BlogKakTri
Lifestyle Blogger, Talk About Blogging, Parenting,Traveling, Tips, Review, and Lifestory by Triyatni Ashari

Tentang Child Free Menurut Psikolog dan Pengalaman Hidup Kak Seto (Ruang Pulih Journey Part 5)

“Childfree, Dipilih dengan Luka atau Kesadaran?” Tanyakan pada diri, betulkah ini yang diinginkan?

Alhamdulillah kita sampai pada artikel kelima. Di artikel ini, kita akan mengulas parade kelima webinar mengenai inner child yang berjudul "Inner Child Bahagia, Dewasa Bermakna". Untuk webinar kali ini, Ruang Pulih mengundang salah satu tokoh yang pasti hampir seluruh orang Indonesia tahu, beliau adalah Kak Seto Mulyadi. Selain beliau, ada juga Mbak Anggun Meylani Pohan, seorang psikolog yang hebat.

Bagi yang baru baca ini, ini adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Ruang Pulih yang bekerjasama dengan IIDN dan SEO Moms juga beberapa Coach yang berpartisipasi. Jadi kami para bloger mendapat kesempatan untuk belajar dan dibimbing secara khusus agar bisa bertumbuh lebih baik. 

Terdapat 5 parade webinar luar biasa untuk mengenali inner child dan memaksimalkan potensi diri. Sebelumnya saya sudah menuliskan 4 rangkaian parade lainnya, bisa dibaca di sini:

1. Inner Child Healing (Ruang Pulih Journey Part 1)

2. Memberi Makna dan Mengatur Frekuensi yang Tepat (Ruang Pulih Journey Part 2)

3. Inner Child Sebagai Penghambat atau Penghebat? (Ruang Pulih Journey Part 3)

4. Tentang Memaafkan dan Healing Process (Ruang Pulih Journey Part 4)

Nantinya juga saya akan mengulas buku Luka Performa Bahagia yang ditulis oleh Mbak Intan selaku founder Ruang Pulih dan Mas Adi Prayuda. Saya juga akan menceritakan sedikit perkembangan saya mengikuti event ini. Namun untuk kali ini, kita akan khusus membahas apa yang ada di parade kelima kemarin. 

Sharing Kak Galih Wijaya

Sebelum masuk ke pemateri, webinar ini dimulai dengan diputarnya lagu anak-anak Doraemon. Rasanya ada kesenangan sendiri ketika menyanyikan lagu tersebut. Betapa ceria dan bahagia suasananya. Acara selanjutnya ada sesi sharing dari Kak Galih Wijaya, seorang pemimpin redaksi salah satu situs berita terkenal di Indonesia. 

Beliau bercerita bahwa masa kecil beliau sungguh di bawah tekanan. Ketika kecil, beliau sering dipukuli orang tuanya. Dimasukkan sekolah pada saat usia yang belum cukup juga, akhirnya dia sering dirundung dan dianiaya teman-temannya yang lebih besar. 

Oleh karena itu, dia mengalami yang namanya rasa takut dan cemas kepada orang yang lebih besar, atau seorang yang memiliki kekuasaan atau pemimpin. 

Lama-kelamaan, dia akhirnya bertemu seseorang yang mengajaknya untuk berpikir kembali. Mengenali sosok anak kecil di dalam dirinya, dan membahagiakan anak kecil tersebut. Beliau berusaha untuk berbincang, membelikan mainan kesukaan inner childnya, dan menanyakan apa yang ditakuti. 

Dia mengakui dia takut dengan orang yang memiliki kekuasaan, akhirnya dia punya solusi agar bagaimana kalau dia yang menjadi pemimpin. Akhirnya beliau bekerja keras memiliki usaha sendiri, self employee dan akhirnya menjadi pemimpin redaksi. 

Dia meyakini perubahan bisa terjadi selama kita memahami dan tahu bagaimana mengatasi masalah inner child. Hebat ya masyaaAllah ...

Sharing Coach Anggun Meylani Pohan

Pada materi pertama dibawakan oleh Coach Anggun. Tema materi cukup menarik dan sempat viral juga kemarin. Di judul slide yang Coach paparkan tertulis “Child Free, Dipilih dengan Luka atau Kesadaran?”

Saya termasuk orang yang tidak ikut bicara apapun atau membahas soal ini. Perihal ini sangat sensitif menurut saya. Tapi di publik saya lihat memang terdapat banyak perbedaan dengan alasan yang berbeda pula.

Menurut psikolog Coach Anggun sendiri, beliau ingin memastikan bahwa kita memang bebas memilih, tapi kita tidak akan pernah terbebas dengan konsekuensi atas pilihan yang kita ungkapkan karena kita adalah makhluk sosial. Jadi harus siap dengan komentar para netizen. 

Yang paling penting adalah, keputusan apapun yang dibuat, kita harus menyadarinya. Bukan karena luka. Seimbangkan antara otak dan hati. Sayangi diri. Tanyakan pada diri, betulkah ini yang diinginkan?

Jika ada masalah, kita bisa langsung maju, tenang dulu, atau ingin langsung mundur. Pahami maknanya. Utamakan juga untuk sering mengulang momen bahagia. Kita sering menghitung seberapa banyak duka, tapi kita lupa berapa banyak bahagia. Coba belajar hitung rasa syukurnya, bukan rasa lukanya. Setiap hari, bangunlah dengan perasaan senang. Kalau perlu tuliskan, apa hal hebat yang ingin kita lakukan hari ini. 

Alasan-alasan mengapa orang memilih child free (tangkapan pribadi)


Menurut Coach Anggun, berikut beberapa poin penting Child Free yang harus diperhatikan:

1. Jangan karena masalah keuangan. Jangan sampai pilihan child free karena takut akan finansial di masa depan. Itu sebuah alasan yang keliru. 

2. Jangan membenci anak-anak. Oprah merupakan seorang penganut child free. Namun alasan beliau karena merasa seluruh anak-anak di dunia adalah anaknya. Beliau banyak gabung komunitas pencinta anak. Jangan sampai child free membuat kita menjauhi semua anak-anak. Sebagai seorang teman juga, jika kita punya kawan yang child free, bukan berarti dia tidak paham anak-anak, atau tidak diajak ke acara yang berkaitan anak-anak.  

3. Mengajak orang lain ikutan child free. Jika ada di sekitar kita memilih untuk mempunyai anak, jangan dipengaruhi untuk child free.

4. Tidak ada penyesalan di akhir. Jangan sampai di masa tua menyesali keputusan child free. Saya pernah mengikuti sebuah sharing penulis yang memilih hamil di usia 38 tahun karena sempat menginginkan child free sebelumnya. Namun kemudian merasa kesepian, berubah pikiran dan menanggung risiko hamil di usia tua. Tapi wajar setiap orang pasti bisa berubah.

5. Kehilangan fase kehidupan. Memiliki anak adalah salah satu fase kehidupan yang luar biasa. Kita harus sadari ketika tidak memiliki anak berarti siap kehilangan salah satu fase kehidupan. 

Terakhir, perlu diketahui bahwa child free dan child less berbeda. Child free tidak mau memiliki anak karena pilihan, sedangkan jika tidak memiliki anak karena bukan keinginan, namanya child less. Doa saya, siapapun yang memilih child free, semoga itu pilihan terbaik yang bisa membahagiakan. Bagi yang masih merindukan garis 2, semoga disegerakan. Aamiin. 

Pengalaman Hidup Kak Seto Mulyadi

Coach Seto adalah sosok yang dikenal sangat mencintai anak-anak. Dari usia muda hingga saat ini, beliau masih aktif untuk melindungi anak-anak. 

Beliau mengatakan, sejak dulu kita selalu diseragamkan. Yang cerdas itu kalau pintar matematika, sedangkan yang pintar gambar saja tidak dikatakan cerdas. Padahal, pada dasarnya, jenius itu terdapat pada bidang yang berbeda. Kita tidak bisa bandingin Ronaldo yang jago bola dan Einstein yang jago fisika. 

Kak Seto sendiri memiliki saudara kembar. Jujur saya baru tahu. Katanya, beliau sering dibandingkan dengan saudara kembar beliau. Kak Seto bahkan mendapat peringkat 3P. Paling buruk, paling bego, dan paling jelek pada saat kecil. 

Pengalaman hidup Kak Seto pun luar biasa. Sempat pisah hidup dengan keluarga, jadi gelandangan, disiram satpam, jadi office boy, dan gagal masuk ke kedokteran. 

Beliau akhirnya berusaha memulihkan diri. Ingat hal yang bahagia. Ada luka, tapi pasti ada yang positif. Kata Ibu beliau yang masih terngiang “ Kamu jelek enggak papa, tapi kalau senyum, akan membuat orang jadi tertarik.” Beliau juga dulunya gagap. Kini akhirnya beliau bisa menemukan kekuatan diri. 

Kita harus memahami diri, apakah sudah terbebas dengan luka atau belum. Cara tahu kita terluka dan tidak bagaimana? Cirinya adalah kita enggak pede, selalu nyalahin orang lain, dan enggak percaya orang lain. Padahal kita bisa berdialog dengan diri sendiri atau minta bantuan agar pulih. 

Beliau juga mengatakan, bukan bahagia baru bersyukur, tapi bersyukur baru bahagia. 

Yang paling bikin saya wow banget saat beliau mengungkapkan kalau beliau masih aktif olahraga sampa push up setiap hari. Padahal usia beliau sudah tidak lagi muda. Ya, beliau sudah 70 tahun.  

Katanya, beliau punya tips agar tetap fit di usia tua. Beberapa tips disatukan dalam kata GEMBIRA, yang maksudnya:

  • Gerak, jangan mager (seperti beliau yang setiap hari push up 80x, dan lompat 50x sebagai obat jiwa)
  • Emosi dikelola dengan cerdas. Marah cerdas diungkapkan jangan banting pintu dll.
  • Makan dan minum teratur yang sehat
  • Bersyukur (Saat banjir 3 meter misalnya tetap bersyukur, susut juga bersyukur, kenikmatan bisa bersama keluarga)
  • Istirahat, kita perlu istirahat  cukup (tidur lupakan pikiran negatif)
  • Rukun dalam keluarga maupun teman. Ingat, satu musuh terlalu banyak, sedangkan seribu teman kurang
  • Aktif berkarya (buat lagu puisi dll, bisa mengobati luka-luka)

Penutup

Setiap orang, memiliki pilihan hidup yang tidak bisa kita konfrontasi hanya karena berbeda. Selama pilihan tersebut tidak merugikan orang lain, maka berarti itu bukan sesuatu yang bisa kita perdebatkan. Meski setiap orang memiliki nilai sendiri-sendiri. Coach Anggun sudah memaparkan secara objektif, tentang pilihan child free atau tidak. Pastikan memilih bukan berdasarkan luka atau trauma, tapi karena kesadaran diri itu yang terbaik. 


Adapun dari Kak Seto yang selalu tampil awet muda, kita bisa belajar bahwa kebahagiaan itu bisa diciptakan. Meski pengalaman hidup beliau cukup keras, tapi beliau mampu mengambil hikmah dan akhirnya berkontribusi untuk orang lain. Terakhir, semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa menjadi jalan untuk memulai pulih, aamiin.

16 komentar

Jika Anda pengguna blogger, harap membuat publik profil blogger sebelum berkomentar agar tidak broken link ya.

Sebaiknya jangan anonim agar bisa saling mengunjungi ...

Komentar muncul setelah dimoderasi.
Terima kasih telah membaca dan berkomentar 😊

Salam kenal ...

  1. Childfree emang masih tabu banget di Indonesia, tapi aku harap, semua orang dapat memilih jalan hidupnya sendiri.

    BalasHapus
  2. Dulu sempat dengar sih kalau Kak Seto itu kembar, tapi ga yakin. Nah sekarang abis baca blog Kak Tri jadi percaya wkwkwk.

    Boleh juga tips awet muda ala kak Seto ya dengan GEMBIRA, tapi emang mantul lah. Dari dulu muka kak Seto segitu-gitu aja ya.

    BalasHapus
  3. Masya Allah tabarakallah ❤️ sharingnya daging banget kak, banyak hal yang belum aku tahu kalo aku yakin sih kita harus tetap mempersiapkan kehamilan karena punya anak tanggung jawab dunia akhirat. Soal child free aku ga bisa judge gimana2 karena aku gatau hidup orang gimana, semoga kita sehat jiwa raga ya

    BalasHapus
  4. Kebahagiaan bisa diciptakan, jangan hanya pikirkan lukanya tapi pikirkanlah senangnya.. Semoga semua orang bisa menemukan bahagianya sendiri-sendiri dan hidupnya lebih bermanfaat dan berwarna

    BalasHapus
  5. salah satu yang selalu aku ingat dari tulisan ini adalah sealalu bersyukur.. Seperti kata kak Seto, btw aku juga baru tau mba kalau kak Seto punya saudara kembar :D

    BalasHapus
  6. Child free ini sekarang rame banget ya buat dibahas. Banyak faktor sih buat yang menganutnya, sebagai sesama sih yang pengen gak julid aja. Hehe

    BalasHapus
  7. Hmm, kalau soal penyesalan mungkin yang mengambil keputusan berpendapat bahwa tiap orang bisa berbeda dan yakin nanti bisa mengatasinya tanpa rasa bersalah atau menyesal ya. Tapi memang manusia itu sendiri juga terus berkembang dan berubah, sih. Bisa saja terjadi pergeseran cara pandang nantinya seiring berjalannya waktu

    BalasHapus
  8. setuju banget dengan semua "jangan"

    terlebih : Jangan karena masalah keuangan.

    karena seperti gak percaya Allah yang pasti akan memberi rezeki

    BalasHapus
  9. ya ampun kok aku terharu yaa, ngga nyangka dlu kak seto punya pengalaman yang pahitt gituu :(( kasian. Jadi bertanya2 dimanakah saudara kembar kak seto sekarang? hehehe

    BalasHapus
  10. benar sekali bahagia itu diciptakan oleh diri kita sendiir, aku punkorban penyeragaman mbak, kalo anak pinter ya masuk IPA sering kali stigma macam inii membuat para ortu berlomba2 untuk membuat anaknya jadi anak ipa, padahal kalo dilihat r kecerdasan anak itu minatnya bermacam2.

    ttg dhildfree, meski sejujurnya akupun kurangs epakat tapi setiap orang dg segala keputusan yg mereka ambiltentu sudahmempertimbangkan yg penting g cuma skedar trend

    BalasHapus
  11. Masyaallah tulisannya kak tri bagus. Aku jadi berasa ikutan acaranya juga ini banyak insight.

    BalasHapus
  12. Iya bener, itu kembali ke pilihan setiap pasangan masing masing. Apapun keputusan yang diambil semua ada resikonya yang harus kita emban tanggung jawabnya. Maka dari itu penting untuk dipikirkan dengan matang

    BalasHapus
  13. Wah dalam yaa rupanya pembahasan tentang child free ini, sejujurnya pilihan masing-masing ya asal jgn mempengaruhi orang lain itu tadi setuju akuu :)

    BalasHapus
  14. Setiap orang punya pilihannya masing-masing menurutku. Dan tak bisa bicara banyak juga mengenai child free ini. Mengenai inner child, apakah luka saat kecilku belum sembuh, itu yang menjadi pertanyaan sampai kini

    BalasHapus
  15. Karena itu saya gak ikutan waktu banyak yang protes pada keputusan Gita Sav

    Gak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan, sekarang mungkin child free, beberapa tahun kemudian mungkin keputusan nya berubah

    BalasHapus
  16. Halo kak tri, ikut komen setelah scroll Twitter kak tri, hahahaha. Aku pernah tulis juga soal child free, dari segi pemahamanku tentang ini dan dikaitkan dg agama yang juga aku yakini. I Don't blame people who had choice dg child free seperti gitsav atau salah satu temen deketku. Gak berhak menghakimi juga ntah karena masalah finansial atau trauma. Tapi klo temen deketku aku tau alasan utamanya dan aku maklum. Tapi apapun alasannya, there must be a reason which we never know. So there no judgement, aku mensupport? Iyess. Selama itu bagus untuk mereka ( pasangan), dan aku setuju dg kak tri, mereka gak menyesal dan gak anti anak anak. So, i hope ya semua gak ngjudge ato julid apalagi dikaitkan dg agama dan labeling haram dan berdosa. Itu aja sih kak Tri. Salam sehat selalu yaaa

    BalasHapus