak kita kelak tetap punya udara yang sehat, air yang cukup, dan makanan yang beragam untuk dinikmati.
“Menjaga gambut bukan hanya tentang menyelamatkan hutan, tetapi juga menjaga udara yang kita hirup, air yang kita gunakan, dan pangan yang tersaji di meja keluarga. Karena masa depan anak-anak kita bukan cuma tentang apa yang mereka makan hari ini, tetapi juga tentang alam yang kita wariskan esok hari."
.png)
.png)


Posting Komentar
Sebaiknya jangan anonim agar bisa saling mengunjungi ...
Komentar muncul setelah dimoderasi.
Terima kasih telah membaca dan berkomentar 😊
Salam kenal ...