Inner Child Sebagai Penghambat atau Penghebat? (Ruang Pulih Journey Part 3)

Halo, akhirnya sampai pada artikel ketiga nih terkait Ruang Pulih Journey saya. Jadi ini adalah rangkaian perjalanan saya bersama ruang pulih yang bekerja sama dengan SEO Moms dan IIDN. Artikel pertama saya bisa dibaca di sini, dan artikel kedua di sini. Sebelumnya terima kasih untuk Mbak Wiwin dan Mbak Widya yang telah menjadi perantara saya akhirnya bisa mengenal banyak orang-orang hebat yang menghebatkan. 

Untuk artikel ketiga ini saya akan menceritakan mengenai Parade Inner Child bagian ketiga yang berjudul “Inner Child Menghambat dan Menghebatkan Masa Dewasa”. Webinar ini diisi oleh Pak Adi W.  Gunawan dan Pak Asep Haerul Gani. Kira-kira apa yang akan kita pelajari di webinar kali ini? 

Pak Adi W Gunawan: Kita ini Bukanlah Entitas Tunggal

Di bagian awal Pak Adi menampilkan sebuah video seorang tentara yang disuntik dan menangis keras seperti anak kecil. Kata Pak Adi, itu adalah salah satu bentuk inner child tentara tersebut. Padahal tantara tersebut sudah dilatih keras, tempaan berat, namun kok masih bisa nangis seperti itu? Itu karena sisi inner childnya lah yang muncul. 

Pak Adi langsung melanjutkan perihal ketika kita misalnya baru bangun tidur. Ketika kita kebangun jam 4 subuh misalnya, maka akan ada berapa dari diri kita yang konflik? Ternyata ada tiga. Yaitu satu yang minta bangun, satu yang minta lanjut tidur, dan satunya lagi mengamati. Bingung? Tidak apa, namanya baru awal. 

Pak Adi melanjutkan tentang ada hasil penelitian di luar yang menyebutkan bahwa dalam diri kita, ada 16 macam ego state, atau bagian dari diri kita yang mana ternyata salah satunya adalah inner child

Inner child itu muncul bukan dari sejak lahir tapi dari sejak dalam kandungan. Itulah yang menyebabkan kita sering merasa tidak baik-baik saja tapi tidak mengingat apa yang terjadi dahulu. 

Pak Adi banyak menceritakan tentang pengalaman klien beliau yang memiliki masalah yang susah diketahui. Namun secara umum, ternyata para klien beliau memiliki inner child yang memengaruhi alam bawah sadar. Hal tersebut dapat diketahui dengan adanya perasaan tidak nyaman yang muncul tapi tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan alam bawah sadar. 

Inner child yang melekat dan membuat trauma bisa membuat kita menghambat di masa dewasa. Seperti susah cari jodoh, susah punya anak, dan masih banyak lagi. 

Pernah beliau punya klien yang pengen nikah tapi meski sudah 2x di depan penghulu dia tetap batal nikah. Pak Adi menyimpulkan kemungkinan ada inner child yang terluka. Beliau coba proses dengan mencari akar masalah, ternyata dia ada pengalaman (maaf) diperkosa pas usia sekitar 7 tahun dan tidak ada yang tahu. 

Diri yang terluka menjaga dia. Jangan sampai dia dilukai lagi. Alam bawah sadarnya menghalanginya untuk menikah. Setelah diproses PaK Adi alhamdulillah clear. Sama dengan phobia atau kinerja diri kita yang tidak bagus, kemungkinan itu berasal dari inner child

Sebenarnya untuk berkomunikasi dengan inner child ini kita bisa melakukan sendiri, tapi kebanyakan butuh bantuan. Inner child itu tidak boleh dikasari, dipukul, dihilangkan maupun dibekukan. Ada tahapan dan prosesnya. 

Sama halnya ada seorang dewasa yang susah sekali belajar Bahasa Inggris, kemungkinan dia trauma karena diejek dan sebagainya. 

Asep Haerul Gani: Psikodinamika Inner Child dalam Pernikahan

Pemateri selanjutnya pada webinar ketiga adalah Pak Asep Haerul Gani, seorang Alumnus Psikolog UI. Tema selanjutnya adalah mengenai inner child yang berkaitan dengan pasangan. Kata beliau, dalam sebuah pernikahan, biasanya akan ada psikodinamika inner child

Pertengkaran suami istri itu bukanlah berasal dari 2 orang saja, tapi dari banyak kepribadian. Bisa jadi bagian diri sisi istri yang A, bertengkar dengan bagian dari sisi suami yang B. Atau besoknya bagian istri C, bertengkar dengan bagian suami A. 

Beliau langsung memaparkan tentang pengalaman beberapa kliennya. Salah satunya adalah suami istri yang sudah menikah 8 tahun namun belum memiliki anak. Namun ini bukan karena sudah berusaha atau ada yang tidak bisa dalam hal medis, melainkan mereka tidak pernah berhubungan suami istri selama pernikahan. Kaget? Sama. 

Muncul pertanyaan di kepala, "kok bisa ya?" Akhirnya si istri itu minta cerai karena tidak tega lihat suaminya. Mereka akhirnya konsultasi, dan menceritakan beberapa kejadian kenapa tidak bisa berhubungan. 

Ternyata si istri setiap didekati suami selalu berteriak histeris bahkan sejak malam pertama. Bayangin lho baru nikah tiba-tiba teriak. Namun itu tidak hanya berlangsung sekali, tapi terus menerus selama 8 tahun. 

Akhirnya Pak Asep melihat bahwa si istri punya trauma masa kecil. Dulu dia pernah melihat bapaknya saat duduk di teras bersama temannya, kemudian teman bapaknya tersebut menembak mati bapaknya tepat di hadapannya. 

Temannya bapaknya langsung kabur. Dia si anak kecil yang menjadi saksi langsung memeluk bapaknya saat itu. Dia ingat bau parfumnya sama dengan bau parfum suaminya. Namun sebelumnya dia tidak pernah sadar. Oleh karena itu dia teriak setiap suaminya mendekati. Akhirnya setelah pengobatan, mereka akhirnya memiliki anak. Alhamdulillah.

Penutup

Mengikuti webinar ketiga ini semakin menyadarkan saya ternyata masalah dan penyakit itu bukan hanya berasal dari hal yang dapat terlihat (fisik), tapi bisa juga berasal dari dalam diri kita yang kita tidak sadari. 

Itulah bahayanya jika kita tidak mengetahui trauma alam bawah sadar kita, karena bisa tiba-tiba kita mengalami atau merespon hal dengan cara yang yang berbeda dari biasanya. Itu bisa saja inner child kita yang terluka. 

Cara pengobatannya adalah mengasuh ulang, dan menjadikan pengalaman inner child kita sebagai pacuan dan penghebat di masa dewasa. Banyak yang meski masa kecilnya penuh trauma, namun bisa tumbuh luar biasa di saat dewasa. Jadi maukah kita menjadikan inner child sebagai penghambat atau penghebat? Pilihan ada pada diri kita. 

Ilustrasi: unsplash.com

Next Post Previous Post
1 Comments
  • Devina Genesia
    Devina Genesia 9 Okt 2021 01.08.00

    Inner child emang perlu untuk dikenali. Bukan semata-mata mengorek luka masa lalu tapi jadi ajang utk berdamai.

    Makasihh kak atas tiga tulisan seputar healing ini. Jadi bagian refleksi juga untuk aku. Khususnya sambil mengenali inner child sendiri.

Add Comment
comment url